Tuesday, May 22, 2018

Salahkah Mereka Yang Mewaspadai Orang Bercadar dan Bercelana Cingkrang?

Wanita Simpatisan ISIS
Akhir-akhir ini, ramai pemberitaan tentang sikap anti pati, rasa takut, curiga dan waspada terhadap orang-orang yang berpakaian cadar dan juga bercelana cingkrang, pemicunya disebabkan paska terjadinya rangkaian serangan teroris di Mako Brimob, 3 Gereja di Surabaya, Mapolrestabes Surabaya dan Mapolda Riau.
Dalam laporan berita media nasional terkait pelaku penyerangan Gereja di Surabaya dan di Mapolrestabes Surabaya, pelaku penyerangan bom di identifikasikan oleh beberapa saksi di lokasi dengan penampilan wajah ditutupi dengan ‘cadar’. Kemudian, beberapa pelaku serangan sadis di Mako Brimop setelah ditangkap juga rata-rata berpenampilan dengan celana ‘cingkrang’ diatas mata kaki.
Laporan-laporan media diatas yang kemudian menyebar luas di media sosial, dibaca dan menjadi tolak ukur penilaian publik terhadap pelaku-pelaku serangan bom bunuh diri atau teroris.
Di Amerika Serikat dan belahan dunia Eropa, masyarakatnya banyak yang menjadi fobia terhadap orang-orang yang berpenampilan ala ‘Arabian’ yang kemudian diidentikkan dengan agama Islam pasca serangan 11/9 yang didalangi oleh Osama bin Laden pemimpin gerbong teroris Al-Qaeda. Dalam istilah yang lebih kasar, stigmatisasi ini populer disebut dengan istilan ‘Islamfobia’. Istilah ini sangat dikenal di AS hingga bangsa-bangsa yang ada di daratan Eropa, efeknya yang langsung bisa dirasakan adalah timbulnya sikap intoleransi, intimidasi atau sikap diskriminatif terhadap mereka yang beragama Islam.
Saya sendiri mimim pengalaman berinteraksi dengan orang-orang yang berpakaian cadar dan celana cingkrang, tapi bukan berarti minim pengalaman juga berinteraksi dengan teman-teman beragama Islam. Teman-temanku yang Islam itu berpakaian sepertiku, berbicara dalam bahasa seperti ku, bahkan terkadang kami diskusi berbahasa daerah mana kala kami sama-sama bersuku Batak. Karena itu saya merasa nyaman dan tidak asing bergaul dengan mereka. Beda halnya dengan para kelompok ‘eksklusif’ yang cenderung menutup diri terhadap orang-orang yang berbeda agama, mereka berbahasa dan berpenampilan ala ‘Arabian’ yang sangat kental. Saya tidak yakin kalau ada orang yang sependapat denganku yang mengatakan bahwa sikap ‘eksklusivisme’ itu kedepan akan memperluas jarak antara sesama kita yang berlainan keyakinan dan kemudian sangat riskan dengan munculnya rasa intoleransi yang akhirnya berlanjut pada munculnya pemahaman radikal, lalu berakhir pada tindakan/aksi radikal atau aksi terorisme.
Di Indonesia, kita belum sampai pada stigmatisasi ‘Islamfobia’ sejauh yang terjadi di AS dan Eropa, namun bibit-bibit rasa itu memang sudah ada sebagai akibat dari munculnya rasa mawas diri terhadap aksi-aksi serangan teroris yang semakin lama semakin ganas dan bringas melebihi batas-batas nilai kemanusiaan. Akan tetapi, apa mungkin stigma ‘Islamfobia’ ada di negara yang masyarakatnya adalah mayoritas Muslim? Rasanya sangat tidak mungkin. Beda hal dengan stigma ‘cadarfobia’ atau ‘cingkrangfobia’, itu bisa saja terjadi, karena pakaian ekstrim semacam itu bukanlah bagian dari budaya kita, dan bahkan sebagian umat Islam mengatakan bahwa cadar dan celana cingkrang bukanlah hal yang wajib dalam Islam, melainkan hanya budaya orang Arab saja, tidak lebih daripada itu.
Manusia selayaknya, serta hal yang wajar saja belajar dari apa yang sudah terjadi, termasuk dalam hal mengantisipasi diri agar tidak terlibat dalam paham-paham radikal dan aksi teroris yang ada disekitarnya, termasuk juga dalam hal penyelamatan diri agar tidak menjadi korban keganasan aksi para teroris.
Hal yang lebih sederhana, berkaitan dengan tema besar tulisan ini, yaitu tentang sikap yang mewanti-wanti lalu kemudian menjadi anti pati terhadap mereka yang berpakaian cadar dan celana cingkrang, setelah melihat fakta-fakta atas serangan-serangan teroris di beberapa lokasi, terlebih khusus tentang penampilan dan cara berpakaian para pelaku bom bunuh diri, wajarkah?
Jika kita harus menjawab, maka jawabannya, sebagai manusia, maka hal itu sangat wajar, sepanjang kewaspadaan dan mawas diri itu tidak berlanjut pada tindakan melanggar hukum, persekusi dan menghakimi secara sepihak dan bertindak brutal. Nah, bagaimana dari sisi kemanusiaan dan HAM? Saya rasa, semua manusia yang masih sehat pasti cenderung menghindarkan diri dari bahaya yang berdampak membawa kematian. Jadi, rasa mawas diri yang mereka punya itu adalah bagian dari HAM-nya sendiri.
Jawaban untuk pertanyaan diatas tentu tidak serta merta akan menyelesaikan persoalan dan serta merta akan menghindarkan Anda dari aksi kejam teroris, karena apa? Karena penampilan bukanlah sesuatu hal yang ‘mutlak’ bisa digeneralisir menjadi ciri seorang pelaku teror atau teroris.
Jawaban lain, jika kita harus menjawab apakah sikap sedemikian benar atau salah? Maka jawabannya ‘tidak salah’ numun ‘tidak sepenuhnya bisa dibenarkan’.
Masyarakat kita memang merupakan masyarakat ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dan menjunjung tinggi norma-norma agama maupun hukum yang berlaku, tetapi belum sampai pada pemehaman yang paripurna, karenanya masih sering terjadi saling curiga dan penghakiman secara sepihak, persekusi dan tindakan diskriminatif terhadap orang yang berbeda keyakinan atau bahkan berbeda cara berpakaian.
Wanita dengan pakaian minim/lebih terbuka akan sangat mudah diberi penilaan atau dicap sebagai ‘pelacur/murahan’ oleh mereka yang berpakaian tertutup atau yang merasa diri lebih berpakaian agamais dan merasa lebih suci. Kita semua pasti pernah menyaksikan hal semacam itu dilingkungan kita masing-masing. Apakah salah? Kalau jawabannya ‘tidak’, maka, apa bedanya dengan sikap sebagian masyarakat yang mawas diri, anti pati, takut dan mencurigai mereka yang berpakaian cadar dan celana cingkarang atas dasar pertimbangan kesamaan penampilan dengan para pelaku teror yang terjadi akhir-akhir ini?
Kita harus berpikir dan berlaku adil juga kepada semua orang, jangan hanya mau menang sendiri dan jangan pakai penilaian berstandart ganda.
Semoga mereka yang merasa ‘terdiskriminasi’ oleh karena cadar dan celana cingkrang yang mereka pakai bisa lebih dewasa dalam memahami kondisi psikologis masyarakat kita saat ini yang baru saja mengalami guncangan akibat aksi biadab teroris. Bukan malah merasa diri paling benar dan terzolimi yang berpotensi memperluas ruang gerak para pelaku teroris yang nyata-nyatanya selalu berusaha mengidentikkan diri dengan penampilan berpakaian ala ‘Arabian’ agar terlihat lebih agamis dan ber-aksi atas nama agama.
Terakhir saya sampaikan, bahwa Tuhan punya rencana yang baik diatas semua perbedaan yang kita miliki yang meliputi adat/budaya, cara berpakaian, corak wajah, kulit dan lain sebagainya. Terkhusus tentang suku bangsa dan juga budaya, marilah kita bangga atas itu tanpa mengurangi keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Friday, May 11, 2018

Naluri Pembunuh FPI Menyengat Disetiap Aksi, Yang Kalian Sembah Siapa Sih?

Hasil pencarian dengan kata kunci "FPI minta senjata" di Google.com
Dulu disaat aksi menuntut agar Ahok dipenjara, terpampang spanduk besar-besar bertuliskan “gantung Ahok disini” dan kita tak lupa juga dengan nyayian anak kecil yang sedang pawai dengan lirik “bunuh Ahok” berulang kali bak seperti yel-yel sporter sepak bola yang sengaja diajarkan oleh orang dewasa. Sebagai seorang guru, saya terenyuh dan tersayat-sayat rasanya hati ini mendengar anak-anak sekecil mereka sudah diajari dengan doktrin pembunuh terhadap sesamanya. Dalam hati kecilku yang paling dalam merintih, “mau jadi apa negeri kita jika kelak diwarisi oleh mental yang sudah dirusak begini?”
Namun apa daya kawan? Mereka hanya korban dari kebiadapan orang dewasa yang dipenuhi rasa kebencian yang sudah akut semacam ormas Front Pembela Islam (FPI). Mendengar kata FPI, kawanku marah! “Jangan kau rusak nama Islam, FPI itu bukan mewakili Islam” bentaknya persis didekat telingaku.
Kawan-kawan, kupandu kalian mencari kata kunci “FPI minta senjata” di website pencarian Google, lalu coba kalian hitung berapa kali FPI minta dipersenjatai dan menyerukan perang setiap kali mereka melakukan aksi? Apapun aksinya, pasti seruan berperang dan meminta senjata terdengar dalam orasi mereka yang kemudian dirilis di media-media pemberitaan nasional. Kadang aku berpikir mereka ini manusia tapi tidak ada otaknya. Sungguh malangnya rahim para ibu yang mengandungnya.
Kegilaan-kegilaan sekaligus ketololan mereka belakangan selalu menjadi tontonan publik. Selain itu, aksi bagi mereka adalah pekerjaan tetap.
Mereka teriak minta dipersenjatai, dilatih dan menyatakan siap berperang berhadapan dengan Israel dan AS. Tujuan mereka sebenarnya ingin menunjukkan ke publik bahwa mereka paling berjasa dan berjuang membantu kemerdekaan Palestina melebihi Jokowi, melemparkan kecaman dan menyalahkan Pemerintahan Jokowi yang mereka nilai diam saja dan tidak berbuat apa-apa untuk kemerdekaan Palestina, ujung-ujung mereka minta tolong dilatih Prabowo dan teriak 2019 ganti presiden. Tindakan ini bisa dikatakan tindakan tak tau diri dan tak mau tau. Keberadaan mereka yang selalu demo tentang Palestina yang selalu disertai teriakan pereng malah memperburuk citra bangsa ini sekaligus berdampak menghambat dan mempersulit kerja-kerja pemerintah dalam upaya mengajak Negara lain turut serta bersama Indonesia memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Sekiranya mereka mau membaca, saya berharap mereka memahami ilmu yang ingin kubagi ini, terlebih untuk mereka yang pegang toa dan teriak, “siap bertempur?” di monas pada hari Jum’at (11/5/2018) kemarin. Gaya-gaya bar-bar seperti ini lebih mirip dengan cara-cara yang dilakukan para teroris yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Kalian mau membantu kemerdekakan Negara lain atau mau menjadi teroris?
Indonesia dalam konstitusi UUD 45 mendukung hak kemerdekaan bagi semua bangsa, tetapi juga turut serta mewujudkan perdamaian dunia. Itulah dasar politik luar negeri kita. Jika mengaku warga Negara Indonesia (WNI) harusnya mengerti serta paham betul dengan nilai-nilai dasar NKRI yang fundamental seperti ini. Jika tidak mengerti, maka kita patut meragukan kewarganegaraannya.
Teriak-teriak siap berperang demi Palestina dan warga Rohingya, akan tetapi senang dan tertawa saat Negara berjibaku melawan aksi teroris, dan mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap empati dan simpati terhadap para korban yang gugur demi menjaga NKRI. Justru sebaliknya mereka malah banyak menyebut bahwa tragedi yang terjadi di Rutan Mako Brimob adalah sebagai drama pengalihan isu dan menjadikan kejadian tersebut sebagai alat untuk menyerang pemerintah. Lagi-lagi otak mereka tidak dipakai sama sekali, hanya iblislah yang sanggup tertawa melihat penderitaan para korban yang gugur oleh kebrutalan aksi terorisme.
Perlu kita ketahui, Jokowi sejak awal sangat getol dalam mendorong kemerdekaan Palestina, disetiap momen pertemuan antar Negara, beliau selalu berpesan agar semua Negara mendukung kemerdekaan Palestina sebagai jalan damai di kawasan timur-tengah. Terakhir kali Jokowi berbicara tentang kemerdekaan Palestina baru hari kemarin, saat melakukan pertemuan trilateral para ulama dari tiga Negara. Itu artinya, sebenarnya aksi-aksi semacam ini tidak diperlukan lagi.  Bukankah aksi seperti itu perlu jika pemerintah Negara kita tidak setuju dengan kemerdekaan Palestina? Lalu apa sebenarnya motivnya? Mereka ingin menciptakan kesan bahwa Jokowi tidak mendukung umat Islam Palestina, pada akhirnya akan dikatakan anti-Islam.
Pertanyaan terakhir, “siapa yang membentuk naluri pembunuhnya FPI?”
Seharusnya, jika mereka adalah orang-orang yang menjalankan perintah agama dengan benar, maka hatinya akan selalu diselimuti kesejukan dan kedamaian. Sebaliknya, hanya setanlah yang bersemayam dihati orang-orang yang selalu haus akan darah, pembunuhan dan perang. Sebab tidak ada agama manapun yang membenarkan membunuh sesama manusia atas nama apapun.
Semoga Jokowi bisa dua periode, agar si setan FPI yang meresahkan masyarakat bisa disingkirkan dari bumi ibu pertiwi seperti halnya HTI.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Thursday, May 10, 2018

Ada Apa Dengan Partai Oposisi?

#KamiTidakTakut

Ada Apa Dengan Partai Oposisi?
*Gerindra dan PKS*
Belakangan terakhir, masyarakat diguncang oleh aksi teroris di Rutan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.
Ada 5 anggota anggota Polri yang gugur menjadi korban pada aksi penyanderaan yang dilakukan narapidana terotis tersebut di dalam rutan. Mereka disiksa, disayat, ditikam, dicabut giginya dan di injak-injak. Benar-benar tindakan biadab dan tidak manusiawi. Mereka diantar pulang tinggal nama kepada keluarga.
Satu orang napiter tewas karena terjadi perlawanan dari para anggota polri yang disandera.
Beberapa anggota polri menjadi korban luka, dan korban siksaan karena dijadikan sebagai sandera kurang-lebih 36 jam lamanya. Lastri, beliau dilarikan kerumah sakit bersama rekannya Sarjana untuk dirawat setelah berhasil dibebaskan oleh petugas polri dari sanderaan para napiter. Mereka luka-luka, bahkan Lastri kehilangan giginya dan wajahnya babak belur dihajar para napiter.
Apresiasi untuk polri yang berhasil membekuk semua napiter yang terlibat aksi teror di dalam lapas tanpa harus melakukan kebrutalan, mengedepankan strategi dialog ketimbang cara kekerasan dan atau penyerbuan. Walaupun terkesan terlalu lama (36 jam), namun kita semua mengapresiasi kerja keras polri, meminimalisir jatuhnya korban. Polri sangat sabar dan mampu menahan diri ditengah ancaman dari napiter yang menyandera para anggotanya dan kecaman-kecaman dari masyarakat atau para anggota DPR-RI seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah.
Hal yang biasa terjadi di luar, masyarakat tidak sabaran. Kalau itu masyarakat biasa masih bisa dipahami, karena mereka tidak semuanya atau SOP dan hukum yang berlaku secara nasional ataupun internasional. Tetapi bagaimana dengan para pejabat DPR-RI dan para politikus? Saya bilang mereka tidak punya otak, tidak punya hati, empati dan simpati terhadap para korban dari pihak polri yang gugur karena menjalankan tugas, menjaga NKRI. Mereka hanya pedulu soal keuntungan politik, menyerang Jokowi. Benar-benar biadab!
Banyak yang nyinyir dan mengkritik polri dan Jokowi. Terutama dari pihak oposisi, seperti Gerindra dan PKS, ditambah dari beberapa kader PAN yang tak pernah jelas sikapnya (abu-abu).
Yang paling konyol, banyak yang mengait-ngaitkan kejadian di Mako Brimob adalah karena Ahok. Ini kritik yang sangat tidak beralasan, karena Ahok juga terancam nyawanya disaat terjadi aksi teror di rutan. Sekali lagi, mereka-mereka ini benar-benar orang-orang biadab!
Mereka senang menari-nari, mencari keuntungan diatas duka para korban dan masyarakat Indonesia yang tak henti mengucapkan doa agar semuanya kembali baik-baik saja.
Kawan, tidak ada seorangpun yang menginginkan dirinya berada dalam bahaya teror, dan tidak ada yang ingin berlama-lama berada dalam situasi mencekam dan mendebarkan, tak jelas berapa persen kesempatan akan hidup keluar dari rutan Mako Brimob. Terlebih Ahok, anggota polri yang disandera dan yang sedang bertugas mengendalikan situasi, begutupun pemerintah...
Teroris itu biadab! Yang mendukung teroris lebih biadab lagi!
Musabab adanya teroris adalah dari ajaran Agama yang sesat, meyimpang dan radikal. Perhatikanlah, orang-orang yang radikal dan membela aksi terorisme sangat berpotensi menjadi teroris dikemudian hari.
WASPADA dari segala bentuk pembelaan terhadap teroris, baik personal, organisasi maupun partai.  Mereka adalah potensi besar menjadi teroris dan menjadikanmu ataupun keluargamu sebagai sandera ataupun korban untuk aksi-aksi teror berikutnya.
Istilah orang Medan, babat habis, jangan kasih kendor!
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Tuesday, May 8, 2018

Politikus Teraneh Yang Pernah Ada

Jokowi saat wawancara Katadata.com
Suatu hal yang lumrah terjadi pada politikus-politikus kita, menunda-nunda keputusan atas pertimbangan keuntungan politik, takut tidak di dukung lagi, takut ini dan takut itu. Akhirnya tak ada kebijakan yang jadi.
Ada juga politikus yang bahkan melakukan pelanggaran hukum demi memenuhi kepentingan kelompok/konstituen pendukungnya, agar apa? Agar dukungan politik tidak beralih ke lain hati dan berharap akan dikatakan sebagai orang yang "tepati" janji politik. Contohnya siapa? Salah satunya adalah Gabener di DKI Jakarta yang memfasilitasi PKL berdagang di badan jalan. Penakut, naïf dan penuh pencitraan, banyak lagi contoh politikus yang bermental beginian, silahkan infentarisir aja...
Itulah gambaran mental politikus kita, semua masih bertumpu pada kepentingan dan keuntungan pribadi, individualistis dan susah mengambil keputusan yang bermanfaat untuk umum walau secara hitung-hitungan politik akan merugikan pribadinya. Tidak pernah mau berkorban demi kepentingan umum.
Apa-apa, hitung-hitungannya selalu politik, pencitraan. Tunggu ini, tunggu itu dan apa keuntungannya untukku? Sementara berfikir begitu, kita sudah ketinggalan. Pada akhirnya masyarakat yang dikorbankan.
Lebih parah lagi, politikus di Indonesia takkan pernah mengakui kehebatan lawan politiknya. Kalau bisa, apapun dicari untuk menyerang, mata, hati dan pikirannya tak bisa lagi jernih untuk memandang sesuatu yang baik yang dilakukan pihak lawan politiknya. Mirip seperti kelakuan seseorang yang sudah jadi mantan. Ibu Sri Mulyani menyebut politikus jenis begini sebagai orang-orang yang hidupnya seperti katak dalam tempurung.
Memang benarlah, bahwa kekuasaan itu silau.
Pandangan dan mental politikus yang seperti ini harus diperbaharui dan diluruskan, kalau tidak kita takkan pernah maju, bangas kita akan keburu hilang kesempatan. Itu kata Presiden Jokowi.
Jokowi telah memulainya, menjadi presiden yang tetap pada pendirian dan kebijakannya meski banyak rintangan dari lawan politik. Dihina, dihujat dan difitnah telah menjadi makanannya sejak dilantik menjadi presiden RI. Sudah terbiasa, kebijakannya dikritik dengan bumbu “fitnah” yang mendominasi dan cenderung tanpa data.
Katakanlah seperti kebjijakan bagi-bagi sertifikasi tanah ke masyarakat, Amien Rais mengatakannya sebagai kebijakan “pengibulan” masyarakat. Ada lagi, seperti Prabowo yang mengatakan “Indonesia bubar tahun 2030” dengan data fiksi, cenderung, apatis dan untuk menakut-nakuti masyarakat. Lain lagi Fadli Zon dan Fahri Hamzah dengan mulut ember dan penuh kebenciannya selalu menyerang Jokowi, bahkan dengan menghalalkan cara fitnah dan menyebar berita hoaks di media sosial, baik tentang hutang, pembangunan infrasutruktur dan isu-isu yang paling hangat adalah tentang tenaga kerja asing (TKA). Yang paling parah adalah isu yang menuduh Jokowi antek asing, aseng dan berlatar belakang keluarga komunis.
Seorang Prabowo baru-baru ini berjanji meningkatkan kesejahteraan buruh dan menolak TKA, padahal di perusahaannya sendiri pun buruhnya terlantar, tidak digaji dan sampai hari ini masih menuntut pembayaran gaji. Kemudian, ternyata di perusahaan yang Prabowo miliki banyak memperkerjakan TKA. Lalu apa artinya janji politik kepada ribuan buruh sementara pekerja di perusahaannya sendiri tidak bisa disejahterakan, dan perusahaannya masih memakai tenaga TKA. Ini murni hanya untuk kepentingan politik untuk Pilpres 2019 saja, seperti rumah DP 0 dan OKE-OCEnya Anies-Sandy di Pilgub DKI Jakarta yang sampai kini entah dimana kelanjutan dan wujudnya kita tidak pernah lihat, bahkan nyaris tidak terdengar lagi.
Ketika bangsa ini dipenuhi oleh politikus-politikus yang seperti di atas, maka akan terasa aneh melihat seorang politikus seperti Jokowi. Sejak awal terjun di dunia politik, beliau terlihat sangat cuek dengan isu-isu yang menerpa dirinya, jikapun harus ditanggapi dengan kata-kata, palingan dengan cara bercanda saja. Selebihnya dia tanggapi dengan lebih giat lagi bekerja, sampai lawan politiknya jengkel dan merasa dikacangin.
Jokowi, model politikus yang benar-benar tidak peduli dengan isu-isu politik yang menyudutkan dirinya, dan tak pernah terpengaruh sedikitpun dengan niatnya yang tulus bekerja untuk rakyat. Beliau selalu yakin dengan kebijakan dan keputusannya. Mungkin karena niatannya memang benar-benar tulus.
Cara berpolitik Jokowi adalah antitesa dari cara-cara lama dan sudah usang. Hasilnya benar-benar lebih baik dan lebih berdaya guna untuk kemajuan demokrasi, bangsa dan negara kita.
Simpelnya, “kerjakanlah sesuatu dengan baik dan benar, maka yakinlah kesuksesan akan menghapirimu” kataku gegitu. Berpolitiklah dengan santun, jujur dan optimis. Jangan balut citramu dengan penuh kebohongan dan kemunafikan hanya demi ambisi politik semata.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Monday, May 7, 2018

Para Pengikut Ormas Radikal dan Terlarang Menyatu di Partai PBB

HTI Ormas Terlarang di Indonesia
Hari ini, Senin (7/5/2018) adalah hari yang menyenangkan bagi orang-orang yang mendukung pembubaran ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dikarenakan hari ini adalah hari dimana PTUN Jakarta memutuskan menolak semua permohonan HTI untuk menarik/membatalkan SK Menkumham tentang pembubaran ormas HTI. Dengan begitu, posisi SK Menkumham sekarang semakin kuat dimata hukum. Mendukung pembubaran HTI berarti ikut berperan dalam membela dan menjaga keutuhan NKRI yang berideologikan Pancasila dan berdasarkan UUD 1945.
Saya masih ingat betul, betapa pongahnya dan massivenya para anggota HTI dikampus saya kuliah dulu, yaitu Universitas Negeri Medan (Unimed) menyebarkan propaganda dan agitatasi dikalangan mahasiswa, mereka sangat gesit menangkap peluang untuk mencuci otak para mahasiswa baru di tahun akademik baru. Strategi dan metode propaganda dan agitasi yang mereka lakukan sangat beragam, melalui diskusi-diskusi di mushollah/mesjid kampus, di ruang kelas saat jam kuliah kosong dan bahkan melalui penyebaran sapanduk, banner dan stiker yang bahkan lebih mirip dikatakan sebagai alat peraga kampaye anti-Pancasila di lingkungan kampus (tempat khusus pemasangan spanduk, ruang publik tempat berinteraksi para mahasiswa, mading, dll).
Keberadaan mereka lengkap bersama dengan kegiatan-kegiatan mereka sangat mengganggu bagi kami yang memegang tegus ideologi Pancasila, tapi akan sangat riskan bagi kami untuk berbenturan langsung sesama mahasiswa. Kami tau, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena takut menimbulkan gesekan dan akan dituduh rasis serta tidak toleran, terlebih karena saya beragama Nasrani. Mereka selalu mencintrakan diri sebagai orang-orang yang sangat Islami, dan mewakili Islam secara keseluruhan.
Pada waktunya, kita sadar, bahwa kelompok ini adalah orang-orang radikal dan tidak ada kaitan dengan agama Islam. “Islam ya Islam, Islam Indonesia yang Nasionalis dan membela Pancasila, mereka itu ormas radikal yang mengatasnamakan Islam untuk memecah dan merusak NKRI dengan ideologi Pancasila.” Begitu kata temanku, seorang muslim nasionalis. Salah pahamku akhirnya terjawab.
Bentuk aksi dari kegelisahanku itu saya implementasikan kepada adek-adek saya dalam bentuk diskusi-diskusi bertema wawasan kebangsaan di organisasi yang kala itu saya pimpin. Selain itu, saya juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang memperbanyak interaksi (share ide/gagasan) bersama antara teman-teman beragam organisasi kemahasiswaan. Saya juga berusaha memperkecil ruang, sebisa mungkin untuk memperkecil ruang gerak orang-orang yang saya anggap anggota/simpatisan HTI atau yang pro-khilafah dengan sedikit pengaruh yang aku punya di lingkungan kampus. 
Pernah suatu ketika setelah saya lulus menjadi salah satu pemandu diskusi di kegiatan seminar yang dimotori oleh adek-adek ku yang sedang berkiprah di organisasi kemahasiswaan internal tertinggi di kampus, saat itu sesi diskusi menyinggung radikalisme/anti Pancasila yang tidak mentup kemungkinan terjadi melalui pendakwah oleh para oknum-oknum pendakwah yang sudah masuk ke rumah ibadah, mesjid. Seorang narasumber diskusi, Jenderal pensiunan Polri memberi penjelasan antisipasi hal tersebut terjadi dengan kongkrit, yaitu salah satunya dengan opsi mensertifikasi pendakwah. Dari kursi belakang ruangan seseorang –yang tidak lagi mahasiswa, berpakaian koko dan ber-peci putih– langsung menyahut, bernada marah dan lantang menolak opsi yang disampaikan narasumber, dengan alasan hal itu adalah pengkerdilan dan pembungkaman. Setelah debat berakhir, ketua panitia saya tanya, dia itu siapa? Dan tolong dicek nama dan organisasinya di buku tamu segera! Kepada teman disamping saya juga bertanya, apakah mengenal kelompok tersebut? Teman sayapun menjawab tidak tau, tetapi merasa bahwa orang tersebut sering kelihatan di kampus, mereka ada beberapa orang yang selalu hadir memantau disetiap acara diskusi yang mereka anggap membahas tentang pancasila dan radikalisme. Diakhir acara, ketua panitia melapor kepada saya, bahwa nama dan organisasi orang tersebut tidak ada tercatat di buku daftar peserta seminar. Misterius, tapi kami semua tau bahwa mereka orang-orang pro-khilafah.
Tindakan yang paling jauh, yang pernah saya lakukan bersama teman-teman adalah merobek/mencopot apapun (spanduk dan selebaran) yang berhubungan dengan khilafah atau ormas HTI yang ada di dalam lingkungan kampus tanpa sepengetahuan siapa-siapa, saya dan seorang teman sengaja pulang malam jika ada selebaran yang sangat provokatif dan kami anggap melecehkan Pancasila. Selebaran yang paling saya ingat adalah selebaran banner berukuran A2 & A3 yang didalamnya berisi gambar Pancasila berlumuran darah, disertai tulisan provokativ dengan secara gamblang menghina ideologi Pancasila. Dalam banner itu, kurang lebih mereka mengatakan, “Pancasila adalah pembodohan, kezaliman dan sumber kehancuran bangsa, khilafah adalah solusi menyelamatkan umat.” Begitulah isi banner yang buat saya begitu emosi dan memaksa saya keluar dari sikap yang sebelumnya selalu berusaha menahan diri dan sembari menunggu tindakan atau larangan resmi dari pihak rektorat kampus yang tak kunjung pernah terjadi sampai saya lulus.
Kisah di atas adalah sebagian kecil dari keseluruhan yang pernah saya temui dikampus selama menjadi mahasiswa. Saya yakin, propaganda dan agitasi serta anggota-anggota HTI banyak tumbuh dan berkembang di kampus-kampus negeri diseluruh Indonesia.
Tahun 2017 lalu, saat Menkumham menerbitkan SK pembubaran ormas HTI, saya salah satu yang paling mengapresiasi keputusan pemerintahan Jokowi tersebut, puas rasanya, karena keputusan itu sangat mewakili aspirasiku yang lama sudah kutunggu-tunggu. Dengan demikian, mulai saat itu, maka sah organisasi tersebut menjadi organisasi yang tidak diakui oleh Negara alias terlarang! Kampus-kampus diseluruh Indonesia juga kedepannya pasti akan tegas menindak mahasiswa yang terlibat dengan ormas terlarang HTI.
Keputusan pemerintah untuk membubarkan HTI dicap para pengikutnya sebagai perbuatan zalim, diktator, anti demokrasi dan anti Islam. HTI –setelah keluar SK pembubaran– dengan kata lantang juga berkata bahwa mereka bukan anti-Pancasila dan anti-Demokrasi, seolah menyangkal semua aksi-aksi nyata mereka selama ini yang berniat mengganti ideologi Pancasila dan mengharamkan Demokrasi. Hatikupun berkata, “setelah di musnahkan kok tiba-tiba teriak pro-Pancasila dan pro-Demokrasi? Kepongahan dan wajah garang yang ingin mengganti ideologi Pancasila dulu tiba-tiba berubah menciut dan merengek meminta dikasihani oleh Negara. Tapi tetap saja, pemerintahan Jokowi tegas pada keputusan yang telah dikeluarkannya melalui Menkumham.
Akan tetapi, apakah dengan semua upaya-upaya yang dilakukan pemerintah akan secara otomatis upaya HTI dalam menjalankan tujuannya –mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah dan mengharankan Demokrasi– akan berhenti? Kelihatannya tidak!
Gerakan HTI adalah gerakan ideologi. Mereka meyakini bahwa menegakkan khilaah di Indonesia yang mereka lakukan adalah aktivitas jihad, oleh karena itu mereka memiliki anggota dan simpatisan yang militan, tahan banting dan jumlahnya cukup banyak, dari pusat hingga pelosok. Terlebih jaringannya yang kuat dan sumber pendanaan yang besar. Mereka senantiasa akan mencari cara bagaimana untuk tetap eksis dengan tujuan yang sama –mengganti Pancasila dengan khilafah– namun bentuk/nama berbeda.
Lihatlah, mereka yang dulu mengharamkan Demokrasi, tetapi sekarang tak malu mau ikut serta dalam pemilu 2019 dengan mendukung dan bergabung ke salah satu partai politik peserta pemilu 2019, yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) yang diketuai Yusril Ihza Mahendra. Hal ini diungkapkan oleh Ismail Yusanto juru bicara eks HTI pada hari Senin (7/5/2018) seusai sidang di PTUN Jakarta kepada wartawan yang dirilis di media detik[dot]com. “HTI mendukung PBB,” ucapnya.
Setidaknya, dalam pantauan penulis di berita-berita media mainstream, eks HTI bukanlah salah-satunya ormas radikal yang menyetakan mendukung Partai PBB, ormas lain yang memberi dukungan adalah FPI. Bahkan Habib Rizieq Shihab dan para pengikutnya secara terus menerus mengampayekan agar masyarakat memilih Partai PBB yang mereka sebut sebagai partai umat Islam bersama PKS, Gerindra dan PAN.
Apakah kemudian dengan dukungan eks HTI dan ormas FPI, partai PBB akan berubah menjadi partai radikal dan menjadi jembatan sebagai jalan untuk melanjutkan usaha-usaha dan cita-cita HTI untuk mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah?
Kita tau, bahwa eks HTI tidak akan berhenti sampai disini. Perlu sekali kita semua mewaspadai gerakan-gerakan anti-Pancasila eks HTI dalam bentuk, cara dan metode gaya baru. Salah satunya dengan cara masuk dan berada di dalam parlemen melalui partai peserta pemilu 2019, lalu kemudian dari dalam mereka merongrong Pancasila.
Peran penting pemerintah dalam membina, merangkul dan kembali menanamkan nilai-nilai ideologi Pancasila kepada eks anggota HTI sangat dibutuhkan, agar senantiasa mereka tetap berada dalam koridor-koridor hukum yang berlandaskan ideologi Pancasila dan UUD 45.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Friday, May 4, 2018

Pesan Dari Balik Jeruji, Ahok : Pilih Sahabat Saya (Djarot Sayful Hidayat di Pilgub Sumut 2018)

Ahok & Sahabatnya

Tidak terasa, kurang lebih separoh masa hukuman atas tuduhan penistaan agama sudah dijalani Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Selama itu pula Ahok tak pernah tampil lagi di depan publik, bahkan sekedar fotonya saja sejak saat itu sudah jarang menyebar di media. Oleh karena juga, para penggemar dan pendukungnya (Ahoker) semakin tak tahan menahan rindu.
Rindu melihat Ahok marah-marah sama penipu dan pengemplang APBD, rindu dengan kebijakannya, motivasinya dan tentu dengan aksinya dalam memimpin dan mengatur tata kelola pemerintan yang bersih, transparan dan professional.
Ahok sekarang bagi pendukungnya adalah sosok yang langka ditemukan Indonesia, beliau banyak menginspirasi para kaum muda melanial yang merindukan pemerintahan Indonesia yang lebih maju dan terutama tidak jauh dari praktek korup. Banyak yang menantikan kehadirannya.
Selain itu, dimata dunia Ahok adalah sosok yang diskriminasi dan sebagai korban perilaku intoleransi oleh para kaum radikal di Indonesia. Tekanan massa/politik memaksa Ahok sementara harus di asingkan dulu, demi keamanan Bangsa dan Negara, termasuk demi kelangsungan pemerintahan sahabatnya Presiden Joko Widodo. Ahok sadar betul, jika memaksakan diri tidak berterima dengan hukumannya, maka taruhannya adalah Jokowi dilengserkan dengan dalih berada dibelakang Ahok. Isu seperti ini sudah massive dibangun FPI dkk sejak semula melakukan demo berjilid menuntut Ahok segera dipenjara. Bahkan, waktu itu sempat terjadi drama isu kudeta yang berhasil diredam Jokowi dini hari sebelum aksi 212 berlangsung.
Berkorban untuk capaian yang lebih besar ternyata bukanlah hal yang sulit untuk dilaksanakan Ahok.
Meskipun Ahok terpenjara, namun masyarakat masih tetap memperbincangkannya, termasuk di media massa. Ternyata pengaruhnya juga masih besar. Sering sekali namanya dibawa-bawa dalam pilkada serentak tahun 2018 ini, baik untuk menggalang dukungan maupun untuk mendiskreditkan Cakada dan partai tertentu dengan framing “pendukung penista Agama” seperti halnya untuk PDI-P, Jokowi dan tak lain untuk Djarot Sayful Hidayat yang maju menjadi Cagub Gubernur Sumatera Utara 2018-2023 didukung koalisi partai PDI-P dan partai PPP.
Untuk tetap menyapa pendukung, Ahok melakukannya dengan cara yang unik, seperti halnya menuliskan pesan dengan tulisan tangannya sendiri serta tak lupa membubuhkan tanda-tangan. Hampir sama dengan itu, para pendukung juga masih rutin mengirim surat kepada Ahok, dan biasanya untuk surat-surat tertentu Ahok akan membalasnya.
Berada dibalik jeruji ternyata tidak membuat Ahok berhenti memberi perhatian untuk isu-isu politik, terkhusus agenda pilkada serentak tahun 2018 sekarang ini. Kelihatannya, semangat membangun bangsa ini masih tetap membara dihatinya meskipun dirinya telah menjadi korban ketidak adilan atas tuduhan “penistaan agama” oleh bangsanya sendiri.
Kegelisahan Ahok akan bangsa ini masih tetap terpelihara di hati dan pikirannya, terlihat jelas dalam isi pesannya kepada kita semua, “Ahokers sejati pasti tegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Tidak boleh golput, tetaplah pilih Ahok & sahabatnya. Salam BTP” yang disampaikan pada hari Jum’at (4/05/2018) dari Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
Siapakah sahabat-sahabat Ahok yang dimaksud?
Saya tidak ingin berpanjang lebar, dan tidak ingin memberi berasumsi berlebihan, yang pasti salah satu sahabat terdekatnya tidak lain adalah Djarot Sayful Hidayat. Kedekatan keduanya tak bisa didustakan lagi oleh siapapun, sepertihalnya juga kedekatan dengan Joko Widodo.
Djarot Sayful Hidayat adalah pasangan Ahok dalam memimpin Provinsi DKI Jakarta setelah Jokowi menjadi Presiden RI. Selanjutnya, Ahok bersama Djarot sama-sama bertarung dan berjuang memenangkan pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu, meskipun pada akhirnya harus kalah di putaran ke dua.
Berkaitan dengan pesan yang dituliskan Ahok, tentu kita masih mengingat bahwa Djarot Saful Hidayat juga sering sekali mendapat kampanye hitam selama pilkada DKI Jakarta, termasuk yang paling parah adalah penolakan dan pengusiran Djarot dari Mesjid dengan alasan karena mendukung Ahok sipenista agama.
Tak jauh beda dari saat ini, Djarot yang berjuang memperebutkan kursi Gubernur Provinsi Sumatera Utara bersama Cawagubnya Sihar Sitorus masih sering mendapat serangan kampanye negative, isunya tak jauh beda, yaitu masih tentang “pendukung penista agama” atau disebut sebagai calonnya partai “pendukung penista agama” yang tak lain adalah Ahok. Padahal dari sisi kualitas, Djarot adalah orang yang paling berkompeten dan berpengalaman sebagai bekal membangun Provinsi Sumatera Utara 5 tahun kedepan.
Seperti dalam pesannya, semangat Ahok bagiku sendiri adalah semangat menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan menuju pemerintahan yang bersih, transparan, profesional dan kepemimpinan yang Nasionalis.
Mari dukung dan menangkan sahabat Ahok, Djarot-Sihar (Djoss) yang bertarung di Pilkada Provinsi Sumatera Utara tahun 2018 nomor urut 2. Cukuplah sudah Ahok yang telah teruji kepemimpinannya disingkirkan dengan cara-cara yang tidak elegan, tidak bermoral dan tidak adil oleh para kaum intoleran dan radikal.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Mengenal Istilah "Prabocor" Ala Anak Medan

