Friday, November 2, 2018

Teriakin Saya, Agar Tetap Tersadar Akan Realitas Hidup

FOTO : GMKI/Janrivai A. Silalahi

Banyak orang yang tidak siap dengan perubahan, ada yang ingin berlama-lama dalam kenyamanannya, atau bahkan ada orang-orang yang mengutuki orang lain hanya karena melihat perubahan itu sendiri ada pada orang lain, dan ada juga yang berusaha ingin menempatkan diri sebagai benteng penahan gerak perubahan bagi orang lain.
Karena apa? Karena dia tidak siap melihat orang lain berubah dan bergerak maju meninggalkan dirinya. Yang dia inginkan, selamanya manusia harus sama seperti dirinya sendiri yang tidak ingin berubah, dan pastinya juga karena tidak siap mendapati misteri realitas hidup yang ada di depannya.
Bagiku, dinamika dan perubahan itu sendiri adalah bukti yang nyata dan bisa dirasakan langsung bahwasanya saya masih konsisten berada dalam situasi bergerak terus, soal bergerak ke depan atau tidak itu jawabannya nanti di akhir perjalanan hidup.
Jangan sesekali mengukur orang lain dengan ukuranmu sendiri, sebab hidup adalah perjalanan, bergerak maju. Ukuran yang kamu gunakan saat ini mengukur orang lain bisa jadi akan di ukurkan kembali kepadamu di masa yang lain.
Sama halnya ketika Anda memandang kecil dan hina orang lain hari ini dengan ukuran yang Anda tetapkan sendiri, maka suatu saat Anda akan juga dipandang oleh orang lain kecil dan hina menurut ukurannya sendiri juga. Hal yang sebaliknya juga berlaku.
Hidup itu tabur tuai. Apa yang Anda tabur, itu yang akan Anda tuai.
Bagi Anda yang ingin terus bergerak dan terus berjalan maju, agar Anda jangan menyerah karena teriakan-teriakan, makian dan hal-hal negative yang dialamatkan kepada Anda.
Saya mau kasih semangat dengan analogi sederhana seperti ini;
Ibarat seperti Anda sebagai pelari, semakin cepat Anda berlari, dan semakin Anda jauh lebih maju didepan pelari yang lain, maka akan semakin histeris penonton yang meneriaki.
Ucapan Terima Kasih
Terimakasih atas doa dan dukungan seluruh teman-teman kepada saya, yang hingga hari ini masih percaya kepada saya. Sehingga hari ini saya masih diberi kesempatan untuk memperoleh proses di GMKI melalui kepengurusan di pusat.
Harapannya, tetaplah menjadi partner berpikir saya, untuk membangun organisasi yang kita cintai ini menjadi organisasi yang modern dan siap membentuk pribadi-pribadi penggerak dan bertanggungjawab ditengah-tengah arus dunia modernisasi teknologi dan informasi yang sangat pesat.
Buat para sahabat yang hobbynya meneriakin saya, harapannya tetaplah beri teriakan terbaik dan terkuat, agar saya selalu sadar bahwa masih banyak proses dan pekerjaan yang harus saya selesaikan dikemudian hari.
Ut Omnes Unum Sint!
Salam sada roha dari Anak Medan
h o r a s !

Saturday, October 27, 2018

90 Tahun Sumpah Pemuda, Tetaplah Satu!


Saya mengagumi Bang Putra Nababan sejak lama, yang dalam kaca mataku adalah seorang jurnalis handal dan smart. Karena itu belum pernah terbayangkan bisa berdiri sepanggung dan dipandu oleh beliau, apalagi saya ini dari kampung, Batak tembak langsung –meminjam istilah Hotman Paris Hutapea- yang datang ke Jakarta untuk belajar dan mencoba mengambil peluang.

Tapi kali ini, meski singkat waktunya, saya dipandu langsung Bang Putra Nababan untuk memberikan pandangan singkat terkait tentang pemuda kekinian di Forum Pemuda 2018 yang digagas dalam rangka peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928 - 28 Oktober 2018).
Saya berdiri bersama para pemuda-pemuda hebat yang menginspirasi, salah satunya adalah Bupati Trenggalek, Ketua Panitia Perhelatan Asian Para Games, Atlit peraih medali emas di Asian Games, Pengusaha sukses dan pengabdi di lingkungan masyarakat pedesaan.

Turut serta juga para tokoh pimpinan OKP selevel nasional, tokoh senior dan beberapa anggota DPR-RI seperti Syukur Nababan dan Nico Siahaan.
Nerves, kaki awalnya terasa gemetaran, dan pikiran tidak bisa fokus pada materi yang akan disampaikan. Ini kali pertama buatku tampil dihadapan orang-orang hebat dan berprestasi, siapapun awalnya pasti mengalami hal yang sama.

