Friday, July 21, 2017

Malam Yang Selalu Kunanti

Bulan Dimalam Hari
Siporsuk Na Mamora - Kumulai tulisan ini dengan enam baris susunan kalimat, yang sayapun masih ragu apakah ini layak dikatakan puisi atau tidak. Silahkan Anda menilai sendiri :

Sore selalu dinanti, malam selalu ditunggu.
Berharap ada kabar selalu dari seberang pulau.

Kabarnya gimana, sedang apa, dan
Masihkah memendam rasa rindu?

Seperti saat dulu kita selalu merasa rindu,
Meski jarak begitu dekat dan selalu bersama.


Malam ini hatiku merasa perih yang luar biasa, ketikaku teringat pada sang pujaan hati yang jauh di negeri orang, dipulau seberang. Meniti karir, bekerja setelah menyelesaikan study.

Ini wanita menurutku dulu sangat aneh. Sering sedih saat dibilang tidak cantik, namun malah semakin mendekat. Kelebihannya -menurutku- tidak banyak, hanya saja dia bisa membuatku lupa pada beban fikiran saat bersama dan menatapnya berlama-lama.

Orang bilang, mengikat hati cewek itu harus romantis, sementara saya tidak tau bagaimana caranya menjadi romantis. Namun tetap saja dia semakin mendekat, baik, peduli dan perhatian terus menerus.

Dalam hati aku berbisik. Anak ini kurang ajar betul, nggak tau apa kalau hatiku bisa cepat-cepat jebol kalau begini terus? Lantas, apa dia nanti mau bertanggungjawab?

Saya coba sekuat tenaga untuk membentengi diri. Dengan semua cara, tidak mau perhatian, cuek dan sesekali kubisikkan, "kau jauhi aku, karna aku tidak sebaik yang kamu lihat!".

Tetap saja semakin mendekat.

Aku coba bertahan lagi dengan menyampaikan semua keburukan dan sisi negatif dari diriku. Namun masih gagal juga. Luar biasa bandal.

Pernah terlihatku kegirangan diwajahnya, saat aku memberi perhatian sedikit, bahkan menurutku itu bukanlah perhatian istimewa sebagai seorang yang memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Namun, dia memaknainya sebagai kepedulian yang luar biasa yang membuat hatinya bahagia dan berbunga-bunga.

Seorang teman menegurku, "jahat kali kau bah... Dia udah baik kekgitu, kau abaikan terus!", lalu aku jawab, "peduli amat, dia yang jugul (id - bandel), udah tau aku nggak ada rasa, ngapain masih dekat?".

Kemudian kawanku berkata lagi, "Ya kau coba buka hatilah, mana tau dia lebih baik dari sekedar yang ada dalam bayangan mu. Paling tidak dia tulus sayang sama kau".

Nasehat itu ku abaikan saja, karena aku juga sudah merasa mati rasa, atau dengan kata lain tidak tertarik berpacaran lagi, maunya menikah saja nanti kalau udah nemu. Pacaran itu bikin capek, terikat dan menambah beban fikiran. Mikir diri sendiri aja udah capenya minta ampun, apalagi ditambah satu lagi anak orang.

Bukan hanya itu, berpacaran itu rasanya rumit sekali. Belum lagi kita nanti bisa cemburuan, harus nyiapkan waktu bersama, selalu serba harus ngasih kabar, menjawab pertanyaan-pertanyaan "Dimana? Lagi apa? Udah makan? Dll". Kalau nggak dijawab, urusannya bisa panjang.

Waktu itu, bebas itu rasanya segalanya, kita nggak perlu lapor-lapor posisi, lapor-lapor setiap jadwal makan. Kita juga tak perlu ragu mau duduk dan pergi bersama siapa saja. Pokoknya bawaannya happy saja.

Semua pikiran itu kusampaikan sama dia, maksudnya supaya dia bisa jaga jarak dan menjauh. Pikirku bahaya kalau saya nanti yang terbawa rasa, apalagi belum terbiasa latihan rasa, pasti nanti kalau sempat pertahanan hatiku jebol, aku dibuat susah olehnya. Atau, bisa mati aku dibakar rasa cemburu, karena memag betul-betul belum terlatih.

Hitung-hitunganku meleset jauh, dianya malah semakin dekat menurutku.

Lama-lama, saya malah mulai merasa tidak nyaman lagi dengan kesendirianku. Saat banyak fikiran, saya mulai mengajak bertemu, maksudku supaya sejenak bisa keluar dari kepenatan fikiran ini. Bercanda atau sekedar melihat dia mengerjakan tugas-tugas sikripsinya.

Hei... Ini sudah gawat. Saya sudah mulai ketergantungan dengan perhatiannya.

