Saturday, October 22, 2016

LAUTAN JUBAH PUTIH PEMBAWA PETAKA


Sumber : Google
Siporsuk Na Mamora : Kehidupan akan terus berjalan, bak roda pedati kadang di atas dan kadang dibawah. Setidaknya saya juga teringat dengan kata seorang bijak yang namanya saya lupa bahwa sejarah atau momentum akan selalu berulang, hanya ruang dan waktu yang berbeda.

Kita belajar dari masa lalu di tempat yang berbeda tetapi dari gejalanya bisa kita terawang akan terjadi di tempat atau negara yang kita singgahi ini dan mengambil makna dari sebuah kejadian untuk mengantisipasi kejadian itu terjadi kembali di Republik yang kita cintai ini.

Dulu di tempat nenek moyang saya ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja yang begitu gagah dan namanya santer sampai ke kerajaan-kerajaan di Nusantara, beliau adalah seorang pimpinan spritual, bukan raja yang sekedar menduduki tahta untuk memerintah dari atas kebawah dan mengambil pajak, dalam rekam jejaknya bahkan tidak pernah terdengar isu korupsi seperti yang lagi marak di Sumatera Utara akhir-akhir ini (*jangan sampai 3 kali gubernur dan walikotanya ditangkap ya...).

Negeri yang dipimpinnya ini dulu dinyatakan lebih siap bermetamorvosis menjadi sebuah negara seperti yang kita kenal hari ini. Setidakya itu terdengar walaupun belum menjadi study atau artikel dari seorang professor.

Hanya berselang tiga tahta dari Ompu Raja Sisingamangaraja XII yakni di tahun 1818-an, seorang Batak (Pongkinangolngolan/Tuanku Rao) dan Tuanku tambusai baru kembali dari pendidikan militernya di negeri orang, lalu datang ke Tanah Batak sebagai panglima perang Padiri/Padri.

Tentu ada pertanyaan dalam benak saudara/i sekalian, apa hubungannya dengan “Jubah Putih?”, tentu sangat berkaitan, dalam buku Sibarani, S berjudul “Perjuangan Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII” digambarkan perang padri dengan teramat ngeri bahkan dikatakan perang tersebut adalah sejarah paling kelam dalam perjalanan peradaban Bangsa Batak, orang-orang dari aliran wahabi datang dengan jubah-jubah putih ibarat seperti air bah.

Perang ini berakhir pada pembunuhan Raja Sisingamangaraja X dan setelah itu muncul wabah kolera dan campak, hampir semua orang menjerit dan hingga sampai pada mundurnya para jubah putih itu kembali ke asalnya di daerah selatan yang berafiliasai pada kerajaan Bonjol di Sumatera Barat.

Dalam analisa saya, kejadian ini tidaklah murni untuk menyebarkan agama, tetapi juga soal penguasaan wilayah dan kekayaan alam, mungkin bisa disebut gerakan keagamaan yang ditunggangi politik untuk menguasai tanah Batak dan terbukti dengan terbunuhnya Raja Sisingamangaraja X. Tentu bukan hanya sang raja junjungan yang  meninggal, ada puluhan ribuan orang yang meninggal serta puluhan ribu menderita akibat kejadian perang padri.

Kejadian yang terjadi minggu-minggu terakhir ini sangat mengusik pikiran dan hati saya, jika di tanah Batak itu sudah menelan korban atas nama penyebaran agama sebanyak pulihan ribu dan yang menderita setelah itu lebih banyak lagi, bagaimana jika “lautan air bah jubah putih” ini terjadi lagi atas nama yang sama? Mungkin kah saya dan teman-teman tidak menjadi korban dan mungkinkah ini juga akan menjadi sejarah paling kelam lagi untuk republik ini?

Setidaknya untuk memperoleh kehidupan yang rukun di negeri ini, mari kita bernegara flooor dengan demokrasi yang kita sepakati ini dan dengan pancasila yang menjadi dasar negeri ini, hanya itulah yang bisa menjamin siapapun mendapat keadilan dan kesejahteraan dalam negeri yang kita sama-sama sepakati ini, agar kedepannya tidak terulang sejarah kelam seperti cerita yang saya ambil dari negeri Batak. Jangan sampai penyakit, busung lapar, kekerasan, bencana alam dan kehancuran negeri ini yang membuat kita bisa duduk bersama lagi untuk membicarakan masa depan negeri ini.

*Siporsuk Na Mamora

Artikel Terkait

1 komentar so far

Semoga Indonesia tetap utuh walaupun banyak goncangan. Amin


EmoticonEmoticon