Selamat hari sumpah pemuda!
Sebentar, setiap kali di moment peringatah hari sumpah pemuda, saya selalu teringat dengan tokoh Kristen dan pahlawan nasional Johannes Leimena mewakili Jong Ambon, dan Amir Syarifuddin Harahap mewakili Jong Batak pada masa kebangkitan pemuda yang dikemas dalam pertemuan pemuda dan menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda.
Mereka berdua adalah tokoh dan faunding father yang membidani kelahiran organisasi mahasiswa Kristen terbesar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Oleh karena itu, bisa dipastikan bahwa kehadiran GMKI sudah tentu didasari semangat Sumpah Pemuda dari sejak kelahirannya hingga kini.
Tantangan kita masa kini adalah degradasi nasionalisme, ancaman persatuan dan kesatuan NKRI.
Modernisasi teknologi dan informasi yang menembus ruang-ruang waktu dan batas-batas teotorial negara membuat setiap orang harus mampu mengimbangi ritme perkembangan jaman tersebut, kalau tidak, kita bisa digilas dan terkubur bersamanya.

Pertemuan muka berkurang, diskusi juga berkurang, yang makin banyak adalah pertemuan virtual di media-media sosial dan jaringan internet, karenanya kabar-kabar hoax, berita bohong dan ideologi intoleran yang mengancam persatuan kita begitu massivenya masuk ke dalam pikiran anak-anak muda tanpa filter, ditambah lagi adanya gerakan-gerakan cyber yang menciptakan frame negatif dan menyebar luaskan paham-paham intoleran, terlebih lagi sengaja ditunggangi oleh politikus "sontoloyo" -memakai istilah Pak'de Jokowi- yang opportunis dan haus kekuasaan.
Tetaplah kokoh mempertahankan dan membentengi Indonesia yang Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu dan Berbahasa Satu.
Bersatu perangi hoax, intoleransi dan paham radikal.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Friday, October 5, 2018

K.H Ma'ruf Amin Ziarah ke Makam Ompui Raja Sisingamangaraja XII

Saya bersama K.H. Maruf Amin

Terimakasih Pak K.H Ma'aruf Amin sudah menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam Ompui Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Disini, titik akhir perjuangan Ompui yang kami sangat hormati dan juga kami banggakan, sebagai simbol semangat perlawanan melawan penjajahan dan penindasan di atas bumi Ibu Pertiwi sekaligus sebagai simbol semangat perjuangan kebebasan dan kemerdekaan NKRI yang sangat kita cintai ini, yang Pancasilais dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Semoga kedepan bisa memberi pelayanan terbaik untuk Tanah Batak dan orang Batak, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan totalitas dalam mendukung dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk memerdekakan Indonesia yang dalam hal ini dipimpin langsung oleh Raja Sisingamangaraja disetiap jenjang masanya masing-masing, dari Raja sisingamangaraja I sampai XII.
Jayalah tanah Batak, cerdas dan sejahteralah semua masyarakatnya.
K.H. Ma'ruf Amin di Makam Raja Sisingamangaraja XII, Balige
Ada banyak tokoh nasional yang sudah ke Danau Toba dan tanah Batak, namun tidak semua bersedia menyisihkan waktu untuk menginjakkan kaki di makam ompui. Berziarah itu artinya juga turut menghargai dan mengenang jasa perjuangannya untuk NKRI tercinta.
Bapak ini sudah di ulosi, dan sahlah dia memiliki keterikatan dengan orang Batak. Disamping itu, momen ini juga membuktikan satu hal, bahwa beliau adalah ulama/tokoh agama yang memiliki pemahaman nasionalis serta menghargai keragaman budaya suku bangsa Indonesia.
Indonesia adalah rumah untuk segala suku bangsa di dalamnya, Pancasila adalah rumah kita bersama.
Salam sada roha dari Anak medan
h o r a s !

Thursday, October 4, 2018

Jangan Jual Danau Toba Untuk Operasi Plastik dan Politik Kebencian

Berita Detik.com
Masih ingat betapa bringasnya Oppung Ratna Sarumpaet menyerang Oppung Luhut Binsar Panjaitan di posko penampungan keluarga korban tenggelamnya KM. Sinar Bangun di Danau Toba, Tigaras, Kabupaten Simalungun?
Biar tidak bias, sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, silahkan teman-teman searching lagi tentang tindakan ratna sarumpaet yang tiba-tiba datang ke posko penampungan keluarga korban tenggelamnya KM. Sinar Bangun di Danau Toba. Kedatangannya untuk membuat keributan di Danau Toba di sengaja pada saat yang bersamaan dengan kehadiran Luhut Binsar Panjaitan -sebagai Menko Kemaritiman- di sana dalam agenda untuk bertemu dan memberikan pengarahan kepada para keluarga korban sebagai wakil dari Pemerintah Pusat, saat itu juga, LBP menyampaikan penghentian pencarian korban tenggelam.
Keributan yang dibuat Ratna Sarumpaet berhasil memancing LBP untuk memberi komentar sesaat RS mengoceh dan menyerang Pemerintah dengan kata-kata yang sangat provokatif. Namun, masyarakat yang sadar dan merasakan betul upaya pencarian serta kesulitan yang dihadapi tim SAR, saat itu masyarakat yang justru mengusir keluar RS.
Cara dan kata-kata yang disampaikannya sangat merendahkan keluarga korban yang sedang berduka, dengan kata-kata “jangan mau dibayar” dan ocehan lainnya, jelas RS hanya mengukur harga diri dan kedukaan keluarga dengan uang semata. Padahal, nyawa dan kesedihan keluarga mana yang bisa dibayar dan di ukur dengan uang?
Sungguh biadab! RS memanfaatkan momen kedukaan dan kesedihan masyarakat Danau Toba tersebut untuk menyerang dan menjatuhkan marwah pemerintah pusat yang dipimpin Jokowi.
Kenapa RS dan para sengkuni tiba-tiba merasa penting menjatuhkan marwah pemerintah dihadapan masyarakat Danau Toba? Karena mereka tau bahwa +90% dari masyarakat sekitaran Danau Toba adalah pendukung Jokowi. Maka oleh karena itu, mereka menganggap, momen itu sangat penting untuk di isi dengan narasi politik kebencian terhadap Jokowi. Tapi, hal itu gagal total, yang ada kemudian adalah aksi pengusiran RS oleh warga Danau Toba.
Setelah pengusiran, bergulirlah diskusi-diskusi yang RS dkk lakukan di berbagai forum, yang intinya “menolak pemberhentian pencarian KM. Sinar Bangun oleh Pemerintah” dan “menuduh Pemerintah tidak memiliki kepekaan rasa kemanusiaan”. Narasi yang mereka bangun sangat tajam mendiskreditkan pemerintahan Jokowi.
Seiring dengan diskusi-diskusi itu, muncullah inisiasi menghimpun dana sosial yang direncanakan sebagai dana melanjutkan pencarian KM. Sinar Bangun dan juga direncanakan akan disumbangkan kepada keluarga korban tenggelam. Dana sosial yang dimaksud dikumpulkan mengatas namakan Ratna Sarumpaet Crisis Center dengan Nomor Rekening BCA 2721360727.
Kenapa harus mengumpulkan dana sosial?
Karena, kata mereka, RS dkk, pemerintah tidak bertanggungjawab mengangkat KM. Sinar Bangun sampai ke permukaan beserta para korban tenggelam dengan dana pemerintah atau APBN. Oleh karena itulah dana sosial dikumpulkan melalui RSCC untuk mencukupi biaya pengangkatan KM. Sinar Bangun ke permukaan beserta para korban.
Faktanya, sampai hari ini, KM. Sinar Bangun dan para korban tenggelam masih berada di dasar Danau Toba. Kemudian, belum ada seorang pun yang mengaku telah mendapatkan uluran bantuan dari hasil dana sosial yang dikumpulkan melalui rekening RSCC.
Lalu, kemana saja duit bantuan sosial atas duka masyarakat Danau Toba itu mengalir Ibu Ratna Sarumpaet?
Untuk biaya operasi plastic? Sedot lemak? Untuk kebutuhan pribadi?
Sekarang, siapa yang biadab dan tidak memiliki rasa kemanusiaan? Jokowi atau Ratna Sarumpaet?
Kala itu, Jokowi sibuk memulihkan keadaan keluarga korban tenggelam KM. Sinar Bangun dengan segala upaya dan kemampuan, disaat yang sama, ada RS dan kelompoknya yang menghujat pemerintah dengan mengatakan bahwa pemerintah Jokowi tidak tanggap dan sigap, tidak memiliki rasa kemanusiaan,  mengabaikan korban, tidak berbuat apa-apa. Narasi kebencian gencar dilemparkan mengarah ke Jokowi waktu itu, sampai-sampai Neno Warisman dan Mardani Ali Sera ikut berkomentar pedas menyerang Jokowi atas masalah di Danau Toba, padahal, sedikitpun mereka sebelumya tidak ada informasi yang cukup tentang kondisi di Danau Toba, tiba-tiba sok tau dan sok jadi pahlawan, ngomong sembarang menghujat Jokowi dari Jakarta tanpa tau titik dan duduk persoalannya.
Sejak lama, mereka selalu mencari-cari alasan untuk menyerang Jokowi, bahwa nyaris tak menemukan masalah lalu kemudian gemar menciptakan hoax, agar ada bahan menyerang Jokowi lagi, dan lagi yang sibuk bekerja membenahi keperluan dan melayani rakyat di seluruh penjuru negeri.
Benarlah, bahwa “sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Dengan kata lain, mirip seperti kebohongan-kebohongan yang sejak lama di desain oleh RS dan kelompoknya, yang selalu lolos dan berhasil membodoh-bodohi rakyat, sekarang justru nyungsep dan ketahuan kedoknya.
Bukan hanya soal kedok operasi plastik yang dikatakan di keroyok sekelompok orang yang diduga suruhan orang yang kerap di kritiknya, tapi juga tentang aliran dana bantuan sosial atas duka masyarakat Danau Toba kala itu karena tenggelamnya KM. Sinar Bangun, yang ternyata mengalir ke klinik kecantikan atas operasi plastic sedot lemak Oppung Ratna Sarumpaet.
Sungguh tega hati ya pung?
Itu dana bantuan sosial untuk korban KM. Sinar Bangun loh, korban meninggal yang sampai hari ini masih terkubur di dasar Danau Toba.
Polisi dan Pemerintah harus tegas dan lugas untuk mengaudit dan memeriksa kemana dana bantuan sosial yang dikumpulkan RSCC tersebut mengalir. Hal ini penting dilakukan agar kedepan tidak ada penipuan dengan modus-modus untuk dana kemanusiaan, padahal untuk keuntungan pribadi.
Salam sada roha dari Anak medan
h o r a s !

Monday, August 27, 2018

Kedaulatan Tertinggi Adalah Milik Rakyat Desa

Aksi Masyarakat Desa
Disetiap kitab suci umat beragama, pasti selalu ada terselip kisah-kisah inspiratif seorang pemimpin yang kuat dan lalu kemudian menjadi jatuh, hingga tidak bisa bangkit karena terjerumus oleh sifat kesombongan dan kepongahannya, merasa diri paling berkuasa atas segalanya dan hingga Tuhan pun di tentang yang tergambar dari berbagai tingkah laku dan tindakannya, contohnya otoriter, memperbudak, membungkam, menjarah harta benda rakyatnya dan memegahkan diri sebagi dewa yang paling berkuasa bagi rakyatnya. Bahkan ada yang dikisahkan sampai kehilangan martabat, harga diri dan juga nyawanya karena kesalahannya menempatkan siapa dirinya saat menjadi pemimpin.
Secara sesumbar, ada saja dalam kisah itu yang berkata, “Tuhan pun tidak akan mampu mengambil kuasa ini dari tanganku,” demi alih-alih untuk memberi kesan menakutkan bagi rakyatnya. Sangat egois…
Dalam kisah-kisah modern dan di jaman awal-awal penemuan sains dan ilmu-ilmu teknologi baru, tak jarang juga seorang penemu dan atau ilmuan akhirnya menemui ajalnya karena kesombongan dan kepongahannya oleh karena penemuan dan ilmu pengetahuan hebat yang baru ia temukan.
Yang paling populer di sepanjang jaman adalah kisah tentang kapal pesiar terbesar dijamannya, Titanic. Thomas Andrews, sang perancang kapal pesiar megah, termewah dan tercanggih dijamannya tersebut pernah sesumbar meremehkan Tuhan dengan berkata, “Tuhanpun tak bisa menenggelamkannya,” sesaat sebelum kapal pesiar megah tersebut akan memulai debut pertamanya melintasi samudra lautan yang luas. Yang terjadi kemudian adalah mala petaka dan kematian bagi kurang lebih 1.500 orang penumpang, termasuk sang perancang angkuh tersebut.
Kisah serupa datang dari Raja Salomo anak Daud dan menantu Firaun, yang jatuh karena memegahkan dirinya dan tidak lagi menjadikan Allah sebagai yang utama dalam kehidupan dan kerajaannya. Dia bermegah diri dan meremehkan Allah. Akhirnya, atas kehendak Allah, musuh-musuhnya bangkit menyerang Israel, kemudian kerajaan Israel hancur dan terpecah menjadi dua dimasa kepemimpinan setelahnya.
Singkatnya, banyak penguasa dalam kisah diatas yang jatuh akibat sesumbar menentang Tuhan.
Kisah di atas menjadi inpiratif ketika saya mengamati apa yang terjadi di daerah kita –Kabupaten Tapanuli Tengah-- akhir-akhir ini. Kepogahan, keangkuhan, keegoisan, arogansi dan kesewenang-wenangan pemerintah daerah sangat jelas terpampang di mata kita semua.
Ada ASN lanjut usia dimutasi hingga puluhan kilometer jaraknya dari tempat tinggalnya. Kemudian, adanya bakal calon Kepala Desa yang digugurkan --dibungkam hak demokrasinya-- tanpa alasan dan dengan cara diluar prosedur yang berlaku. Terakhir, secara liar menyebar isu dikalangan masyarakat yang muatan isinya bernada meremehkan Tuhan yang diduga berasal dari seorang pejabat paling wahid di daerah kita saat ini, dengan menyatakan, “Tuhan pun tak akan menjatuhkan posisiku saat ini sebagai Bup–disensor--,” katanya sembari menambahkan kata-kata, “Apalagi rakyat?” ungkapnya dengan tujuan menenangkan para penjilat dibelakangnya.
Ini benar-benar sebuah kesalahan besar, yang saya yakin pada akhirnya nanti akan membawa dampak besar pada setiap orang yang sedang berada dalam kursi kekuasaan, yakni kejatuhan dan kehilangan harga diri serte kehormatan dimata Tuhan dan masyarakat awam.
Dalam masyarakat dan bangsa berpaham demokratis, praktek-praktek kesewenang-wenangan dan pengabaikan terhadap hak-hak masyarakat oleh beberapa pemimpin pemerintahan telah terbukti akan membawa perlawanan dari rakyat arus bawah, demi tegaknya sebuah kebenaran dan jatuhnya kekuasaan seorang pemimpin.
Tak sewajarnya rakyat dibungkam, ditindas dengan azas penyalahgunaan jabatan, serta membunuh demokrasi demi mempetahankan jabatan serta kekuasaan dan meraup pundi-pundi.
Pemimpin baik itu idealnya adalah seorang yang menggahargai kebebasan dan hak demokrasi orang lain, selama itu masih dalam koridor hukum yang berlaku di Negara ini. Bukan malah memperalat hukum demi kepentingan pribadi.
Sepenggal kisah ini adalah sebagai nasehat buat kamu yang duduk di singgasana saat ini. Bahwa, ingatlah, semut di injak saja akan menggigit, apalagi manusia yang kamu sakiti dengan segala intrik kotor?
Jangan merasa berkuasa sendiri, semau gue dan hak orang lain dianggap seolah tidak ada artinya sama sekali.
Dunia ini akan berputar, dan putarannya tidak akan kamu mengerti.
Kebangkitan masyarakat di Desa akhir-akhir ini akan menjadi pertanda awal bangkitnya sebuah perlawanan besar dikemudian hari, hingga kursi kekuasaanmu terjungkal dan menempeleng kepalamu sendiri, agar kau tersadar betapa pongah dan angkuhnya dirimu sebagai pejabat.
Saat kesadaranmu penuh, disitulah kamu mengerti, bahwa kedaulatan tertinggi adalah milik masyarakat Desa, untuk itu jangan kamu remehkan orang-orang kampung –yang dulu kau sebut kepalanya bisa dibeli dengan 1 kg jagal babi-- ini.
Jadilah pemimpin yang arif dan bijaksana, sebelum kemarahan rakyat semakin besar.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Saturday, August 18, 2018

Selamatkan Mereka dari Didikan Radikal

Pawai Anak TK/PAUD Bercadar dan Bersenjata
Anak-anak yang lahir dari perut ibu pertiwi ini ibarat gelas kosong, mereka di isi dan menerima mentah-mentah. Begitulah anak-anak dibentuk di sekolah.
Maka, jangan heran kalau perilaku anak menyimpang, yang dimintai pertanggungjawaban/disalahkan paling utama adalah keluarga, dan kedua lingkungan dimana ia di didik.
Mereka terlahir sebagai Indonesia, yang merdeka, berbudaya dan berdaulat.
Seharusnya mereka masih bermain dan belajar bersosialisasi dengan teman-teman sekolah, kejar-kejaran, main perosotan, menggambar dan mengolah kreativitas di sekolah.
Datanglah para pelaku di keluarga dan lingkungan sekolahnya, memberi didikan yang salah, yang di transfer dari dunia luar yang sama sekali tidak mengenal keberagaman suku dan budaya. Budaya yang sama sekali tidak mewakili budaya kita yang kaya raya, beragam dan penuh warna ini.
Seharusnya, mereka dapat didikan keaneka ragaman, sifat dasar toleransi, dan mendapat pengenalan betapa kayanya Indonesia ini. Bukan dengan pakaian jubah hitam, cadar dan senjata --yang bagiku-- sangat menakutkan itu.
Menakutkan, mana kala setelah dewasa nanti mereka bertumbuh sebagai orang-orang radikal, intoleran dan tidak mengenal jati dirinya sebagai anak kandung ibu pertiwi pewaris sah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD45 dan NKRI.
Kepalanya sudah dirusak dengan pemahaman sempit sang guru TK nya.
Mirisnya dirimu nak, mata hatimu telah dibutakan oleh guru-guru penganut paham radikal yang tidak bertanggungjawab.
Masa depan anak-anak ini mereka --kaum radikal-- jadikan sebagai tumbal kekerdilan berpikir atas agama yang dianutnya. Atau dengan kata lain, mereka dimanfaatkan atas kesesatan berfikir.
Jika pelaku --gurunya-- tidak dibina dan ditindak dengan tegas oleh pihak berwajib dan atau kementerian pendidikan, maka mereka akan menjadi ancaman bagi kesatuan dan keberlangsungan eksistensi bangsa Indonesia di masa depan.
Lindungi anak Anda dari ajaran radikal dan menyesatkan.
Tidak sewajarnya mereka di beri pakaian seperti ini, jika boleh jujur lebih mirip seperti pakaian kelompok teroris sadis bernama ISIS yang lengkap dengan replika persenjataannya. Ini secara langsung mengajarkan bahwa mereka sedang hidup di lingkungan yang sedang perang dan disiapkan berperang.
Perang kepada siapa mereka dipersiapkan? Sementara kita sudah merdeka, bangsa kita saat ini aman dan damai.
Berdasarkan informasi, anak-anak bercadar dan bersenjata ini adalah siswa TK Kartika V 69 Kota Probolinggo yang merupakan TK dibawah binaan KODIM 0820 Probolinggo. Foto ini diambil pada saat acara pawai karnaval TK dan PAUD memperingati HUT kemerdekaan RI ke-73 di Kota Probolinggo.
Ancaman kaum radikal memang nyata di depan mata kita.
Salam sada roha dari Anak medan
h o r a s !

Thursday, July 19, 2018

Caleg 1 Kilo Jagal Babi di Tapteng

Ilustrasi Daging Babi

Potensi pileg dengan strategi "serangan 1 kilo jagal babi" sepertinya akan terulang kembali di Pileg 2019 mendatang. Pasalnya, ada seorang pengangguran mau nyoba peruntungan dapat jabatan melalui pencalegan ke DPRD Tk.I Sumut di Tapanuli Tengah.
Kenapa saya bilang dia pengangguran dan rakus jabatan? Karena rakusnya, jabatan setingkat KNPI aja harus diambilnya, itu artinya dia tidak punya kerjaan. Supaya apa jabatan itu di ambli juga? Supaya bisa ngolah-ngolah APBD yang dihibahkan ke KNPI Tk. II tersebut semau dan sesuka jidatnya.
Orangnya sangat ambisius mau menang, haus jabatan, licik tingkat Kabupatenlah. Sehingga segala cara mungkin akan dilakukan untuk mendapatkan jabatan yang dia mau dengan cara apapun, termasuk politik uang/sogok dan dengan cara curang di TPS nantinya.
Dulu, 1 kilo jagal babi "katanya" mampu membeli suara umat "pemakan jagal babi" itu, maka karena itu, katanya lagi, gara-gara jagal babi yang haram itu, keluarlah seorang pemenang menjadi pejabat kelas Kabupaten! Bermanfaat juga jagal babi itu ya...
Alhasil, dikemudian hari, setelah sah menjadi pemenang, pemakan babi itupun di olok-oloknya sebagai umat bodoh dan yang bisa "dibeli" dengan gampang, "cukup kasih aja jagal babi, pasti langsung nurut seperti kerbau dicucuk hidungnya," katanya dengan enteng di depan para umat "non-pemakan jagal babi" pendukungnya. Sambil tertawa terbahak-bahak penuh kegirangan.
Setelah jalan cerita panjang ini kurangkai dalam kata-kata, lalu aku mulai paham, "owh, pantas belum ada perda larangan memelihara babi di Tapteng ya... Ternyata mereka masih butuh stok untuk Pileg 2019 dan Pilkada kedepan." pikirku. :D
Di Tapteng mah begitu,...
Nanti di Pileg 2019, apakah umat pemakan jagal babi itu masih menerima “jatah sogok” jagal babi lagi? Dengan komitmen mendukung/memilih/memenangkan Caleg yang ambisius dan haus jabatan -dan kini telah berjubah partai biru- yang saya maksud diatas itu?
INGAT! Hanya babi yang bisa diperdaya 2 kali masuk ke jurang yang sama.
Jadi, molo Pileg 2019 monang caleg na humaksud i, bah... Babi ma tutu pasahatton halak i sakeluarga gabe pejabat. Udutna muse, las babi do akka namanjalo dohot pamonanghon i, ala, artina, sakilo jagal babi do arga diri ni nasida sude angka pendukung na i.
Alani parange ni sada-sada halak, gabe dohot sude umat "siallang jagal babi" margota-gota, gabe dijokkali nasida ma arga diri ni sude umat si allang jagal babi i.
Boha di dok roha muna angka dongan sa-kabupaten? Pas do hira-hira na hu dok on? Alusi hamu...
Ayo jemput harga dirimu kembali, 2019, TOLAK POLITIK UANG, TOLAK POLITIK SOGOK  dan TOLAK POLITIK JAGAL BABI demi kedaulatan rakyat!
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Tuesday, July 17, 2018

Malam Ini, KPK Makan Korban OTT di Sumut

Cupture Berita OTT KPK
Satu kepala daerah di Sumut malam ini dicyduk dan di bawa ke KPK, namanya Pangonal Harahap yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kabupaten Labuhanbatu dari partai PDI-P, diduga kasusnya berhubungan dengan suap proyek di Dinas PUPR. Bersama beliau turut diamankan 4 orang dari pihak swasta.
KPK ternyata masih senang bergerilya di provinsi terkorup ke 3 di Indonesia ini, Sumatera Utara namanya. Provinsi yang dipuja-puja dari segi keberagaman dan toleransi masyarakatnya, namun di hujat karena kasus-kasus korupsi yang menjerat pejabatnya.
Bupati Labuhanbatu ditangkap tangan dengan petunjuk alat bukti transaksi uang bernilai ratusan juta rupiah.
Semakin lincah aja ni pak KPK, makin gesit membersihkan Sumut dari para koruptor, dan memang sudah seharusnya begitu. Sumut harus bersih-bersih dari pejabat pongah dan korup.
Jika seseorang bisa ditangkap KPK hanya dengan petunjunk alat bukti transaksi bernilai ratusan juta rupiah, lalu bagaimana dengan orang yang sudah terbukti mengantarkan uang suap korupsi ke Akil Mochtar bernilai milliaran rupiah? 
Sekali lagi saya berharap, semoga KPK juga secepatnya main-main ke Kabupaten Tapanuli Tengah. Ibarat memancing, aku jamin bapak-bapak KPK pasti dapat tangkapan ikan besar disana, koruptor kelas kakap. Selain pejabatnya yang pongah dan korup, ternyata sekarang lagi bikin strategi langkah seribu mendekat ambil muka ke Jokowi, caranya dengan ikut merapat ke barisan Relawan Jokowi di Sumut. Padahal, dia itu didukung parpol gurem PKS dulu saat pilkada, dan terakhir ditendang dari Hanura. Jadi kesimpulannya, tak ada historinya si kawan itu pendukung Jokowi.
Dari fakta di atas, jadi kelihatan sekali ilmu mau cari amannya ya pak?
Emang di jaman Jokowi berlaku cara begitu?
Jawabannya tentu saja TIDAK!
Lihat saja, semua orang yang korup pasti disikat habis, tak peduli itu yang berasal dari partai  PDI-P, Golkar, NasDEM atau apapun namanya, apalagi hanya sekedar relawan pendukung yang baru saja bergabung. Juga tak peduli itu pejabat apapun, mau kau Bupati, Gubernur dan atau Ketua DPR tetap aja akan disikat!
Intinya, usaha mendekatmu cari muka untuk aman dari kasus korupsimu yang lalu-lalu pasti gagal kelesss... 😂
Teman-teman yang merasa kepala daerah di daerahnya juga perlu didatangi KPK seperti Labuhanbatu, angkat tangan -like- dan sebutkan nama daerahnya di kolom komentar lalu share. Siapa tau bisa lebih cepat di geruduk KPK.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Monday, July 16, 2018

Semakin Selektif Pilih Caleg dan Menangkan Partai Pendukung Jokowi

Partai Pendukung Jokowi
“Bang, haruskah kita memenangkan PDI-P untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019, seperti di tahun 2014?”
Begitu kira-kira seorang teman mengajukan pertanyaan serius -dengan mata melotot- kepada saya, yang sejak tahun 2013 adalah pendukung Jokowi.
Kegelisahannya bisa saya tangkap dengan jelas, mungkin hatinya sedang “galau berat” saat ini. Karena saya tau dia sedang dilanda kasmaran, baru-baru ini dia menyatakan cintanya kepada partai baru, namun masalahnya, diam-diam dia masih menaruh cinta pada PDI-P, sebabnya, karena Jokowi masih ada disana.
Ada yang menarik pada Pemilu 2019 mendatang, yaitu dengan system baru yang akan berlaku oleh KPU. Sehingga, situasinya sudah berbeda dengan Pemilu 2014 yang lalu.
Letak perbedaan pertama ada pada waktu pelaksanaannya.
Jika di pemilu 2014 lalu, pemilihan anggota legislative (Pileg) DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPD-RI dan DPR-RI dilaksanakan terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru dilaksanakan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.  Sedangkan sekarang, Pileg dan Pilpres dilaksanakan dengan waktu yang sama secara serentak di seluruh Indonesia.
Pertanyaan yang jadi penting adalah, “Penentuan besaran persentase dukungan Capres dan Cawapres 2019 di ambil dari mana?”
Disinilah juga letak perbedaan kedua yang paling kentara. Catat ya…
Kalau di Pilpres 2014, penentuan besaran persentase dukungan Capres dan Cawapres ditentukan dari hasil Pileg 2014 –tahun itu- juga. Itulah salah satu fungsinya kenapa Pileg dilaksanakan terlebih dahulu sebelum Pilpres. Karena persentase perolehan kursi/suara partai di Pileg 2014 dipakai sebagai syarat dukungan untuk Capres dan Cawapres di Pilpres setelah Pileg.
Lalu di Pemilu 2019 mendatang gimana pulak?
Khusus persentase dukungan kursi/suara partai pendukung bagai Capres dan Cawapres yang akan maju di Pemilu 2019 nanti akan diambil dari hasil Pileg 2014 yang lalu. Sedangkan persentasi hasil perolehan kursi/suara partai di Pileg 2019 mendatang –jika tidak ada perubahan undang-undang pemilu- akan dipakai untuk pencalonan Capres dan Cawapres di tahun 2024 mendatang.
Sampai disini, perbedaan pelaksanaan Pemilu 2014 dengan Pemilu 2019 sudah jelas. Artinya, persentasi dukungan partai kepada Jokowi untuk maju jadi Capres di Pilpres 2019 sudah bisa kita hitung sekarang, tentu dengan menambahkan persetase perolehan kursi/suara partai pendukung yang sejauh ini telah menyatakan sikap akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019 berdasarkan pada data perolehan suara partai di Pemilu 2014 yang lalu. Partai tersebut adalah PDI-P (18,95%), Golkar (14,75%), PKB (9,04%), NasDEM (6,72%), PPP (6,53%), Hanura (5,26 %) dan PKPI (0%) beserta beberapa partai baru lainnya yang belum memiliki suara di Pemilu 2014, yaitu PSI dan Perindo. Maka total dukungan untuk Jokowi di Pilpres 2019 adalah 62,6%. Itu artinya pencapresan Jokowi sudah aman untuk 2019.
Bagaimana jika mengikuti aturan sebelumnya? Tentu saja tidak akan pernah ada kata aman, karena persentase dukungan suara untuk Pilpres baru akan bisa diketahui saat Pileg sudah selesai, yang dilaksanakan di tahun yang sama. Tidak ada istilah membahas koalisi sebelum hasil pileg keluar, seperti halnya yang terjadi pada pembentukan koalisi Jokowi di Pilpres 2014 sebelumnya. Itu sebabnya, dulu kita mati-matian mengajak orang untuk memenangkan PDI-P beserta para calegnya –sekalipun kita tau dari mereka banyak yang korup–  di Pileg 2014. Semua itu semata-mata tujuannya tentu hanya satu, untuk mengamankan pencapresan Jokowi di 2014 yang saat itu hanya baru memiliki kepastian mutlak dukungan dari PDI-P saja. Sedangkan NasDEM, elektabilitasnya juga ikut terdorong, karena waktu itu secara cuma-cuma mereka mendeklarasikan Jokowi jadi Capres 2014.
Kembali ke pertanyaan utama di awal artikel ini, “Bang, haruskah kita memenangkan PDI-P untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019, seperti di tahun 2014?”
Jawabannya, tentu saja tidak harus. Lalu bagaimana?
Saat ini, bangsa kita ini sudah memiliki perbaikan yang sangat maju, pelayanan juga semakin mudah dan pembangunan infrastruktur juga sedang bersemangat.
Yang jadi persoalan adalah, semakin maraknya sifat dan tindakan-dindakan intoleransi, radikalis dan terorisme. Ada juga yang secara terang-terangan mau mengganti Pancasila dengan Khilafah. Kemudian, maraknya korupsi para pejabat lembaga tinggi Negara, terkhusus seperti di DPR-RI.
Orang-orang yang memiliki kelakuan diataslah yang ingin kita singkirkan, agar usaha Jokowi bersambut baik, serta Negara juga maju dan rakyatnya sejahtera dan makmur, dan Pancasila serta NKRI pun jaya.
Dengan begitu, yang harus kita lakukan adalah memilih caleg-caleg yang bagus, jujur, pekerja keras dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Mereka-mereka ini ada di 9 partai pendukung Jokowi. Bukan ditempat lain. Artinya, pilihan caleg di 2019 semakin beragam.
Pilihlah caleg terbaik yang berasal dari partai-partai pendukung Jokowi di Pemilu 2019, manfaatnya agar pemerintahan Jokowi kedepan bisa berjalan lebih stabil dan lancar. Yang korup jangan di pilih lagi, apalagi yang intoleran, radikal dan diam-diam pendukung khilafah dan teroris.
Jadi intinya, jangan mau terfokus hanya untuk satu partai, hanya karena partainya Jokowi. Tetaplah rasional dan cerdas memilih. Karena pilihan kita nanti, akan menentukan pencapresan di Pilpres 2024 mendatang.
Salam sada roha dari Anak medan.
h o r a s !