Sunday, June 25, 2017

Serang Polda Sumut Saat Lebaran, Bukti ISIS Tak Lebih Hanya Kelompok Pembunuh Penunggang Agama

Bendera ISIS di Rumah Pelaku 
Siporsuk Na Mamora – Sunggguh malang memang nasib Aiptu Martua Sigalinging, beliau menjadi korban penyerangan teror di pos jaga Polda Sumatera Utara oleh terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS dini hari tadi (25/6/2017) tepat pada pukul 03.00 Wib di hari perayaan hari raya tahun ini.
Semua orang mungkin saat itu sedang merasa bahagia karena berkumpul dengan sanak saudaranya masing-masing, ada juga yang takbiran keliling dan mungkin masih ada yang terjebak di jalanan menuju kampung halaman masing-masing. Tetapi, bagi keluarga Sigalingging, ini mungkin jadi hari yang sangat menyedihkan sekaligus menorehkan duka mendalam.
Provinsi Sumatera Utara sebelumnya merupakan provinsi yang sangat kondusif dan jauh dari aksi-aksi teror. Namun hari ini telah jauh berbeda, beberapa kali aksi teror terjadi, dan sudah banyak terduga teroris ditangkap dari Sumatera Utara. Hal ini membuktikan bahwa Sumatera Utara tidak lagi bisa kita katakan sebagai provinsi yang aman, melainkan sudah menjadi sarang para teroris.
Dua orang pelaku teror pos jaga Polda Sumatera Utara berinisial AR dan SP ini diduga kuat memiliki jaringan dengan kelompok teroris ISIS, hal ini diperkuat dengan adanya temuan dokumen berisi cara-cara melakukan bom bunuh diri serta adanya bendera ISIS menempel di rumah salah satu pelaku teror yang beralamat di Jalan Pelajar Timur Gang Kecil, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara. Kemudian yang paling meyakinkan adalah adanya konfirmasi langsung dari Kapolri yang mengatakan dalam statmennya bahwa pelaku teror merupakan kelompok teroris JAD yang berafiliasi dengan ISIS.
"Ini memang kita sudah mensinyalir ada sel dari kelompok JAD yang punya intel dan punya niat melakukan serangan di sana," - Kapolri Tito Karnavian -
Kita tau semua, bahwa ISIS adalah kelompok yang identik dengan agama Islam, mereka mengklaim bahwa mereka ingin mendirikan negara berlandaskan agama atau sering disebut sebagai kelompok yang ingin membangkitkan kekilafahan. Mereka juga menyebutnya dengan misi ke-agama-an, meskipun sebenarnya tindakan dan kelakuan mereka sangat jauh dari norma-norma kemanusiaan dan moral yang agama Islam itu sendiri ajarkan.
Para pelaku teror ini memilih pos polisi karena mereka menganggap polisi sebagai “kafir harbi”, serta dianggap sebagai penghalang utama mereka dalam menjalankan setiap aksi dan kegitan-kegiatan mereka. Selanjutnya juga, polisi menduga bahwa sebelum menjalankan aksinya, kedua pelaku teror tersebut meneriakkan takbir.
"(Target mereka) polisi. Karena mereka kan, sekali lagi saya sampaikan, kenapa polisi, karena polisi dianggap sebagai kafir harbi," - Kapolri Tito Karnavian -
Seragan ke pos-pos polisi jika kita perhatikan tidak hanya terjadi kali ini saja, dibeberapa daerah telah terjadi sebelum-sebelumnya.
Kita semua tau, bahwa kelompok jaringan ISIS akhir-akhir ini telah menguat di Asia, salah satu negara yang telah melangsungkan perang dengan ISIS adalah Philipina. Karena kuatnya ISIS, bahkan negara Philippina sendiri tidak mampu melawan teroris ini, alhasil mereka harus pontang-panting meminta bantuan dari negara-negara lain, termasuk Indonesia yang telah menyatakan siap membantu Philipina untuk memerangi ISIS.
ISIS dalam melakukan aksinya juga ternyata tak mengenal perayaan hari besar umat Islam, yang seharusnya jika melihat propaganda yang mereka lakukan, maka mereka tidak semestinya meneror dihari raya idul fitri ini, dimana semua umat Islam sedang berbahagia merayakan hari kemenangan bersama keluarga masing-masing.
Oleh karena itu, mari kita ambil makna positif dibalik serangan ini, bahwa sebenarnya mereka tidak lebih hanyalah kelompok-kelompok radikal yang telah dikendalikan nafsu duniawi, atau lebih jelasnya, mereka adalah setan-setan yang menyusup kedalam kelompok agama dan mengatas namakan agama, dalam rangka untuk memudahkan mereka dalam menjalankan aksi-aksi dan tujuan bejatnya.
Sehingga kedepan, harapannya tidak ada lagi orang yang terpengaruh dengan hasutan ISIS yang kerap dilakukan dengan mengatas namakan agama Islam, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah, mereka memanfaatkan rekrutannya untuk membunuh saudara sesama manusia.
Dan yang paling penting, mari kita sama-sama saling menjaga dan saling peduli dengan saudara-saudari kita yang lain, yang ada di sekitar kita. Jangan sampai mereka dicuci otaknya menjadi manusia-manusia radikal yang berpikir sempit dan kehilangan akal sehat serta rasionalitasnya.

Sunday, June 18, 2017

Islamisasi Narasi Sejarah Nusantara

Raja Sisingamangaraja XII
Siporsuk Na Mamora - Akhir-akhir ini sedang marak isu tentang Gajah Mada, penekanannya yang beragama Islam paling dominan. Banyak orang yang terkecoh karena itu, termasuk para akademisi dan sejarawan.

Menguasai narasi sejarah adalah bentuk propaganda dalam melancarkan tujuan penolakan terhadap Pancasila, yang artinya untuk memuluskan masuknya ide Khilafah dan pembentukan negara Islam Indonesia.

Klaim agama para tokoh-tokoh central nusantara tak hanya terjadi baru-baru ini saja. Sebenarnya telah lama terjadi, hanya saja baru kali ini cukup disorot.

Klaim seperti ini juga sudah terjadi terhadap para pahlawan-pahlawan tradisional sejak dulu. Salah satu contoh adalah klaim terhadap Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII.

Sebagai orang yang memiliki garis keturunan dari Raja Sisingamangaraja, saya sering merasa "geli" mendengar beberapa pendapat dari para akademisi -yang katanya telah melakukan penelitian- tetang agama yang dianut oleh leluhur kami ini, lalu mengambil sebuah kesimpulan bahwa Raja Sisingamangaraja XII adalah penganut agama Islam.

Kesimpulan yang mengatakan Raja Sisingamangaraja XII ini beragama Islam sangat dangkal dan tidak memiliki dasar sama sekali. Contohnya hanya karena memakai huruf arab jawi dalam stempel resmi kerajaan, memakai penanggalan Hijriyah dan menjalin hubungan harmonis dengan kerajaan Aceh maka mereka menyimpulkan bahwa agama yang dianutnya adalah agama Islam.

Mari berfikir sederhana, jika sekarang kita semua memakai huruf Romawi dan penaggalan Masehi, apakah dengan begitu, lantas kita semua beragama Katolik atau Kristen?

Begitulah yang terjadi dulu. Di nusantara, kita dulunya mengenal huruf arab jawi dan penanggalan Hijriyah. Bahkan tulisan dan penanggalan itu sudah menjadi tulisan dan penanggalan Internasional di wilayah nusantara layaknya seperti bahasa Inggris dan atau tulisan Romawi dan penanggalan Masehi sekarang ini.

Semua orang sudah tau apa yang saya tuliskan di atas...

Yang paling terpenting sebenarya, apa maksud dibalik narasi Islamisasi yang saat ini gencar dilakukan orang-orang yang kita sebut dengan kaum Islam radikal? Yang membenarkan segala sesuatu meski tak logis dan tak masuk akal dan terlebih tak memiliki bukti sama sekali? Bahkan membenarkan untuk membunuh manusia lain demi mendirikan negara berdasarkan agama seperti yang dilakukan oleh kaum ektrimis Isis di Syiriah dan Iraq.

Membentuk narasi Islamisasi terhadap para tokoh sentral nusantara dan para pejuang kemerdekaan adalah strategi untuk membentuk opini bahwa kemerdekaan Indonesia yang kita cintai ini hanya diperjuangkan oleh orang-orang Islam. Dengan begitu, akan muncullah legitimasi bahwa perjuangan me-negara Islamkan Indonesia adalah suatu keharusan. Dan bagi yang lain, itu berubah menjadi tuntutan untuk membalas jasa.

Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terjajah oleh kebudayaan lain dan terjajah oleh agama. Mereja lupa bahwa banyak juga pejuang kemerdekaan yang belum memiliki agama seperti yang kita kenal sekarang, yang berarti bahwa mereka juga layak mewarisi tanah ibu pertiwi ini.

Monday, June 5, 2017

Pak Tua Amien Rais, Bertemu Pimpinan KPK Itu Dilarang, Tetapi Bertemu Penyidik KPK Itu Pasti!

Amien Rais Beserta Habib Rizieq Saat Orasi
Siporsuk Na Mamora - Pak Amien Rais, saya akan awali artikel ini dengan nasehat ringan. Bukan maksud menggurui atau sok pintar, karena kalau bisa jujur, tak mungkin saya bisa melampaui wawasan anda yang adalah seorang mantan Ketua MPR RI, Pendiri dan mantan Ketum Partai Amanat Nasional (PAN), dan banyak lagi pengalaman anda yang tidak bisa saya jabarkan, termasuk kegagalan anda yang ngebet bangat jadi Presiden RI di tahun 2004 lalu yang dana kampanye anda akui sendiri berasal dari Departemen Kelautan dan Perikanan Rp. 200.000.000,- saat dijabat oleh Rokhimin Dahuri sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dimasa itu, serta penghianatan anda terhadap Gus Dur atau terhadap cita-cita reformasi.

Saya meyakini, semua pengalaman itu jarang didapatkan oleh manusia manapun, dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, mungkin hanya 5 atau 10 orang saja yang mendekati pengalamannya bapak.

Tapi satu hal, mungkin anda bisa saja tau tentang banyak hal yang lebih luas, tapi lupa dengan hal yang sederhana. Untuk itu saya ingin menasehati bapak. Jikapun tidak bapak suka dan tidak berkenan karena mulut yang berucap atau jemari yang menuliskan artikel ini hanyalah milik orang kecil dan masih muda, namun saya tetap akan menuliskannya untuk bapak.

Yang mau saya sampaikan adalah, "Masa tua adalah masa menikmati hidup, bermain bersama cucu, dan jadi negarawan penjaga tiang-tiang cita-cita kemerdekaan, khususnya cita-cita kebhinnekaan kita. Bukan lagi masa turun kejalan dengan semangat yang bapak sebut perjuangan aksi bela negara NKRI tetapi nyatanya malah merongrong kesatuan dan kebhinnekaan kita dengan isu politik identitas agama yang bapak beserta kelompok bapak lemparkan kemuka publik, ditambah lagi isu keterlibatan bapak dalam korupsi dana alkes di Kementerian Kesehatan era Pemerintahan SBY".

Nasehat diatas sebenarnya sudah sangat saya persingkat dari sekian banyak yang ingin saya sampaikan kepada bapak, agar bapak bisa membacanya dan ingat. Saya takut kalau terlalu panjang, nanti bapak malah cepat lupa, berhubung dengan faktor umur yang sudah tidak muda lagi alias udzun yang berakibat pada melemahnya daya ingat.

Melihat tindak-tanduk dan sikap bapak akhir-akhir ini yang menurut saya semakin "aneh", saya kemudian bertanya, apakah itu sepenuhnya diatas kesadaran bapak? Karena biasanya, menurut para ahli kesehatan, semakin tua umurnya membuat manusia bisa bertingkah kembali seperti anak-anak. Pengen main-main dan sensitifitas semakin tingi, aetinya gampang tersinggung, ingin perhatian lebih dan bisa jadi gampang pula di angkat-angkat atau dalam bahasa di Medan kami sebut " gampang diumbang-umbang atau dipanggar-panggar".

Apa mungkin itu yang terjadi pak?

Bisa jadi hal semacam ini yang terjadi dengan bapak saat ini, sehingga bapak juga lupa dengan kode etik Pimpinan KPK.

Bapak, cari perhatian atau cari teman main jangan sama KPK-lah pak, apalagi minta ketemuan segala dengan alasan ingin memenyebut dua nama orang besar yang tidak pernah tersentuh hukum kasus korupsi di negeri ini. Alasan klasik, padahal isinya ingin melobi agar kasusnya dimaafkan dan dilupakan oleh masyarakat di republik ini. Jika mau mengungkapkan siapa-siapa yang koruptor itu, baik orang biasa atau orang besar, ya... melalui proses dan mekanisme yang tepat dong pak..., kan ada jalur pengaduan masyarakat di KPK, kenapa tidak menggunakan jalur itu? Dan kenapa pula pas kasus anda terungkap baru mau ngomong? Mau main catur-caturan ya pak... HaHaHa. Atau begini saja pak, simpan aja dulu nama-nama itu, nanti sebutkan saat diperiksa atay setelah dijadikan saksi dipengadilan tipikor. Cocok bapak kira?

Ingat pak, pimpinan KPK punya kode etik yang sangat ketat. Bayangkan sama pejabat aja harus sesuai aturan, apalagi mau jumpa sama orang yang terkait erat dengan kasus korupsi yang berpotensi jadi tersangka?

Memang main-main sama KPK itu tidak ada enak-enaknya pak... Seram ku bilang. Itulah dia pak... Makanya jangan korupsi.

Sabar aja pak kalau ditolak ketemu dengan pimpinan KPK, karena itu memang sangat tidak etis.

Tapi, kalau ketemu sama penyidik KPK, kelihatannya itu sudah suatu hal yang pasti, melihat keterlibatan bapak melalui alira  dana sebesar Rp 600jt ke rekening bapak yang disebutkan oleh Jakasa KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta saat sidang Siti Fadilah, Menteri Kesehatan era SBY yang saat ini berstatus sebagai tersangka kasus korupsi dana pengadaan alat kesehatan (alkes) tahun 2005.

Terakhir pak...

Saya prihatin dengan kata pengantar yang bapak sampaikan di buku berjudul "Usut Tuntas Dugaan Kasus Korupsi Ahok" yang secara tidak langsung memfonis Ahok benar-benar telah melakukan korupsi.

Kabar baiknya, bapak bersama auditor senior BPK yang getol menyebut Ahok melakukan korupsi itu, sekarang malah tersangkut kasus korupsi. Yang satunya telah resmi ditahan KPK, sekarang rakyat tinggal menunggu perkembangan kasus yang mungkin akan menyeret bapak kedalam jeruji besi.

Sayang sekali, Ahok malah clear sampai sekarang dari kasus korupsi, hanya saja dia secara terhormat harus mendekam didalam penjara selama 2 tahun karena politisasi agama yang bapak mainkan bersama FPI di Pilkada DKI Jakarta beberapa bulan yang lalu.

Nasehat terakhir pak... "Jangan ditiru Habib Rizieq yang melarikan diri ke Arab ya pak... Itu contoh yang tidak baik. Bapak harus mempertanggungjawabkannya dan menghadapinya secara jantan demi hukum!".

Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Tuesday, May 30, 2017

Mie Gomak Mengintai Generasi Suku Batak

Ilustrasi Mie Berformalin
Siporsuk Na Mamora - Tahun yang lalu, saya pernah bertemu dengan seorang dokter yang bertugas di salah satu puskesmas yang ada di Kota Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.

Kami banyak bercerita tentang makanan mie-miean yang banyak dijual di kawasan Danau Toba, bahkan ada yang sudah menjadi makanan khas penduduk lokal, yang disebut dengan mie gomak. Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke daerah ini tanpa memakan makanan tersebut.

Saya bahkan salah satu orang yang menggemari makanan mie gomak buatan inang-inang Batak ini. Resepnya yang khas dengan bumbu-bumbu dan rempah-rempah lokal seperti andaliman dan lain-lain membuat makanan ini menjadi salah satu rekomendasi makanan yang wajib anda coba jika berkunjung ke daerah ini, karena memiliki rasa khas Tanah Batak.

Saya ingat betul, setiap saya berkunjung ke Danau Toba, baik sendiri atau bersama dengan tamu, menu makanan sarapan pagi kami pasti tidak lain adalah mie gomak. Hal ini rutin saya lakoni, karena menu ini sangat pas dijadikan sarapan dipagi hari yang sejuk sambil bersantai ditemani teh manis atau kopi.

Kenapa saya begitu menggemari makanan ini saat berkunjung ke Danau Toba? Alasannya karena ini adalah kesempatan makan mie gomak yang jarang terjadi. Ditambah lagi bahwa makanan ini tidak akan anda temui di daerah lain, seperti Medan.

Namum kelihatannya selera makan mie gomak harus rela saya kurangi setelah mendapat penjelasan dari dokter yang saya sebut diatas. Beliau menjabarkan penjelasan dari perspektif kesehatan yang sangat panjang dan masuk akal akan bahayanya mengkonsumsi bahan mie yang dipakai untuk membuat mie gomak. Saat itu juga, beliau meminta saya untuk segera berhenti mengkonsumsi mie gomak.

Akan tetapi, jujur saat itu saya masih menyimpan keraguan dan belum sepenuhnya yakin terhadap pendapat dokter tersebut, karena tidak disertai dengan dasar penelitian atau hasil tes laboratorium. Penjelasannya masih mengacu pada konteks mie instan dan mie lidi yang banyak dijual dipasaran. Saya hanya yakin dengan pendapatnya tak lebih karena didukung faktor profesinya saja sebagai dokter.

Sayapun berfikir, bisa jadi bahan mie yang digunakan untuk membuat mie gomak tersebut adalah mie buatan sendiri, karena pengalaman saya yang pernah menanyakan secara langsung kepada seorang ibu penjual mie yang mengatakan bahwa mie yang mereka gunakan adalah mie buatan sendiri.

Selain itu, saya juga berfikir, kalau saja mie instan dan mie lidi yang menyebar dimasyarakat mengandung bahan yang berbahaya bagi tubuh, kenapa pemerintah masih membiarkannya? Dan kenapa juga seorang dokter seperti mereka tidak melakukan penelitian yang resmi agar masyarakat seperti saya bisa memiliki alasan yang kuat untuk berhenti memakan mie gomak.

Satu lagi, saya juga mempertimbangkan satu hal yang tidak kalah jauh penting. Jika kita semua berhenti mengkonsumsi mie gomak, lantas apa lagi nanti yang akan menjadi sumber pendapatan ekonomi inang-inang mie gomak disana untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan sekolah anaknya?

Pertimbangankupun semakin melebar, saya malah berfikiran kalau ini sebuah politik ekonomi untuk mematikan sumber ekonomi masyarakat kecil. Lalu kemudian saya menyalahkan pemerintah yang tidak tegas pada peredaran bahan mie-miean berbahaya dipasaran.

Biasalah ya... Kalau kita memang sudah keburu menyukai sesuatu, baik benda ataupun makanan, maka alasan pembenaran apapun pasti kita cari. Seperti saya yang sejak dulu telah menyukai makanan mie gomak.

Hingga sampai pagi ini, saya membaca sebuah hasil tes laboratorium yang dilakukan oleh BPOM terhadap salah satu bahan mie yang banyak beredar di pasar Balige baru baru ini yang dipimpin langsung oleh Kepala BPOM Pusat, Penny Kusumastuti.

Menurut hasil tes laboratorium tersebut, salah satu bahan mie kuning yang beredar di pasar onan Kota Balige mengandung bahan berbahaya, yaitu bahan kimia formalin yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat.

Kenyataan ini membuat saya kaget, dan yang pasti saya semakin yakin kalau mie gomak yang saya makan selama ini telah membahayakan kesehatan saya. Karena sepanjang yang saya ketahui, jangankan mengkonsumsi, mencium bahan formalin saja dalam waktu yang lama kita bisa terkena kanker hidung.

Hal yang lebih mengagetka  lagi, tentang kenyataan bahwa mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan berformalin bisa menyebabkan kelainan genetika bagi manusia.

Hayalan saya melambung jauh kemudian tentang bahaya yang mengintai generasi suku Batak kedepannya. Ternyata, bukan hanya limbah TPL saja yang menjadi ancaman sekarang, tetapi turut juga bersumber dari makanan kegemaran masyarakat disana, yaitu mie gomak.

Kita tau betul, limbah TPL juga selama ini telah meracuni manusia disekitar Danau Toba, akibatnya sangat fatal terhadap kesehatan dan genetika manusia yang lahir kemudian. Tidak jauh beda dengan resiko saat kita mengkonsumsi makanan berformalin.

Saya juga semakin pesimis dengan membaca kenyataan dalam artikel yang merilis hasil tes laboratorium BPOM tersebut, terkhusus tentang sikap pedagang yang justru masih ngotot menjual mie berjenis yang sama dengan mie yang telah dinyatakan BPOM mengandung bahan formalin tersebut kepada masyarakat. Jelas-jelas makanan itu akan mengancam kesehatan masyarakat kita, kenapa masih ngotot menjualnya hanya dengan alasan tidak ada lagi barang yang mau dijual selain mie tersebut?

Pedagang tersebut harusnya mengintropeksi diri, lebih selektif dan berhati-hati, atau melaporkannya kepada pihak yang berwenang jika menemukan ciri-ciri mie yang mengandung bahan formalin seperti yang disebutkan Kepala BPOM Penny Kusumastuti, agar masyarakat Batak disekitar Danau Toba bisa terhindar dari kemungkinan bahaya kesehatan yang ditimbulkannya. Bukan malah menjualnya kembali dan membodoh-bodohi pembeli hanya dengan alasan untuk mendapat keuntungan yang lebih.

Jikalaupun ingin tetap jualan mie, janganlah menjual mie yang berformalin, atau yang berasal dari toke/produsen mie yang sama. Lihatlah dan telitilah mana mie yang layak dikonsumsi untuk dijual kepada masyarakat.

Artikel ini saya maksudkan untuk bahan refleksi, agar kita semua sadar makanan  sehat. Bukan berarti saya melarang makan makanan mie gomak atau jualan mie gomak.

Tujuan pembuatan artikel ini ada tiga hal :

Pertama, jika kita sebagai penjual bahan mie, mari menjual bahan mie yang tidak mengandung formalin. Ciri-cirinya gampang diketahui dari karakteristiknya, yaitu mengkilat dan tidak lengket. Jika menemukan ciri-ciri mie seperti itu, maka berhentilah untuk menjualnya kepada masyarakat.

Kedua, jika kita sebagai penjual mie  gomak, juallah mie gomak berbahan mie yang aman dari kandungan pengawet formalin. Atau jangan menggunakan bahan mie yang tidak memiliki ijin/tersertifikasi BPOM yang dapat dilihat dari bungkusnya. Bila perlu, bahan mienya dibuat sendiri.

Ketiga dan terakhir untuk para konsumen, jangan mengkonsumsi mie-miean secara berlebihan atau terus-menerus.

Kita jangan ngotot membeli atau menjual makanan berbahan mie kepada masyarakat yang sudah jelas-jelas kita tau mengandung bahan pengawet kimia formalin mengacu pada ciri-ciri yang sudah saya jabarkan diatas hanya untuk mendapat keuntungan lebih banyak. Ini demi kesehatan masyarakat kita kedepannya.

Jika tidak selektif dan teliti, masa depan generasi kita berikutnya akan menjadi taruhannya.

Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Monday, May 29, 2017

Malunya Habib Rizieq, Keinginan Menjadi Imam Besar Terhalang Kasus Lendir

Habib Rizieq Sedang Orasi
Siporsuk Na Mamora - Hari ini mungkin menjadi hari yang menyeramkan bagi Imam Besar FPI, Habib Rizieq. Orang yang sedari dulu ngotot bermimpi diangkat sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia ini sekarang (29/5/2017) telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pornografi berasama Firza Husein.
Tapi keinginan, penampilan dan kata-katanya didepan publik malah membuat posisi Habib Rizieq semakin dibenci, apalagi sikapnya yang terkesan melarikan diri dan tidak bertanggungjawab dengan kasus yang menimpanya. Alhasil, taunya hanya berteriak-teriak "fitnah, dizolimi dan dikriminalisasi" dari negara lain yang menjadi persembunyiaannya saat ini.
Tidak ada integritas sedikitpun yang tergambar dari sikap dan tindakannya. Buktinya apa? Kita boleh lihat banyak video-video ceramahnya yang beredar di youtobe dan media sosial, termasuk melakukan aksi swiping ke tempat-tempat yang mereka klaim sebagai tempat maksiat dengan sesuka hatinya.
Salah satu kasus yang paling menonjol yang diteriaki oleh FPI adalah kasus yang menimpa Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Kasus yang memiliki banyak kesamaan dengan kasus yang menimpa Habib Rizieq dan Firza Husein saat ini.
Hanya saja, perbedaannya soal cara menghadapi dan cara mempertanggung jawabkan kasusnya. Ariel memilih untuk bertanggungjawab dan menghadapi masalahnya dengan cara yang jantan, sementara Habib Rizieq malah melarikan diri dan bilang "saya dizolimi, saya difitnah atau saya dikriminalisasi", dan yang paling parahnya adalah menuding pemerintahan Presiden Joko Widodo melakukan konspirasi terhadap kasus yang menimpa dirinya. Ada juga aksi mengintimidasi pemerintah melalui tekanan-tekanan massa agar pemerintah tidak melakukan pengusutan lebih lanjut terhadap kasusnya tersebut, dengan alasan bahwa dia adalah ulama.
Persoalannya adalah, apa keuntungan pemerintah melakukan konspirasi untuk dirinya? Yang benar saja, kasus Habib Rizieq itu kan kasus biasa aja, pornografi. Hanya saja, rasa malunya mungkin tidak terpikul Habib Rizieq karena terlalu banyak memfitnah dan mengadili orang lain dengan sebutan-sebutan "penjahat moral dan maksiat" melalui organisasi binaannya FPI. Tak jauh berbeda dengan HTI yang dulu menyebut diri anti-Pancasila, setelah di "gebuk" pemerintah, malah bilang "kami bukan anti-Pancasila kok..".
Kalau kita percaya adanya "karma", maka sebenarnya Habib Rizieq ini sekarang sedang mengalaminya. Merasa diri sebagai orang suci dan paling agamais membuatnya dengan mudah mencap orang lain "sesat", "kafir" atau "penjahat moral", terakhir tuduhannya malah mengarah sendiri pada dirinya.
Yang membuat saya semakin tidak habis fikir adalah tentang sikapnya sebagai warga negara dalam menghadapi kasus hukum yang menjeratnya, terkesan melawan dan tidak taat pada aturan.
Dulu Melawan Joko Widodo, Sekarang Bertekuk Lutut
Ada sedikit yang aneh kemudian setelah beliau ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian, yakni Polda Metro Jaya.
Ternyata Habib Rizieq memang tak segarang kata-katanya saat bersama jutaan orang yang disebutnya sebagai peserta aksi bela Islam berjilid-jilid itu, dan juga tidak segarang ceramah-ceramahnya saat bersama para pengikutnya.
Sikapnya ini seolah-olah ingin mengadu domba Polri dengan Presiden. Mereka berusaha menciptakan opini di publik bahwa Polri seolah-olah memproses kasus Habib Rizieq tanpa koordinasi dengan Presiden Joko Widodo.
Ini sangat kontradiktif dengan statmen mereka saat berdemo dulu di DKI Jakarta, yang mengatakan bahwa Joko Widodo melindungi Ahok melalui Polri dalam kasus tuduhan penistaan agama. Merekapun kemudian tak segan meneriakkan "revolusi".
Garangnya mereka meneriakkan "turunkan Joko Widodo" atau menuduh pemerintah "zolim" tak segarang saat pimpinan mereka Habib Rizieq tersangkut kasus pornografi.
Justru sebaliknya, saat ini mereka memohon kepada Presiden Joko Widodo agar memerintahkan Polri supaya menghentikan kasus pornografi yang akan menyeret Habib Rizieq kedalam jeruji besi dikemudian hari.
Apa mereka tidak tau malu lagi ya? Bayangkan mau ditaro dimana muka Habib Rizieq sekarang, memohon belas kasihan dari orang yang selama ini mereka zolimi dan fitnah? Walaupun keyakinanku mengatakan bahwa tidak akan mungkin Pak Joko Widodo mengabulkan permohonan mereka, karena baginya pelanggaran hukum tetaplah pelanggaran hukum yang harus diproses sampai selesai seadil-adilnya, tanpa mengenal siapa dan berasal dari kelompok mana, karena semua sama dimata hukum.
Situasi alamiah yang kemudian menempatkan Habib Rizieq pada posisi dipermalukan saat ini dengan kasus lendir yang dihadapinya.
Takkan lagi muluk-muluk akan diangkat sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia, bahkan menunjukkan muka saja saat ini sudah menjadi hal yang paling memalukan bagi dirinya. Konon lagi ada yang menginginkannya sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia? Itu hanya mungkin bagi kaum bumi datar seperti Jonru dan anggota FPI yang memang daya pikir warasnya sudah mati karena kebencian dan fanatisme membabi butanya terhadap Habib Rizieq!
Pesan saya, mengadili Habib Rizieq bukan berarti mengkriminalisasi ulama. Membenci Habib Rizieq besera FPI atau HTI juga bukan berarti membenci umat Islam.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Sunday, May 28, 2017

Merasa Digebuk, Berarti Benar Mereka Kaum Radikal

Sumber : JawaPos.com
Siporsuk Na Mamora - Entah memang hanya lewat di beranda facebook milik saya saja atau di beranda facebook milik teman-teman juga bersliweran status beberapa orang yang merasa dan keberatan dengan kata "gebuk" yang disampaikan Pak Joko Widodo di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau pada tanggal 19 Mei 2017 lalu, mengacu pada organisasi yang anti terhadap Pancasila.
Ada status yang bahkan dengan terang-terangan menyebutkan organisasi mereka sedang digebuk saat ini oleh pemerintah, tentu saja disertai dengan nada yang provokatif dan mengeneralisir bahwa pemerintah telah menggebuk organisasi umat Islam di Indonesia.
Apa itu benar? Sementara dengan jelas, dalam ceramah tersebut, yang di maksud Presiden Joko Widodo harus digebuk itu adalah organisasi-organisasi yang anti-Pancasila dan Komunis. Lebih luas, beliau menjelaskan bahwa negara kita Indonesia dengan Ideologi Pancasila itu sudah final dan tidak boleh diganggu gugat lagi. Jadi, apabila ada organisasi masyarakat yang ingin keluar atau mengganggu ideologi Pancasila serta pilar negara yang lain, yakni UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, maka itu artinya bertentangan dengan hal yang sangat fundamental bagi bangsa ini. Untuk itu, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa negara harus menggebuk tanpa ragu.
Dasar yang paling kuat kenapa Presiden Joko Widodo menyampaikan pernyataan “gebuk” itu adalah Konstitusi bangsa Indonesia yang telah disepakati para pendiri bansa. Sejalan dengan janjinya sejak dilantik menjadi Presiden RI ke-7, yaitu menegakkan konstitusi NKRI yang telah merumuskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sudah final dan tidak boleh diganggu-gugat lagi, bahkan dengan ideologi manapun, termasuk Komunis ataupun Khilafah.
Inilah yang perlu dipahami seluruh masyarakat Indonesia, yaitu berpegang teguh pada konstitusi, bukan pada kehendak agama mayoritas dan lain sebagainya. Itu artinya, Presiden juga mengatakan bahwa tidak ada tempat bagi ideologi Khilafah di Indonesia, alias ilegal atau musuh negara.
Mungkin banyak yang shock dengan pernyataan Pak Joko Widodo ini, apalagi mereka yang sejak dulu menginginkan agar Indonesia menjadi negara Islam yang berdasarkan Ideologi Khilafah! Alhasil, merekapun mencak-mencak dan berteriak "kami bukan anti-Pancasila" setelah pemerintah benar-benar menggebuknya.
Harus kita paham betul, bahwa menggebuk kaum yang memaksakan Indonesia menjadi negara Islam yang berdasarkan Ideologi Khilafah bukan berarti menggebuk umat Islam.
Lalu kenapa kemudian ada yang berteriak "pemerintah sedang menggebuk umat Islam" setelah itu?
Pernyataan sejenis inilah yang sedang marak di beranda media sosial milikku. Mungkin maksud mereka menyebarkan pernyataan seperti ini adalah untuk memprovokasi umat Islam yang lain agar terpengaruh dengan paham mereka -membenci pemerintahan yang sekarang yang sedang menggebuk kaum radikalis- melalui media sosial.
Sebenarnya mereka sudah tau bahwa ide Khilafah mereka tidak ada gunanya dipaksakan diberlakukan di Indonesia, ditambah lagi pemerintah yang sekarang dengan tegas akan menghabisi mereka yang anti-Pancasila.
Jadi yang mereka lakukan itu sama seperti apa yang dilakukan oleh orang yang sedang hanyut terbawa arus sungai yang deras, yaitu panik mencari pertolongan dan pegangan ranting atau apapun yang ada disekitarnya, berharap agar mereka bisa selamat dan kembali melancarkan politik anti-Pancasila-nya di Indonesia dengan berdalih kemudian sungai itu yang salah dan berkata setelah sampai ditepian sungai, "aku tidak hanyut kok, hanya terbawa arus".
Bagi mereka yang terlalu lama terbawa arus dan hampir menemui ajal bisa jadi trauma dan terbawa ilusi kemudian setelah sampai di daratan. Begitulah juga orang-orang radikal anti-Pancasila ini, mereka selalu berilusi dengan impian mendirikan negara Islam berdasarkan ideologi Khilafah-nya, bahkan sampai ada yang gila teriak-teriak Khilafah seperti yang terjadi pada tokoh HTI di Kota Kediri.
Kembali ke konteks awal tentang orang-orang atau kelompok yang merasa di gebuk oleh pemerintah saat ini, tentang mereka yang memprovokasi masyarakat dengan mengatakan bahwa menggebuk organisasi mereka yang radikal berarti pemerintah menggebuk organisasi umat Islam.
Pernyataan-pernyataan seperti ini mungkin akan kita anggap biasa, tetapi bagi mereka yang labil dan fundamental, hal ini akan menjadi sangat berpotensi menjadikan mereka turut menjadi radikal. Targetnya utamanya agar semakin banyak orang yang membenci Presiden Joko Widodo.
Maka kita harus menjelaskan bahwa yang dimaksud pemerintah adalah kelompok yang radikal, intoleran dan anti-Pancasila, tak terkecuali apapun agama pelakunya. Karena sejatinya, mereka yang radikal akan lebih mudah memasukkan pahamnya dengan mengatasnamakan agama.
Sementara untuk mengenali mereka yang menganut paham radikal, lihat saja sikapnya. Jika mereka merasa digebuk dan dihabisi pemerintah, berarti orang beserta organisasi yang diikutinya memang benar-benar radikal dan anti-Pancasila.
Orang atau organisasi seperti ini harus kita antisipasi dalam menyebarkan virus paham radikalnya. Jika perlu, kita monitoring dan sebarkan di media sosial jika kita memiliki bukti berupa video dan statmennya, bila perlu jangan ragu melaporkan kepada pihak berwajib. Tujuannya agar semakin banyak orang yang waspada terhadap gerakan mereka, dan yang paling penting, agar pemerintah segera menindak-lanjutinya.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Saturday, May 27, 2017

Jonru Ginting

Jonru Ginting Diusir Dari Maumere
Namanya Jonru Ginting
Dia sering ngatain orang sinting
Padahal dia yang sinting
Mungkin terlalu sering menyinting

Kalau di facebook sering nyinyir
Alhasil sering di usir
Saat dia pergi pelesir
Tapi malah makin nyinyir

Dia penganut bumi datar
Ntah kapan dia mau nyadar
Kalau bumi bentuknya bulat, dasar
Otaknya memang dibawah standar

Makanya keahliannya membuat fitnah
Panutannya juga kena kasus dugaan chatting zinah
Dia malah bilang Polisi memfitnah
Padahal jelas pelakunya sudah mengaku bersalah

Tuesday, May 23, 2017

Tuhan Dalam Perspektif Kebudayaan Indonesia

Boru Batak
Siporsuk Na Mamora - Situasi kebangsaan kita hari ini sedang mengalami masalah serius, dibanyak sektor terutama disektor kebudayaan sebagai identitas paling menonjol dari sebuah bangsa mulai memudar drastis, bahkan hampir tidak bisa dibendung lagi.
Banyak alasan untuk meninggalkan kebudayaan kita, yang paling berbahaya adalah dengan alasan tuntutan iman kepercayaan, atau paling lazim kita sebut dengan budaya yang dibawa bersamaan dengan agama itu datang ke bumi pertiwi.
Entah apa hubungannya, sehingga meninggalkan kebudayaan asli ditinggalkan dengan rasa bangga. Tentu saja, jika alasannya adalah agama, maka tidak jauh-jauh dari alasan yang paling umum, yaitu agar punya tempat di surga.
Belakangan memang kerap kali kebudayaan kita tinggalkan dengan alasan yang dihubung-hubungkan dengan okultisme, mistis dan penyembahan berhala.
Kelompok-kelompok fundamental terkadang tidak ragu-ragu menghancurkan sebuah tempat yang berhubungan erat dengan warisan budaya hanya karena dianggap sebagai tempat yang musrik. Ada juga yang tidak segan-segan menuduh seseorang sesat hanya karena masih mewarisi ritual-ritual kebudayaan yang diwariskan para leluhur.
Saya bahkan tidak bisa berfikir, kenapa orang-orang itu melakukanannya? Apakah mereka juga akan memperoleh tempat di surga dengan melakukan hal semacam itu?
Padahal, kita bisa lihat bersama, sebenarnya para agamais fundamental itu juga secara tidak sadar juga melakukan ritual budaya warisan yang dibawa dari tempat agama itu awal mulanya berasal. Karena asal agama itu sendiri dominan dari timur tengah, maka yang mereka bawa sampai ke Indonesia-pun adalah warisan budaya. Hanya saja, mereka beranggapan bahwa warisan yang dibawa agama itu adalah warisan yang wajib demi memperoleh sebuah jaminan keabadian hidup setelah kematian.
Apa benar begitu?
Tentu saja saya bilang tidak.
Saya berfikir bahwa budaya dan agama yang sekarang itu hanya sebuah kondisi situasional yang akan berubah-ubah disetiap jamannya.
Contohnya, dulu nenek moyang kita mengakui bahwa adanya kekuatan diluar dari apa yang bisa kita lihat, tetapi dengan nyata kita bisa rasakan. Mereka menyimpulkannya dengan kekuatan alam semesta. Oleh karena itu, kebudayaan dan adat istiadat kita sangat berkaitan erat dengan alam.
Setelah berkembang, manusia juga menemukan hal baru, yang mereka namai dengan Tuhan, tapi tetap dengan prinsip bahwa Dia-lah sang pengendali alam semesta ini, ditambah lagi dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju, sehingga menggambarkan sosok Tuhan itupun kemudian dibalut dengan narasi-narasi yang semakin ilmiah. Maka manusia sekarang menyembah Tuhan, sang pemilik dan pengendali alam semesta.
Hal yang paling ekstrim adalah, bahwa manusia sekarang dengan bangga mengatakan bahwa Tuhan hanya ramah dengan satu ritual saja tergantung aliran agama masing-masing.
Ada yang meyakini bahwa Tuhan itu akan mengerti doa dengan bahasa Arab, ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu hanya mengerti dengan bahasa roh. Yang kedua lebih koplak, karena saya benar-benar tidak bisa mengerti entah apa maksudnya, tapi sebagian yakin bahwa Tuhan mengerti itu, dan mereka merasa sangat bangga saat bisa berkata-kata tanpa ada seorangpun mengerti dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, itu seperti sebuah pencapaian spritual yang luar biasa bagi mereka, namun bagiku itu hanya kebodohan! Saya tidak tau apakah itu cakap kotor atau sedang meledek Tuhan itu sendiri.
Kemudian tentang bahasa Arab yang pertama, baru-baru ini ada pengakuan yang mengatakan bahwa sebuah partai di Indonesia menggunakan bahasa Arab untuk loby-loby korupsi. Mungkin kalau kita bertanya langsung kepada mereka yang mengerti, mereka akan sebut bahwa itu “korupsi suci”. Maka semakin anelah dunia ini. Bayangkan jika anda sebagai orang yang meyakini bahwa bahasa itu adalah bahasa yang suci atau bahasa resmi untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Pertanyaannya, apa mereka tidak takut Tuhan akan dengan mudah mengerti niat busuk mereka untuk korupsi?
Itulah bahayanya jika kita tidak mengerti bahasa namun kita yakini bahasa tersebut adalah bahasa resmi berkomunikasi dengan Tuhan.
Jika saya berada diantara mereka yang loby-loby korupsi tadi, saya bahkan tak bisa berbuat apa-apa karena saya tidak bisa mengerti. Sayapun tidak akan sadar bahwa mereka ternyata akan berencana memenggal kepala saya keesokan harinya dengan uang korupsi yang mereka ambil tersebut.
Cara bepakaian juga menjadi penentu masuk sorga hari ini, padahal rata-rata disemua suku yang ada di Indonesia, semua pakaian lumayan terbuka, memperlihatkan leher, punggung dan bahkan sampai telanjang dada.
Jika mengacu pada cara berfikir kaum fundamentalis tersebut, maka mustahil diantara kita yang hidup di Indonesia akan mendapat tempat di surga. Katanya, berpakaiannya harus ala pakaian dijaman dan ditempat para nabi-nabi agama hidup. Inilah yang membuat kepongahan orang-orang fundamental semakin menjadi-jadi.
Beruntung tidak ada agama populer yang lahir dari Papua atau Tapanuli, kalau sempat ada, maka penampilannya akan ditiru para pengukutnya di seluruh dunia. Para lelaki pakai koteka, perempuannya bertelanjang dada. Atau kalau dari tapanuli, lelakinya bertelanjang dada pakai ulos dan perempuannya seperti dalam gambar perempuan cantik diatas.
Kufikir, Tuhan itu maha mengerti semua. Tidak ada bahasa daerah dan esensi dari adat dan budaya itu sendiri yang tidak Dia mengerti. Tidak ada juga hal yang diistimewakan, semua sama dimatanya.
Jika merubah dan meninggalkan budaya asli kita adalah sebuah jaminan untuk mendapatkan surga, kufikir kita keliru memaknai kebesaran Tuhan.
Mari bangga pada kebudayaan kita, memang akan banyak perbedaan. Namun suatu hal yang pasti, kita tidak akan bisa belajar menghargai dan merendah hati kalau perbedaan itu tidak ada. Oleh karena itu, kita telah menjadi bagian dari rencana Tuhan itu sendiri.
Kita perkenalkan kepada dunia bahwa kita bangga dengan kebudayaan kita, dari situ dunia akan mengingat dan mengenal kita. 

Monday, May 22, 2017

Membela Habib Rizieq Sama Dengan Mencoreng Wajah Islam Indonesia di Mata Dunia

Habib Rizieq Bersama Tim Pengacaranya Saat Melakukan Pertemuan di Arab Saudi
Siporsuk Na Mamora - Bau busuk mulut seorang Habib Rizieq sampai hari ini masih belum berhenti menebar aroma-aroma kebusukan dan kebencian dikalangan masyarakat Indonesia, bahkan saat dia tak lagi berada di Indonesia, tetap saja aroma bau busuk yang keluar dari mulutnya terasa semakin menyengat.
Salah satu korban bau busuknya yang kelihatan sangat kenttara adalah Ahok. Tentu saja bukan hanya beliau, yang paling mirisnya adalah ketika banyak anak-anak di republik ini yang terpengaruh oleh sifat-sifat intoleran ataupun perilaku a-moralnya yang dipertontonkan dihadapan umum.
Kecenderungan untuk membenci mereka yang non-muslim dan minoritas di republik ini semakin mengakar, ditambah lagi dengan tindakan-tindakan anarkisme dan main hakim sendiri, tanpa menghiraukan proses hukum senantiasa akan menjadi contoh buruk yang akan ditiru para generasi setelah kita.
Tekanan kepada Ahok itu hanya sebagian terkecil dari banyak kasus-kasus korban intoleransi. Katakanlah seperti pelarangan beribadah, pelarangan pendirian rumah ibadah dan sampai pada sweeping ataupun pembakaran rumah-rumah ibadah kaum minoritas di daerah-daerah lain yang tidak di ekspos secara besar-besaran oleh media.
Inilah akibat yang akan tetap kita warisi jika Habib Rizieq dibiarkan melenggang tanpa diproses hukum. Artinya, para generasi muda sekarang akan menganggap bahwa tindakan-tindakan seperti yang dilakukan Habib Rizieq adalah sebuah kebenaran, toh juga pemerintah diam dan tidak menindak.
Hari ini, Habib Rizieq mengundang para pengurus FPI dan Tim Kuasa Hukumnya ke Arab Saudi, dia menyerukan agar kasus yang menimpa dirinya dihentikan, karena Ahok telah kalah Pilkada DKI Jakarta dan telah dipenjara.
"Ahok sudah kalah di Pilkada, sudah kalah di Mahkamah, sudah selesai. Jadi nggak perlu lagi melancarkan politik balas dendam. Marah, murka panik, kalap. Nangkap aktivis, habib dan ulama". Sumber : DETIK.com
Beiau juga mengancam dengan menyebut agar pemerintah berhati-hati jika kasus terhadap dirinya tidak segera dihentikan.
"Setop semua kasus yang ada baik itu kasus yang menyangkut para ulama habib maupun yang menyangkut para aktivis. Kalau pemerintah melakukan itu berarti ada iktikad baik untuk membangun bangsa Indonesia. Tapi kalau terus menerus ulama ditekan, habib ditekan, hati-hati. Nanti bisa jadi pemicu meletusnya kemarahan umat di berbagai daerah. Saya tidak mau ini terjadi". Sumber : DETIK.com
Menciptakan opini agar seolah-olah pemerintah mengkriminalisasi ulama jika menangkap Habib Rizieq adalah bentuk lain dari provokasi terhadap masyarakat muslim Indonesia. Padahal, kalau boleh jujur, ulama yang mana? Habib Rizieq sendiri yang bermasalah dengan hukum, itupun murni karena kasus perbuatan asusila "chatting sex" bersama Firza Husein, pelecehan Pancasila dan penodaan agama Kristen.
Pertanyaannya, apakah ada umat muslim yang mau membela Habib Rizieq yang nyata-nyata telah mempermalukan umat Islam sendiri? Apalagi masih menyebutnya sebagai ulama?
Menurut saya, membela Habib Rizieq sama saja dengan mempermalukan umat muslim itu sendiri. Karena ulama itu harusnya memberi contoh teladan yang baik bagi umatnya, bukan mempertontonkan kemarahan dan kebencian terhadap masyarakat non-muslim, mengolok-olok Pancasila dan agama Kristen, atau chatting sex dihadapan umum.
Apakah semua kasus pelanggaran hukum ini harus dihentikan karena yang mekakukannya adalah seorang yang mengaku ulama? Kufikir tidak boleh demikian, karena itu tidak adil. Pelanggaran hukum tetaplah pelanggaran hukum yang harus ditindak lanjuti sampai tuntas! Tanpa mengenal siapa dan agamanya apa.
Sejarah mencatatkan bahwa ulama yang benar itu tidak akan melarikan diri untuk menghindari hukuman, justru dengan tegar dan berani menghadapi hukuman untuk membuktikan bahwa apa yang dilakukannya benar. Sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Habib Rizieq. Maka dari sini kita bisa menilai, bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, karena itu dia melarikan diri ke Arab Saudi.
Ketakutan, itu sudah pasti, karena dia memang melakukan kesalahan, hanya saja tidak mau mengakuinya agar tetap terlihat bagai dewa yang suci dihadapan para pengikut-pengikutnya.
Ketakutan Habib Rizieq bisa kawan-kawan lihat dari perubahan sikapnya sebelum dan sesudah di Arab Saudi.
Dulu teriak PEMERINTAH ZOLIM, LAKNAT DAN ANTEK-ANTEK PKI atau LENGSERKAN JOKOWI!
Sekarang teriak KAMI TIDAK MEMUSUHI PEMERINTAH ATAU POLISI!
"Kalau pemerintah mengambil kebijakan yang bagus ya kita dukung. Kalau mereka mengambil kebijakan yang salah kita kita kritisi terus, tanpa henti, apapun risikonya". Sumber : DETIK.com
Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mengiba rasa kasihan dari Presiden Joko Widodo dan Polisi, dengan maksud agar kedepan bisa menebar aroma bau busuk lagi dari mulutnya di Indonesia.
Pak Joko Widodo, gebukin aja dia Pak... Sampe bonyok beserta para pengikutnya kalau boleh.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!