Pernah sekali, saat aku drop karena begadang kelamaan, sakit, mual dan demam. Tapi belum sampai harus masuk rumah sakit. Dia kudatangi dan kubikang aku sakit, pengen istirahat. Saat itu dia merawatku, membelikan nasi dan obat, mengompres keningku, sampai aku merasa baikan.

Ini sesuatu yang baru saya rasakan dari seorang wanita yang benar peduli. Lambat laun, saya memang merasa nyaman dengannya. Mendengarku sakit saja, dia pasti paniknya luar biasa.

Seperti itu seterusnya, perhatiannya yang dulu kuanggap berlebihan, sekarang menjadi suatu hal yang ingin selalu kudapatkan. Akupun mulai membalas dengan seadanya, tergantung mut dan waktu. Kadang aku menolak meski dia sangat butuh. Tapi yang pasti sudah mulai saya merindukannya, meski waktu itu gampang saja, tingal sms lalu bertemu.

Semangat hidupnya sangat tinggi, aku bahkan mulai ketakutan jangan sampai dia menjadi terpuruk hanya karena tingkahku yang selalu berlaku cuek padanya. Apalagi masa itu, dia sedang dalam proses penyelesaian skripsi, sebisanya saya usahakan memberi bantuan yang dia butuhkan.

Karena kebaikan itulah juga, saya mulai berfikir kalau saya hanya akan membuatnya sedih dan terpuruk. Yang pasti, saya tidak akan bisa memenuhi hatinya dengan perhatian dan kepedulian. Lalu saya bisikkan lagi, "Saya tidak sebaik yang kamu fikir, kau cari saja yang lebih baik dariku. Kalau bertahan juga, nanti kamu pasti banyak sakit hatinya". Namun hati kecilku berkata, "Ya Tuhan, jangan sampai dia menemukan yang lain".

Setiap kali, kami mulai pergi bersama, dia selalu ingin ikut, pengen selalu kukenalkan kepada teman-temanku. Namun aku selalu menolak, meskipun pada akhirnya ngikut-ngikut juga salam berbagai kegiatanku, nongkrong dan berbagai kegiatan lain. Sering sekali dia bersedih, karena merasa tidak mendapat pengakuan.

Setahun berlalu, dan kamupun harus berpisah oleh karena keinginan untuk cepat bekerja. Saya tetap stay di Medan dan dia stay di Kalimantan.

Setahun, bagiku itu sangat lama. Namun tak terasa juga, hubungan jarak jauh yang kami jalani sampai sekarang sudah lewat satu tahun.

Dibulan-bulan ke 9 dan ke 10, saya mulai merasakan ada sesuatu yang lain, tidak sehangat dulu lagi saat dia menelfonku yang hanya bisa 1 kali dalam 1 minggu, karena sinyal yang tidak ada ditempat dia bekerja. Sampai suatu hari, saya benar-benar terbawa mimpi. Dalam mimpi itu, saya mendapat pesan dari seorang laki-laki, yang mengatakan bahwa dia telah berpacaran dengan pacarku ditempat dimana mereka sama-sama bekerja. Mimpi ini kusampaikan kepada dia, dan menjawab bahwa dia masih tetap setia kepadaku.

Akantetapi, aku sudah merasa ini kekhawatiranku kelewatan, dan merasa nyata sekali.

Pada akhirnya, ketakutanku memang jadi kenyataan, pesan saya terima dalam bentuk foto yang menggambarkan adanya sebuah kedekatan diantara mereka.

Hancur leburlah perasaanku, sama sekali tidak terdefenisikan sakitnya. Saya coba tahan juga tidak bisa.

Kawan, ini memang sedikit lebay... Tapi saya ingin menuliskannya, berharap kesesakan dihatiku sedikit terlonggarkan.

Tak tau harus bagaimana lagi, hatiku hancur betul dibuatnya, tapi bukan benci.

Malam ini sudah hampir genap sebulan saat aku menerima pesan itu, tapi hatiku tidak bisa juga menerima. Aku masih saja berharap bahwa dia mencintaiku seperti yang dulu, merindukanku tiap hari dan mengkhawatirkanku. Berharap kenyataan bahwa dia telah berpacaran dengan orang lain hanya sebuah mimpi belaka.

Aku selalu menantikan sore hari, berharap agar dia menelefon atau mengirimiku pesan. Malam juga kutunggu-tunggu, berharap juga dia menelefon dan mengirimiku pesan. Seperti bulan-bulan sebelumnya.

Semua rasanya hambar, tidak bisa tidur dan makan tidak selera.

Saya tidak tau kemana akhirnya hubungan ini. Harapanku untuk bisa bersamanya selamanya juga telah hancur lebur. Impian, janji-janji dan kenangan bersama sangat menyiksa hati, pikiran dan menguras energi.

Menunggu dimalam hari, pagi muncul lagi...

Menjelang paginya, dan saat bangun dari tidur -kalau tertidur- itu rasanya seperti neraka! Sedih... Tersiksa... šŸ˜¢

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon