Friday, July 28, 2017

Teruntuk Wanita Kesayangan

Hasianku
Hei...

Wanita kesayangan.

Kamu masih ingatkah bagaimana optimisnya dirimu saat akan pergi meninggalkanku?

Aku bahkan waktu itu tak seoptimis dirimu. Karena aku anggap hubungan LDR adalah hal yang tidak masuk akal. Ditambah lagi pengalaman-pengalaman pahit yang kudengar dari cerita teman-temanku dan juga dari beberapa buku bacaan yang sempat aku baca. Walaupun tidak sebanyak yang kamu kira, tapi itu cukup membuatku sangat ketakutan.

Berkali-kali kau yakinkan Aku. Hingga Aku benar-benar merasa siap untuk menjalaninya bersamamu.

Aku melihat kesedihan di matamu waktu itu, dan Aku tidak mau kau pergi dengan penuh keraguan karenaku.

Aku tau juga bagaimana semangatmu untuk meniti karir di tempat yang akan kamu tuju waktu itu. Aku juga paham betul dorongan semangat keluarga yang kamu bawa bersamamu.

Yah... Menjadi anak perempuan pertama (Boru Panggoaran) itu memang penuh dengan tanggungjawab. Dipundakmu, aku tau bebannya sangat berat.

Merelakan kepergianmu itu sangat dilematis. Antara keluarga dan Aku yang belum menjadi siapa-siapa dalam seluruh rangkaian kehidupan yang kau jalani selama ini.

Aku sama sekali tak ingin menjadi sandungan dalam cita-cita dan juga niatmu untuk sukses yang lebih besar, bahkan melebihi rasa cintamu kepadaku yang selama ini kuanggap sudah sangat besar.

Setiap saat, Aku jalani waktuku dengan penuh rasa optimis, bahwa cintamu takkan pudar betapapun besarnya tantangan yang akan kau temui ditengah perjalanan sampai akhirnya kita akan dipertemukan kembali.

Namun, Aku tak mengira kalau tempat yang akan kamu tuju lebih parah dari yang aku bayangkan. Tidak ada sinyal, WIFI dan tidak ada yang Aku kenal disana.

Aku mengenalmu sebagai orang yang tidak pernah komplain dengan seluruh kegiatan-kegiatanku, dan bahkan kamu sering meminta ikut bersamaku dalam beberapa kegiatan. Aku menyukai sikapmu yang sedemikian, karna aku anggap kau sudah memahamiku lebih dari yang aku tau.

Hei... Harapanku masih sebesar yang dulu, saat terakhir aku menatapmu dari kejauhan di Bandara Kualanamu. Kau lambaikan tanganmu disertai senyum yang begitu manis.

Harapan itu yang membuatku merasa sebagai laki-laki yang sangat sempurna.

Setiap mengingatmu, seluruh pikiran dan hati sangat merindu, berharap kau tiba-tiba hadir disisiku.

Semua terbalik, bahkan saat itu datang, aku tidak bisa menelfonmu, bercerita tentang pekerjaanmu, kegiatanku dan mendengar suaramu. Kenapa begitu sulit menjalaninya?

Aku tau, kaupun selalu berusaha menghubungiku dari sana. Tapi terkadang waktu tidak tepat. Kadang Aku lagi sibuk, atau lagi dalam perjalanan diatas motor. Atau jika aku telfon balek, hanphonemu sudah tidak aktif.

Rasa sedih yang kau dapat ketika telefonmu tidak kujawab dapat kurasakan. Tak jarang juga kita berselisih paham karena itu.

Hasian...

Sampai hari ini, Aku berterimakasih sama Tuhan, karena masih diberi kekuatan untuk tetap menunggumu, dan rasa cintaku yang sudah berbeda, bedanya semakin bertumbuh dan semakin besar terhadapmu. Kuharap kau juga begitu.

Aku menikmati hari-hariku ini dalam penantian yang panjang ini. Atau, aku yang akan menemuimu suatu saat nanti.

Semoga pertemuan kita kembali kedepannya dipenuhi dengan rasa cinta yang semakin besar.

Jangan pudar semangatmu meski kenyataan hidup dan perjalanan cinta tak seindah yang kau impikan.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon