Monday, October 2, 2017

Dukung Michael Haratua Rajagukguk, Guru Luar Biasa di Pelosok Asmat

Vote Michael Haratua Rajagukguk

Michael Haratua Rajagukguk, saat ini menetap dan mengabdi di Asmat, Papua. Seorang junior, sahabat sekaligus rekan segerakan saya semasa menjadi mahasiswa di organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Disini, jiwa pengabdian dan kepedulian kami untuk kemajuan bangsa sama-sama ditempah.
Berbekal pendidikan keguruan yang dia dapatkan di bangku kuliah jurusan Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Medan dan pelatihan-pelatihan leadership di GMKI, beliau membulatkan tekatnya untuk pergi mengajar ke pelosok melalui program SM-3T selepas dari bangku perkuliahan di tahun 2015.
Beliau terkaget-kaget ketika mengunjungi Distrik Agats-Asmat saat menjalani Program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdalam) Kemenristek-Dikti pada 2015. Banyak anak-anak bermain lumpur dan mengais sampah untuk mencari makan. Dia lalu menelusuri sampai ke kampung Simsagar. Di sana ia menemukan banyak anak usia 3-16 tahun yang putus sekolah atau tidak sekolah, hidup tidak sehat, dan kurang gizi.
Pemuda 25 tahun asal Pematang Siantar ini kemudian mendirikan Rumah Belajar Kampung Cahaya di Asmat, Papua. Di rumah belajar ini, amak-anak Asmat belajar secara gratis. Tidak mudah mengajak mereka datang ke Rumah Belajar. Istilah mereka, bagaimana belajar kalau dapur belum mengepul. Banyak di antara anak-anak itu yang harus membantu orang tuanya mencari makanan. Mereka biasa pergi ke hutan dan ke laut dalam waktu lama, sehingga tidak bisa ke sekolah. Namun, perlahan Michael bisa menarik anak-anak itu ke Rumah Belajar. Pada awalnya, program ini hanya diikuti 10 anak. Kini, sudah 256 anak terdaftar di rumah belajarnya.
Saya senang mendengar ketika kegigihannya dan kebulatan tekatnya dalam dunia pendidikan di pelosok negeri membuat anak-anak di distrik Agats-Asmat, Papua kini telah terbantu dalam mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak gampang menjadi pribadi seperti beliau ini di usia yang relatif muda, yaitu 25 tahun. Beliau layak mendapatkan apresiasi kita semua, pemuda yang peduli kemajuan pendidikan anak-anak generasi penerus bangsa di daerah pelosok.
Buat kamu yang peduli dan care dengan peningkatan pendidikan anak-anak di Papua, mari kita dukung perjuangan beliau dengan mem-VOTE saudara kita Michael Haratua Rajagukguk dalam ajang Satu Indonesia Awards 2017 yang diselenggarakan oleh PT. Astra International Tbk bersama Tempo Media Group sejak tahun 2010 untuk memberi penghargaan kepada lima pemuda yang dinilai telah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Jangan sampai dilewatkan ya... Ingat! Jika kamu peduli kemajuan pendidikan di Papua, pastikan VOTE anda untuk saudara kita Michael Haratua Rajagukguk.
Caranya :
2. Registrasi untuk buat akun
3. Pilih finalis Michael Haratua Rajagukguk
Vote di Kolom "KLIK DISINI UNTUK VOTE" Saudara Michael Haratua Rajagukguk

Aku bangga padamu kawan, terlebih karena kepedulianmu pada dunia pendidikan yang akan mencerdaskan generasi bangsa ini. Aku harap kalian juga merasakan hal yang sama seperti ku.
Mudah-mudahan ada waktu senggang dan kesempatan kedepannya, agar kita bisa minum kopi Lintong yang dipetik dari dataran tinggi Danau Toba di tempat pengabdianmu Agats-Asmat, Papua sambil berbagi mimpi, ide dan gagasan untuk kemajuan bangsa.
Selamat berjuang dan mengabdi kawanku...

Thursday, September 21, 2017

Maaf Jenderal, Film G30S/PKI Belum Lulus Sensor

Meme Film G30S/PKI
Siporsuk Na Mamora - Menarik memperhatikan dinamika perdebatan di media sosial akhir-akhir ini. Perubahan isu-isu yang muncul kepermukaan sangat cepat sekali, seolah-olah ada kekuatan di balik semua isu-isu tersebut untuk memanipulasi opini dan persepsi publik sesuai yang di inginkan.
Dalam pengamatan saya, yang di target mereka tetap saja adalah Jokowi. Hal ini terlihat dari penggorengan semua isu, baik nasional maupun internasional sengaja digiring untuk menyalahkan Jokowi.
Beberapa hari yang lalu, masyarakat kita masih sibuk membahas tentang konflik komunal di wilayah Rakhine State, Myanmar di media sosial. Bukan hanya di media sosial, di jalan-jalan juga ada yang sampe kesurupan dan lepas kendali saat memberi orasi. Tanpa dasar menuduh pemerintahan Jokowi pencitraan karena telah mengirim bantuan kemanusiaan untuk pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh.
Belum berakhir sampai disitu, ada juga yang teriak bahwa Jokowi harus segera menghentikan konflik di Rakhine State, Myanmar. Emang Jokowi presiden di Myanmar? Yang kacolah pikiran kakek tua itu.
Ada lagi, yang ini lebih gilak. Demonya bertema soal Rohingya, tapi isinya malah teriak "jangan pilih Ketua PSSI jadi Gubernur Sumatera Utara!". Loh... Hubungannya apa ya? HaHaHaHa... Dasar bani saracen! Maksud mereka sebenarnya mungkin begini, "pilihlah Bekacul Sembriwing si penyebar foto hoax pembantaian etnis Rohingya itu."
Kecenderungan mengait-ngaitkan persoalan atau masalah apapun yang terjadi di bumi ini terhadap Jokowi sudah sangat sering terjadi. Pembantaian etnis Rohingya, yang disalahkan Jokowi. Saat sudah dibantu malah dituduh pencitraan, Jokowi disalahkan lagi. Raisa jatuh ke pelukan Hamish Daud yang adalah warga negara Australia juga yang disalahkan Jokowi. Ini jaman mulai edan! Tapi bisa kita maklumi karena tahun politik nasional 2019 sudah mulai mendekat. Persaingan dan penggorengan isu, bahkan yang sudah basipun akan dilakukan dengan cara apapun untuk menghempang Jokowi di tahun 2019.
Setelah semua isu diatas digoreng habis-habisan untuk menyerang Jokowi, muncullah isu PKI yang katanya akan bangkit kembali. Lalu pemerintahan Jokowi dihujat, dituduh sebagai antek-antek dan juga pelindung PKI.
Sepertinya mereka telah kehabisan isu dan cara untuk menyerang Jokowi, sampai akhirnya muncullah ide soal PKI. Pintarnya mereka, tangan seorang Jenderal dijadikan sebagai pemantik pemicunya. Kebijakan kontraversial “nonton bareng film G30/S lalu dikeluarkan melalui tangan sakti sang Jenderal.
Kita memahami betapa kerja kerasnya TNI melindungi dirinya agar senantiasa dimasa depan tidak dipersalahkan oleh siapapun atas penumpasan anggota-anggota PKI tanpa ada pendekatan hukum yang berlaku saat itu. Para warga yang dituduh PKI seakan-akan halal hidupnya diambil TNI tanpa ada pengadilan pada masa itu.
Dalam catatan wikipedia.org, ada sekitar setengah juta orang yang dituduh anggota PKI dibantai dan kurang lebih satu juta orang dipenjara. Kejadian pembantaian ini terjadi pada masa transisi ke masa Orde Baru. Tidak ada yang pernah mempersoalkannya. Anehnya lagi, kita lebih takut pada PKI ketimbang kejamnya masa Orde Baru.
Kecenderungan narasi sejarah yang terbangun di mata publik dari materi film G30S/PKI hasil produksi Orde Baru tersebut tidak lain adalah menjadikan PKI sebagai orang-orang yang sangat kejam, tidak punya agama, pembunuh, tidak punya rasa kemanusiaan dan pemberontak negara. Di sisi lain, muncul image bahwa TNI bersih dari lumuran darah orang-orang tak berdosa yang di bantai bebas sesuai yang mereka inginkan.
Namun terlepas dari pro-kontra materi film nya, yang sebagian orang menganggapnya lebih cocok diketegorikan sebagai film fiksi ketimbang kategori film sejarah. Kita perlu membuat catatan kritis sebelum nanti film tersebut merusak generasi kita kedepan dan lalu kita menyesalinya dikemudian hari.
Salah satu kesalahan fatal Orde Baru adalah mewajibkan semua warga negara untuk menyaksikan film G30S/PKI setiap tahunnya, tepat di tanggal 30 September, tak peduli umurnya berapa. Dalam arti kata, tidak ada control atau batasan sama sekali buat mereka yang masih dibawah umur.   

Baca juga : Operasi Senyap Anies-Sandi : Mencari Dukungan Orde Baru, Umat Islam Harus Ingat Ini
Film G30S/PKI dengan segala kesadisannya menjadikan film tersebut termasuk dalam kategori film paling berbahaya jika ditonton oleh anak-anak dibawah umur. Jauh lebih berbahaya dari tayangan SMACK-DOWN yang terlarang itu. Kenapa? Karena sadisnya bisa mempengaruhi mental anak-anak, bahkan bisa lebih parah, bermuara pada praktek/meniru adegan sadir tersebut tanpa mereka sadar bahwa itu berbahaya.
Apakah ini yang diinginkan sang Jenderal? Sehingga beliau ngotot memutar film G30S/PKI di ruang-ruang publik, terlebih mengeluarkan perintah nobar bersama masyarakat?
Jika ini yang dilakukan, saya kira masyarakat bukannya memetik isi sejarahnya, namun sebaliknya malah menuai kerugian dari segi mental anak-anak mereka yang rusak akibat menonton kesadisan dalam film tersebut. Mereka (*anak-anak) tidak akan mengerti isi sejarah yang Bapak Jenderal maksud, tetapi lebih pada isi kekerasannya dan kesadisannya.
Oleh karena itu, kita tidak mau pemutaran film ini merusak mental kita lagi setelah sekian banyak generasi yang rusak dimasa Orde Baru akibat pemutaran film G30S/PKI secara berlebihan dan dalam waktu yang sangat lama.
Inilah perlunya merevolusi mental seperti yang dikatakan Jokowi, mental yang membaja untuk terus bekerja demi tanah air. Bukan mental yang selalu dijajah oleh masa lalu.
Mungkin salah-satu kerisauan yang mendorong Jokowi untuk membuat film G30S/PKI baru versi melanial atau kekinian. Manfaatnya akan sangat banyak. Salah satu contoh kecilnya adalah pembatasan adegan sadis atau sensor adegan sadis.
Jadi, gimana nonton barengnya pak Jenderal? Tunggu dulu, setelah lulus sensor dari lembaga sensor perfilman Indonesia. Ini demi anak-anak kita, para penerus bangsa ini. Jangan kita rusak mental mereka dengan adegan-adegan sadis.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Tuesday, September 19, 2017

Semakin Cinta Pak Jokowi

Jokowi
Siporsuk Na Mamora - Dulu, bangsa ini telah bersepakat untuk melarang penayangan film G30/S di seluruh wilayah bangsa Indonesia.

Lalu kenapa ada lembaga atau kelompok yang menayangkannya sekarang secara besar-besaran dan terang-terangan?

Seharusnya negara bisa menertibkan itu atas dasar penegaakan aturan yang sudah disepakati bersama pasca lengsernya Soeharto.

Ada oknum pewaris Orde Baru di tubuh TNI yang sengaja ingin mempermalukan dan menginjak-injak harga diri bangsa ini demi keuntungan pribadi. Oleh karena penayangan film ini secara massal kembali, itu sama saja negara ini tidak bisa menjaga komitmennya sendiri. Akibatnya, secara politik Jokowi yang akan di cap gagal menjaga harga diri bangsa. Akhirnya Jokowi juga yang tercoreng wajahnya di masyarakat dan juga dunia Internasional.

Efek lain dari penayangan kembali film ini juga akan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. Para investor yang selama ini sudah mulai yakin akan berinvestasi di Indonesia karena berkali-kali diyakinkan Jokowi akan merasa ragu kembali untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Akibatnya proyek infrastruktur dan pembangunan nasional akan terhambat dan tersendat.

Lagi-lagi ini akan digiring menjadi kegagalan Jokowi dan menjadi isu berharga untuk jualan di pilpres tahun 2019 mendatang.

Presidenku Jokowi, bersabarlah dan tetap teguh! Karna sejatinya masyarakat kita sudah bijak dan sadar akan berbangsa dan bernegara.

Kita sadar bahwa takkan mungkin kita kembali ke masa lalu di belakang yang setiap harinya di bodoh-bodohi rezim Orde Baru selama puluhan tahun lamanya. Saya bisa merasakan, masyarakat kita takkan ada yang mau kembali ke zaman itu.

Baca juga : Etnis Tionghoa dan Warisan Kebencian dari Penjajah Belanda

Jika hari ini TNI bersekukuh untuk menayangkan film itu kembali, dan terlebih tujuannya agar oknum di dalam sana mendapatkan simpatik dari masyarakat yang masih hidup atau seolah-olah sedang hidup dalam bayang-bayang zaman Orde Baru demi menjatuhkan citra Jokowi dimata masyarakat dan dunia, yakinlah bahwa yang terjadi malah akan sebaliknya. Masyarakat akan semakin sadar bahwa film itu dulu yang dimanfaatkan untuk menindas, mengintimidasi dan menghisap darah rakyat oleh penguasa dan juga untuk mempertahankan kekuasaan otoriter Orde Baru.

Fobia dan kebencian terhadap ideologi komunis yang muncul akibat penayangan film G30/S secara berlebihan dan penuh sarat politik di lingkukan masyarakat dulu mungkin akan tumbuh semakin subur. Namun sekarang akan benar-benar berbeda, bahkan yang terjadi justru akan sebaliknya. Masyarakat akan semakin tau bahwa banyak kebohongan yang dimuat di film itu, TNI yang di citrakan sebagai lembaga heroik bangsa yang bersih dan tidak berdosa akan terasa tidak masuk akal lagi karena sejatinya antara PKI dan TNI, yang puya pistol hanyalah  TNI. Jadi siapakah kira-kira yang lebih banyak makan korban?

Namun semua fakta itu tersimpan rapat oleh klan Orde Baru yang saat itu sangat mesra dengan TNI. Istilahnya, "biar tak ketahuan cekkian". Cekkiannya apa? Kekuasaan!

Setelah it semua, terjuallah Papua ke pihak asing dan masih banyak lagi kekayaan alam bangsa ini yang jatuh ke tangan asing. Kemudian, hutang membengkak dan anak cucu kita mau tak mau harus menanggungnya sejak terlahir sampai meninggal kemudian.

Semakin film ini di ingatkan, semakin benci pulalah masyarakat kepada para begundal-begundal peninggalan Orde Baru itu. Masyarakatpun semakin sadar bahwa : "Hidupnya sudah lebih baik di era Jokowi" ini dibanding dengan era Orde Baru si produser film G30/S itu.

Mereka juga harus menyadari, bahwa alam raya nusantara telah memilih Jokowi sebagai pemimpinnya. Tidakkah mereka merasakan bahwa semua fenomena yang terjadi seolah datang begitu natural? Semuanya menjadikan Jokowi semakin perkasa. Sebaliknya menjadikan para pembencinya hidup tak lebih sebagai pecundang.

Salah satu dari mereka adalah Amien Rais. Sekarang, partai PAN yang dulu di bangunnya pasca reformasi 1998 ikut-ikutan menayangkan film G30/S tersebut. Itu artinya beliau ingkar pada dirinya sendiri. Harusnya dia malu menamakan diri sebagai tokoh reformasi 98. Kenapa? Karena dia sekarang melalui partai binaannya ingin menggiring kita kembali kedalam kehidupan di masa Orde Baru.

Baca juga : Pak Tua Amien Rais, Bertemu Pimpinan KPK Itu Dilarang, Tetapi Bertemu Penyidik KPK Itu Pasti!

Lagi-lagi karena sikap ingkarnya tersebut, masyarakat akan sadar bahwa beliau tak layak disebut sebagai tokoh bangsa, melainkan makelar isu demi memburu kekuasaan. Bahkan demi kekuasaan, dia rela menjilat ludah sendiri.

Kitapun semakin sadar, "bagaimana mungkin sebuah partai akan memiliki ideologi kuat kalau pendirinya sendiri ideologinya hanya sejauh orientasi kekuasaan semata?".
Sumber : detik.com
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Sunday, September 17, 2017

Sindiran Prabowo Dibalas Jokowi Dengan Pamer Kebahagiaan Bermain Bersama Cucu, Prabowo Cucunya Mana?

Orasi Prabowo di aksi 169 Bela Rohingya
Siporsuk Na Mamora - Harus kita akui bahwa Joko Widodo, Presiden RI yang berbadan kurus dan cungkring itu memiliki cara tersendiri dalam menjawab tuduhan-tuduhan yang selalu mendiskreditkan apapun yang dikerjakannya untuk bangsa ini, baik dari para pembenci ataupun lawan-lawan politiknya yang sedari awal tidak menyukai segala ide-ide dan kerja-kerjanya untuk membangun bangsa ini. Cara ini lazim disebut dalam dunia politik sebagai teknik komunikasi politik.

Setelah saya mengenal Jokowi, arti dari teknik komunikasi politik yang saya sebut diatas tidak lagi semata hanya tentang bagaimana caranya lobbying, bagi-bagi kursi, membangun kesepakatan politik atau sebatas mencari simpatik rakyat. Pengertian itu telah berkembang seiring kepemimpinan gaya baru yang diperkenalkan oleh Jokowi kepada kita.

Bagi Jokowi, bekerja itu adalah tugas kita sebagai manusia, "kerja, kerja, kerja! Itulah tugas kita" katanya.

Teknik komunikasi politik gaya baru yang diperkenalkan Jokowi ini sangat up-date, ramah dan sesuai dengan perkembangan jaman di era teknologi saat ini. Saya tidak tau menamainya, tapi yang pasti dengan membaca artikel ini sampai akhir, kalian akan mengerti seperti apa itu komunikasi politik gaya baru ala bapak Presiden RI Joko Widodo.

Satu tindakan atau sikap yang sangat keji jika kita menuduh orang pencitraan karena membantu seaeorang. Begitulah yang dilakukan Prabowo kepada pak Jokowi beberapa hari lalu.

Prabowo, pada kesempatan memberi orasi di aksi nomor togel 169 bela Rohingya di Patung Kuda dan Bundaran HI yang dilaksanakan pada hari Jum'at 16 September 2017, menuduh pemerintah Indonesia yang Presidennya adalah Jokowi hanya melakukan pencitraan semata dalam upaya pengiriman bantuan kemanusiaan kepada pengungsi Rohingya di Bangladesh, yang sampai hari ini telah terlaksana sebanyak 6 tahapan atau gelombang.

Kita tahu, atau mungkin tidak banyak yang tahu karena gerakannya sengaja dibuat tersembunyi, bahwa Presiden RI selama satu tahun penuh telah melaksanakan upaya-upaya kongkrit dalam upaya ikut terlibat menangani penyelesaian konflik komunal yang terjadi di Rhakine State, Myanmar. Pemerintah sengaja tidak menggembar-gemborkan strategi itu kepada publik selama ini hingga kelihatanlah hasilnya setelah Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI yang adalah satu-satunya perwakilan dari negara se-Asia Tenggara yang bisa duduk bersama dengan Aung San Suu Kyi dan Jenderal Senior Min Aung Hlaing secara terpisah untuk membicarakan penyelesaian atau penanganan krisis yang terjadi di Rakhine State, Myanmar. Kalau bukan ada upaya kongkrit sebelumnya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, mana mungkin hal semacam itu terjadi? Terlebih ketika saat ini bahwa Indonesia adalah negara satu-satunya yang dipersilahkan pemerintah Myanmar masuk memberi bantuan kemanusiaan. Sampai disini, Indonesia sukses memainkan perannya di ASEAN, sebagai corong komunikasi penyelesaian konflik Rohingya dan sekaligus corong memberi bantuan kemanusiaan.

Baca juga : Tak Hanya Menyebar Hoax, Kini Tifatul Sembiring Coreng Wajah DPR-RI Sebagai Lingkaran Transaksi Informasi Hoax!

Dengan upaya-upaya yang tentu saja tidak mudah itu, yang sudah sukses terlaksana oleh pemerintah RI dalam hal ini Presiden RI Joko Widodo, tetap saja ada suara-suara sumbang yang tidak lebih hanya sekedar retorika belaka dari beberapa orang pembenci Jokowi. Kali ini datang dari capres abadi Prabowo, suara itu tidak lain hanya bertujuan untuk sekedar mengisi telinga para pengikutnya yang sudah buta dan tuli terhadap kesuksesan-kesuksesan kerja keras Jokowi selama ini.

Ibarat kata, "jaga langganan" kalau istilah kami di Medan. Nah.... Kalau sudah begitu, yang pencitraankan yang teriak pencitraan itu sendiri dong? Iya-iyalah! Orang tujuannya supaya terlihat peduli saja, dan biar dianggap lebih punya kemampuan dari Jokowi, padahal sebenarnya tindakannya nol, taunya hanya teriak-teriak mengecam saja. Jokowi bilang, "tidak ada gunanya kalau hanya terial mengecam saja." Sampai disini ada yang tidak sepakat? Kufikir semua sepakat ya?

Apakah Jokowi menanggapinya dengan statmen juga? Tidak dong. Karena Jokowi tau, kalau urusan teriak-teriak dan kecam-mengecam pasti dia kalah banyak dari kelompok sebelah. Menangnya pak Jokowi itu hanya soal tindakan kongkrit. Dalam bahasanya Jokowi sendiri disebut "kerja, kerja dan kerja!".

Kembali soal tugas kita sebagai manusia yang adalah bekerja, maka hematnya pak Jokowi, tidak ada guna menanggapi hal-hal dan tuduhan-tuduhan miring yang ditujukan kepadanya, mari bekerja saja, toh juga rakyat sudah pintar menilai mana yang bekerja dengan serius dan mana yang hanya ngomong saja tanpa ada tindakan.

Baca juga : Strategi Politik Busuk Dibalik Kemenangan Anies-Sandi

Jika banyak pendukung sebelah mendukung pernyataan Prabowo yang menyebut Jokowi hanya bertujuan untuk pencitraan saja dalam mengirim bantuan ke etnis Rohingya, sampai-sampai viral dimana-mana, seolah-olah mereka sedang ejalulasi. Maklum saja, mungkin hanya sebatas itu yang bisa membuat mereka merasa terhibur dengan segala kegagalannya. Sama seperti junjungannya yang selalu gagagal. Gagal di dinas keprajuritan, gagal membina keluarga dan gagal menjadi presiden.

Hebatnya Jokowi itu, ketika dia di hujat, di ditnah dan yang terbaru dituduh pencitraan karena mengirim bantuan kemanuaiaan ke etnis Rohingya, dia justru mengajarkan kita agar tetap jangan lupa merayakan kebahagiaan bersama keluarga. Kali ini beliau kasih postingan di fanspagenya yang lagi bahagia bermain bersama dengan sang cucu.

Pasti orang yang lagi kecam-mengecam, teriak pencitaan kejang-kejang ditempat tidur, nangis-nagis meratapi kegagalannya dalam membangun sebuah keluarga, dan belum juga punya cucu.

Tau aja pak Jokowi bahwa orang yang menuduhnya pencitraan dan menghujatnya takkan bisa mendapatkan dan menikmati kebahagiaan yang sama seperti yang sedang dinikmatinya.

Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Thursday, September 14, 2017

Bupati 1 Kilo Jagal Babi

Babi ber-Mahkota
Siporsuk Na Mamora - Nangpe songon na ngeri-ngeri sedap perasaan alani adong Bupati na baper dibaen kalimat tulisan hu di salah satu group fb, jala mencak-mencak mengambil tindakan mutasi PNS sian ujung barat tu ujung timur. Alai boha ma bahenon, alasanna do sude i. Inna rohana, boha ma asa hatop mulak modal kampanye on.

Uang hasil pinjamannya yang dulu digunakan membeli #1KiloJagalBabi untuk menyogok/memperdaya rakyat -pemakan daging Babi- agar memilihnya sudah harus secepatnya dikembalikan kepada pemodalnya.

Lalu dia menakut-nakuti semua aparatur di daerahnya dengan cara mutasi tanpa rasa manusiawi setiap kali ada dari mereka yang duduganya tidak menguntungkan bagi pribadinya sendiri, baik secara politik dan secara finansial. Gunanya apa? Agar muncul pandangan "akselerasi" atau yang paling ekstrim image "menakutkan" bagi mereka yang ingin memberi kritik.

Namun jelas! Alasan itu semua hanya bagian dari "modus" kesewenang-wenangannya saja agar mutasi terlihat lebih rasional di mata masyarakat. Dan dibalik itu semua, yang ada sebenarnya terjadi adalah agar transaksi "jual beli jabatan" tidak terlalu kelihatan, dan tujuannya adalah tidak lain dan tidak bukan untuk mendapatkan keuntungan pundi-pundi pribadi.

Dia mulai bingung mencari orang yang mampu memberinya harga lebih mahal untuk posisi jabatan tertentu. Makanya banyak yang kosong, secera otomatis jalannya pemerintahan agak terganggu.

Lagi pula, beliau belum lewat masa jabatan 6 bulan, itu artinya belum bisa melakukan rotasi dan juga belum ada wewenang melantik kadis-kadis. Namun semua telah di Plt.-kan. Lalu, Plt seharusnya belum bisa mengeluarkan SK, tapi kenapa terlalu bernafsu untu rotasi pak? Kurang cepat balik modal? Hingga tak sabaran menunggu sampai 6 bulan menjabat dulu?

Apa si kawan ini tidak berfikir? Bahwa jasa para PNS yang dikorbankannya hanya karena dendam politik sudah lebih lama berjasa, dan lebih banyak mengabdi untuk daerah dibandingkan dirinya. Sadarilah, bahwa mereka -PNS- telah mengabdikan dirinya kepada bangsa ini bahkan sejak sebelum Anda terlahir ke bumi pertiwi ini.

Tindakan yang sangat arogan dan terkesan tidak tau aturan main.

Oke, kaki tangan mulai berjalan jual sana dan jual sini. Tidak ada bedanya antara jabatan dan paket proyek.

Temanku berbisik, "ninna imana, harga diritta ninna 1 kilo jagal babi do, benna gabe tarpillit ibana gabe Bupati - katanya, harga diri kita hanya 1 kilo daging babinya, makanya dia bisa terpilih jadi Bupati".

Lalu jawabku dengan sedikit bercanda, "ternyata, daging haram itu juga yang mengantarkan dia ke kursi Bupati itu ya..." Kamipun lalu tertawa bersama-sama. Dalam tawa, kamipun sadar, bahwa proses demokrasi demikian masih kental terasa di lingkungan kami, kenapa? Karena kami masih berada di provinsi yang namanya Sumatera Utara.

Kita lihat-lihat saja dan kita tunggu kapan waktunya beliau tercyduk KPK. Karena kabarnya, proses pengembangan rentetan kasus Akil Mochtar masih berjalan hingga hari ini.

#kurirSuapAkilMochtar #kepalaArga1KiloJagalBabi

Monday, September 11, 2017

Penghina Ibu Iriana Diciduk Tim Polres Bandung di Palembang

Penghina Ibu Iriana Ditangkap Polisi
Siporsuk Na Mamora – Gays... Masih ingat foto viral beberapa hari lalu tentang foto di akun instagram milik @warga_biasa? Kemarin pemiliknya di ciduk di Kecamatan Alang-alang Lebar, Kota Palembang. Tepatnya dirumah orang tuanya oleh tim dari polrestabes Bandung yang langsung berangkat ke Kota Palembang.
Pemilik akun instagram @warga_biasa ini diketahui berinisal DI alias Dodik. Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi yang berada di Bandung.
Sebelumnya, foto hinaan Ibu Negara Iriana Joko Widodo diposting di intagram @warga_biasa pada tanggal 7 September 2017 dan langsung viral dan mendapat berbagai macam tanggapan dari para nitizen, termasuk salah satunya adalah putra sulung Joko Widodo. Gibran melalui akun twiternya @chilli_pari sempat menanggapi foto tersebut dengan komentar singkat, “biarin, dimaafkan aja”.
Banyak warganet yang geram dan marah dengan postingan foto tersebut, karena dianggap sangat kasar, tidak pantas dan menghina Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Mereka mengecam dan menyarankan agar pelakunya segera ditindak kepolisian.
Masyarakat banyak mengenal Ibu Iriana sebagai sosok yang sangat kalam, ke-Ibu-an dan tidak terlalu menonjol, juga tidak pernah ikut-ikutan urusan politik apalagi aktif di sosial media.  Sangat berbeda dengan Ibu Negara kita sebaglumnya yang ikut-ikutan berpolitik, berdebat di sosial media dengan kata-kata yang tidak pantas menurut warganet.
Pesona Ibu Iriana justru terpancar dari penampilan sederhana dan sikapnya yang kalem, santun dan irit bicara mencampuri pemerintahan. Namun ternyata itu tidak cukup membuat Ibu Iriana terhindar dari fitnah dan caci maki.
Lantas kenapa ada orang yang menghina Ibu Iriana dengan kata-kata yang sangat keji seperti dalam akun @warga_biasa milik DI ini? Seolah-olah dia tidak memiliki ibu saja...
Hari-hari kita dipenuhi dengan caci-maki, fitnah dan ujaran kebencian yang berbau sara di internet. Terlebih lagi hinaan, fitnah dan caci maki itu selalu diarahkan kepada Joko Widodo dan keluarganya. Banyak yang tidak sadar, bahwa Presiden dan Ibu Negara adalah simbol Negara yang harus dilindungi kehormatannya. Menghina Presiden dan Ibu Negara sama artinya mencoreng wajah bangsa kita di mata dunia.
Artinya, bisa saja Ibu Iriana dan keluarga memaafkan perbuatan sang pelaku penghinaan, tapi jangan salah kalau tim dari pengamanan Presiden melaksanakan SOP yang bertujuan untuk melindungi sang Presiden dan keluarga, baik dari serangan fisik maupun non-fisik.
Ayok pak Polisi, gebuk para penebar kebencian berbau sara, fitnah dan hoax!
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Strategi Politik Busuk Dibalik Kemenangan Anies-Sandi

Asma Dewi bersama Anies-Sandi
Siporsuk Na Mamora – Pilkada DKI Jakarta memang sudah terlewat jauh. Ahok juga sudah di penjara karena postingan Buni Yani, dan Anies-Sandi juga sudah disahkan sebagai pemenang.
Namun kita tidak bisa serta merta melupakan semua dinamika politik yang terjadi selama perhelatan pilkada DKI Jakarta berlangsung. Ada catatan penting yang tidak begitu saja bisa kita lupakan, yaitu massivenya dan terstrukturnya kampanye bermuatan isu sara, ujaran kebencian, mobilisasi massa/demo bernomor togel berjilid-jilid, hoax, politisasi rumah ibadah dan sampai pada ancaman tidak menyolatkan mayat pendukung Ahok-Djarot. Inilah catatan penting dan memilukan yang kita warisi dari proses demokrasi di pilkada DKI Jakarta.
Ahok yang di mata masyarakatnya memiliki kinerja yang bagus, tegas dan terlebih anti korupsi harus rela keok di putaran kedua pilkada DKI Jakarta akibat dari banyaknya cara kampaye hitam yang diarahkan kepadanya secara terus menerus dan berskala besar-besaran. Jakarta tiba-tiba ramai dikunjungi oleh orang-orang dari luar daerah dengan tujuan untuk berdemo, sebagian dari mereka berteriak lantang “gantung Ahok!!!, bunuh Ahok!!!, Ahok kafir!!!” dan masih banyak lagi teriakan yang lain.
Kondisi politik yang tidak kondusif sengaja diciptakan kelompok tertentu selama pilkada DKI Jakarta secara tidak langsung waktu itu menguntungkan pihak Anies-Sandi.
Semua bertanya-tanya pada waktu itu, namun semua tidak menyangka bahwa ternyata ada segerombolan orang sindikat penebar konten berisi ujaran kebencian berbau sara dan hoax melalui media sosial/internet yang dimanfaatkan politikus tertentu yang haus akan kekuasaan guna untuk mencapai kemenangan.
Sebenarnya diawal telah mulai tercium kebusukan itu setelah tertangkapnya Ketua GPMF-MUI Bactiar Nasir oleh Bareskrim Polri dengan tuduhan pencucian uang yang menyangkut pembiayaan aksi 212. Namun itu ternyata belum seberapa dibanding dengan kasus sindikat Saracen yang terkuak kemudian.
Rentetan benang merah pelaku, atau pengorder konten isu sara kepada pengurus Saracen sudah mulai terlihat jelas dengan pengungkapan kasus sindikat Saracen. Melalui anggota-anggota Saracen yang sudah ditangkap polisi beserta rekam jejak mereka, kita bisa memahami dan mengetahui pihak siapa sebenarnya yang mengorder konten-konten keji kepada pihak Saracen.
Asma Dewi, nama yang belakangan mencuat karena kasus ujaran kebencian di media sosial. Polisi juga telah memastikan bahwa ibu rumah tangga yang berasal dari Sulawesi Utara ini turut terlibat dalam sindikat kelompok Saracen. Bahkan lebih jauh, polisi juga mengatakan bahwa Asma Dewi pernah mentransfer uang senilai Rp 75 juta kepada bendahara tim inti Saracen bernama Namlea Solo.
Sepanjang pengamatan saya, Asma Dewi memiliki peran yang sangat penting di pihak tim Anies-Sandi.
Fakta-fakta hubungan dekat Asma Dewi dan pihak tim Anies-Sandi bisa kita lihat dari rekam jejak foto elektronik milik Asma Dewi yang telah banyak menyebar di media-media sosial.
Selain itu, ada beberapa jabatan strategis organisasi taktis yang bertujuan menghadang Ahok agar tidak terpilih lagi sbagai gubernur DKI Jakarta periode ke-2 di duduki oleh Asma Dewi.
Pertama : Sekretaris Presidium Alumni 212 yang notabanenya adalah kelompok yang dulu berdemo di monas menuntut Jokowi menahan Ahok secepat mungkin terkait kasus penistaan agama Islam. (CNNIndonesia.COM)
Kedua : Bendahara tamasya Almaidah yang bertujuan untuk memobilisasi massa dari daerah ke DKI Jakarta pada pilkada putaran kedua guna untuk mengawasi dan mengamankan suara cagub muslim yang tidak lain adalah Anies. (Tirto.ID)
Posisi jabatan strategis organisasi taktis di atas inilah yang kemudian membuat saya dan teman-teman yang lain dapat melihat jelas akan siapa dan apa peran Asma Dewi dalam hubungan antara Saracen, 212 (GMF-MUI) dan Tamasya Almaidah dengan pihak Anies-Sandi dalam upaya memperoleh kemenangkan di pilkada DKI Jakarta.
Semua sudah mulai kelihatan terang-benderang kepada publik, siapa atau pihak mana yang doyan mengorder berita hoax dan ujaran kebencian kepada pengurus Saracen selama ini demi untuk meraih kemenangan dalam pilkada.
Karena itu, kita bisa berkesimpulan bahwa sebenarnya, kemenangan Anies-Sandi didapatkan dari cara-cara kotor dan menjijikkan! Karena mereka berkompromi dengan sindikat Saracen yang telah secara massive, terstruktur dan berpengalaman menebar isu-isu yang berisi ujaran kebencian, mengandung unsur sara dan hoax di media-media sosial/online.
Seyogyanya kemenangan adalah hal yang harus diraih dengan cara terhormat. Manakala kita meraihnya dengan cara-cara curang, maka hilanglah sudah kehormatan kita bersamanya.
Mari kita dorong pemerintah melalui kepolisian untuk mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya kasus sindikat kelompok Saracen.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Jejak Politik Dibalik Grup Saracen

Rekam Foto Asma Dewi

Siporsuk Na Mamora – Siang ini kita perhatian kita kembali dibawa pada kelompok Saracen yang beberapa bulan lalu telah di ungkap Kepolisian RI. Pemberitaannya pun meledak, mengambil tempat-tempat berita headline hampir diseluruh media nasional dan juga lokal.
Presiden RI Joko Widodo telah memerintahkan Kapolri Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus Saracen sampai ke akar-akarnya.
Saracen ini begitu menarik perhatian karena keprofesionalannya memproduksi dan menyebarkan konten-konten berbau SARA, ujaran kebencian dan HOAX, turut serta juga menyeret nama-nama politikus dan tokoh-tokoh kenamaan -versi sebelah- yang suka nyinyir kepada pemerintah dan bahkan ada beberapa dari mereka yang terlibat kasus makar.
Kita mengapresiasi kerja keras dan gerak cepat kepolisian kita atas pengungkapan kasus ini. Jika terlambat, bukan tidak mungkin kelompok ini akan menjadi monster penebar kebencian di negeri ini dan menjadi alat strategis para kelompok radikal dan politikus yang haus akan kekuasaan.
Siang ini, seorang lagi bagian penting dari mereka –grup Saracen– diciduk polisi karena terlibat dengan kasus yang sama, yaitu menyebarkan ujaran kebencian. Seorang ibu rumah tangga bernama Asma Dewi.
Asma Dewi adalah orang kedua berjenis kelamin perempuan dan ibu rumah tangga yang diciduk polisi, setelah sebelumnya menangkap Sri Rahayu Ningsih yang juga perannya tidak kalah penting di grup Saracen.
Aktivitas Asma Dewi ini tidak jauh berbeda dengan Sri Rahayu Ningsih. Makan bersama politikus, update status berisi ujaran kebencian dan foto-foto bersama politikus-politikus kenamaan dari partai yang sama, yaitu Gerindra.
Apakah ini kebetulan?
Kalau sekali saja, mungkin hanya kebetulan. Namun ini sudah berkali-kali terjadi. Itu artinya perkara kedekatan antara anggota kelompok Saracen dengan partai Gerindra tidak bisa tertepis lagi.
Polri menyebutkan bahwa Asma Dewi diduga pernah men-transfer uang sebesar 75 juta kepada kelompok Saracen. Uang yang tidak sedikit jika dibandingkan dengan isi tabunyan saya. :D
Oya teman-teman, bertemu dan berfoto bersama Ketua Umum DPP Gerindra itu bukan perkara mudah, ditambah lagi foto bersama Anies dan Sandiaga. Silahkan lihat di foto yang ada di atas, teliti dan simpulkan. Apakah mungkin itu hanya sebatas foto biasa? TIDAK! Foto itu sangat dekat dan berada di tempat-tempat khusus yang bukan keramaian, pasti ada sesuatu yang penting disana.
Mudah-mudahan Pak Prabowo, Anies dan Sandiaga nanti tidak menyangkal keberadaan ibu Asma Dewi disamping mereka, dengan mengatakan bahwa mereka tidak kenal dengan Asma Dewi seperti Pak Kivlan Zein menyangkal dan mengaku tidak kenal dengan Sri Rahayu Ningsih di acara ILC akhir bulan Agustus lalu namun foto-fotonya bersamaan ada di media sosial milik Siti.
Cuci tangan adalah budaya politikus kita. Dibelakang dimanfaatkan, di muka pura-pura tidak kenal. Kalau sudah ketahuan, mengaku tidak kenal dan tidak pernah bertemu. Kasihan ibu rumah tangga ini kalau akhirnya nanti diperlakukan seperti itu setelah mereka mendapat manfaat kemengan politik di DKI Jakarta.
Patut diduga kuat grup Saracen dimanfaatkan politikus terntentu dalam mendongkrak kemenangan Anies-Sandi, apalagi dengan tertangkapnya ibu Asma Dewi yang adalah bagian penting dari grup Saracen dan juga pernah menyetor uang sebesar 75 juta.
Uang sebesar 75 juta tidak mungkin diberikan sia-sia, pasti ada deal politik atau orderan khusus. Apalagi kalau bukan tentang konten isu SARA, ujaran kebencian dan berita HOAX yang massive menyebar di media sosial yang menyudutkan pasangan tertentu selama pilkada DKI Jakarta berlangsung.
Pertanyaan yang tidak kalah penting, siapakah orang atau donatur yang memberi uang tersebut kepada Asma Dewi yang kemudian dilanjutkan kepada bendahara grup Saracen?
Semoga lambat laun tapi pasti melalui polri pertanyaan ini bisa terjawab.
Kemudian, kita harus tetap mengingat kedekatan para anggota kelompok grup Saracen dengan politikus-politikus yang sangat haus kekuasaan di atas, yang ingin menghalalkan segala cara termasuk politik menebar kebencian, SARA, HOAX dan memelihara kaum intoleran untuk merebut kekuasaan.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!

Saturday, September 9, 2017

Uang & Calon Gubernur Sumut

Trimedya Panajaitan

Siporsuk Na Mamora – Membahas Sumatera Utara memang tak ada habis-habisnya. Daerah yang masuk dalam kategori 5 besar provinsi terkorup ini punya julukan yang unik. SUMUT – Semua Urusan Mesti Uang Tunai – sangat kental dengan budaya korup dalam hal urusan-urusan apapun, terlebih pemerintahannya. Entah kenapa bisa begitu.
Kepala daerah, pejabat dan wakil rakyatnya hampir rata terkena kasus korupsi.
Hari ini sedang hangat dibicarakan tentang politik, pemilihan kepala daerah Sumatera Utara. Beberapa teman bertanya-tanya kepada saya, “Bang... Siapa calon yang cocok abang lihat?, Bang... Kau buatlah dulu tulisan tentang pilgub kita ini bang...! dan Bang... Abang kader cipayung yang menolak Sumut jadi Paten ya? Eh... *maaf salah ketik.”
Tidak mudah memang melihat dan mengenal lebih jauh sosok-sosok yang muncul hari ini kepermukaan, baik yang sudah secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai calon gubernur maupun yang masih malu-malu namun baliho dan spanduknya mengotori pemandangan di jalanan kota sampai pedesaan.
Disini, di Sumut ada istilah paling akrab terdengar jika sudah dekat-dekat pilkada, namanya KETUA. Ada juga profesi baru yang muncul, yaitu RO (Raja Olah).
Orang-orang ini (Ketua/RO) ini punya gerakan yang tak kalah terorganisirnya dan tersistematisnya dengan kelompok saracen. Tak kalah berbisa juga dengan ular. Mereka menebar proposal dan bahkan menjual kepala-kepala sumbang kepada calon mana saja. Ada yang meng-klaim massa di belakangnya ada 2.000 orang, meski dia datang hanya sendirian. Mereka juga berlomba makan malam bersama para calon-calon kepala daerah yang maju.
Melihat dan mengenali mereka-mereka ini sangat mudah, lihat saja calon yang berduit, disitulah kumpul semua para ketua dan raja olah ini.
Para ketua, raja olah inilah kabarnya turut serta membuat ongkos pilkada jadi lebih mahal di Sumut seperti yang dikatakan oleh bang Trimedya Panjaitan.
Tak kalah juga dengan masyarakatnya, yang sedari dulu sudah apatis dengan perbaikan daerah ini.
Pernah saya bertemu dengan beberapa orang, tua dan muda. Mereka tanya, “adong do hepengna? *adanya uangnya?”
Saya lanjutkan bertanya, “kenapa tanya uangnya?” Mereka bilang, “siapapun yang terpilih nanti, takkan berpengaruh pada kami.”
Fix, jika mau di pilih, Anda harus terlebih dulu kasih uang. Ini strategi menang mencalon apapun di Sumut, termasuk jadi kepling, kades dan lain-lain yang harus dipilih.
Momen-momen ini sangat ditunggu, sebagai rejeki nomplok. Hitung-hitungannya sederhana, Anda punya 5 orang di rumah yang punya hak suara (dikali) jumlah uang yang diterima dari setiap calon (dikali) jumlah calon.
Misal (perkiraan) : 5 x Rp 100.000 x 4 orang = Rp 2.000.000. Ini hanya pendapatan pas saat serangan fajar saja.
Logika bang Trimedya memang ada benarnya. Tak perlu kita melawan atau mengecamnya, apalagi mengait-ngaitkannya dengan Partai pak Jokowi sang Presiden RI, karena yang beliau katakan adalah kondisi yang sebenarnya terjadi di Sumut. Inilah kenyataan demokrasi kita, ongkosnya tinggi.
Yang paling penting kita lihat adalah dampak dari perilaku masyarakat kita. Pahamilah : Jika Anda harus mengeluarkan uang Rp 30 M saat pilkada, lantas darimana Anda akan memperolehnya kembali kalau bukan dari uang korupsi APBD? Atau uang sogok untuk menjadi kadis ataupun jabatan strategis lainnya? Inilah akibat dari budaya menerima uang dari calon kepala daerah.
Jika sudah kita pahami akar persoalannya, lantas masih mau kah kita menerima uang dari calon kepala daerah di Sumut? Kufikir perbuatan itu sama saja menjual harga diri anda sendiri. Jangan sampai Anda di sematkan sebutan, “kepalamu hanya seharga 1 kilo daging babi!”
Kita perlu pembuktian untuk melawan perkataan bang Trimedya ini, bahwa tak selamanya calon yang punya uang banyak itu yang akan menang! Kita buktikan bahwa pemenang Pilgub Sumut 2018 kedepannya adalah orang yang benar-benar punya kompetensi, melayani, nasionalis dan tidak korupsi.
Salam sada roha dari Anak Medan. HORAS!