Maman Abdurahman (kanan)
Teman-teman, masih ingat kata "BOCOR" yang sangat populer sejak Pilpres tahun 2014?
Sepertinya kalian masih benar-benar ingat, walaupun mungkin hari ini kata itu sudah mulai lenyap dimakan isu-isu yang sekaligus membawa kata-kata atau istilah-istilah baru yang merujuk pada isu-isu politik baru yang sekarang dianggap lebih menguntungkan dari sisi nilai tawar untuk mendongrak popularitas si penyampai isu tersebut ke publik.
Kata "bocor" adalah kata yang paling populer dan paling sering diucapkan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang sekaligus sebagai Capres 2014 melawan Jokowi.
Mendekati momen Pilpres 2014 menjadi titik tolak kepopuleran kata "bocor", karena Prabowo sebagai sosok pendongkrak kata tersebut tak pernah lupa menyebutnya disetiap kali berpidato disaat melakukan roadshow ke daerah-daerah tempat beliau berkampanye. Boleh dibilang, kata "bocor" adalah kata kunci terpenting dalam isu-isu politik yang dilempar Prabowo ke publik melalui pidato-pidatonya, baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui spanduk, media sosial dan media audio-visual).
Singkatnya, bisa disimpulkan bahwa Prabowo tergerak dan termotivasi mencalon sebagai Capres tahun 2014 adalah untuk mendempul apa yang disebut sedang mengalami ke-"bocor"-an.
Apa saja yang dimaksud beliau sedang mengalami ke-"bocor"-an?
Banyak, antara lain yang paling populer adalah kebocoran APBN, kebocoran sumber daya alam Indonesia ke Asing, dll (silahkan diingat, bagi yang mau mengingatnya saja). Pokoknya, semua yang mengandung kritik terhadap pemerintahan sebelumnya (SBY) yang Prabowo sampaikan tak lupa didalamnya selalu terkandung kata "bocor" dan "bocor". Sebaliknya, ide-ide dan gagasan-gagasan yang beliau sampaikan ke publik juga tak lain adalah semata-mata hanya untuk mendempul kebocoran tersebut.
Bayangkan, segitu populernya kata "bocor" waktu itu. Sampai-sampai di kedai kopi yang sering ku kunjungi waktu itu, sedikit-sedikit terucap kata "bocor" dari teman-teman yang duduk di meja yang lain. Kopinya habis, penjualnya yang disalahkan, dibilang karena gelasnya yang bocor, padahal karena uang sudah tak sanggup lagi buat nambah segelas kopi lagi. Ngajak berantam namanya itu.
Yang paling parah, saat seorang teman dipanggil cewenya agar diantar ke kosan, ada aja yang melontarkan kata-kata nakal, "awas! jangan sampai lupa memakai anti-bocor".
Itulah sekilas kenanganku perihal tentang kata "bocor" bersama teman-teman sekumpulan di kedai kopi langganan kami. Mungkin kengan lain yang lebih berarti ada dibenak teman-teman diwaktu yang bersamaan.
Kepopuleran sosok tertentu oleh karena kata-kata, ide atau gagasannya adalah hal yang biasa terjadi di masyarakat kita, artinya mengidentikkan seseorang dan atau pengikutnya berdasarkan kata yang sering di ucapkannya.
Baru-baru ini, politikus muda Golkar, Bang Maman Abdurahman menyebut istilah "prabocor" untuk mengidentikkan lawan-lawan politik Jokowi yang menyerang.
"Para Prabocor sudah mulai kehabisan akal sehat dalam mencari argumentasi untuk membela tuannya. Sampai urusan racun kalajengking pun dipolitisir oleh mereka," kata Bang Maman kepada para wartawan, Jum'at (4/05/2018).
Itu artinya, "prabocor" yang dimaksud Bang Maman mengacu pada kelompok tertentu, apalagi ada kata "membela tuannya" disebutkan, itu memastikan bahwa "prabocor" mengacu pada kelompok pengikut tuan yang mempopulerkan kata "bocor" bukan?
Disisi lain, secara tata bahasa Indonesia, "prabocor" artinya situasi yang terjadi sesaat sebelum suatu benda (katakanlah balon, pipa, dll) mengalami kebocoran.
Di Medan, ada istilah "bocor" dalam arti lain, yang mungkin belum pernah kalian ketahui. Hayo... Ada yang tau? HaHaHa
Ilustrasinya begini : Jika ada teman atau orang yang di dekat kalian mulanya tenang, santai dan enjoy tiba-tiba teriak-teriak, menjerit, lari-lari dan guling-guling dilantai atau tiba-tiba mungut-mungut sampah disepanjang pinggir jalan (perilaku tidak normal), bisa dipastikan otaknya udah "bocor".
Hal yang tiba-tiba seperti diatas sering ditanggapi dengan kata-kata, "bocor kali kau", "udah bocor kurasa otak kau", dan atau "kayak orang bocor kau". Mengerti nggak kawan-kawan?
Jadi, orang Medan akan menyimpulkan "Prabocor" itu adalah mengacu pada kelompok simpatisan politikus tertentu yang berperilaku menyimpang sebelum saatnya benar-benar gila.
HaHaHaHa
Itulah bahanyanya kalau Anak Medan yang mengartikan istilah-istilah begitu.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Wednesday, May 2, 2018

Sama-sama Berbisa, Tapi Kalajengking Masih Lebih Berharga Dibanding Mulut Rocky Gerung!

Rocky Gerung dan Kalajengking
Makin kemari, mulut Rocky Gerung makin menjadi-jadi aja, konotasinya selalu negative terhadap pemerintah dan niat memprovokasi sangat jelas tercium, agar masyarakat membenci Joko Widodo.
Perlu diketahui oleh masyarakat, bahwa Racky Gerung adalah bukan seorang Profesor dan bukan juga seorang Dosen Pengajar UI. Jika kalian melihat postingan video dan gambar-gambar lama di dunia maya, yang di depan namanya tersemat Profesor (disingkat Prof.), itu adalah sebuah kebohongan publik, karena pihak Rektorat UI telah memberikan klarifikasi baru-baru ini setelah insiden “kitab suci fiksi” yang terlontar dari mulut Rocky Gerung di acara ILC bulan lalu, melalui humasnya, UI meyatakan belum pernah memberi gelar Profesor kepada Rocky Gerung sampai hari ini. Ntah karena beliau yang belum mampu memperoleh gelar Profesor karena persoalan pencapaian akademis di UI, atau memang pikirannya yang belum bisa disetarakan setingkat Profesor karena sama sekali tidak ada yang baru dan benar-benar murni dari pikirannya, alias semua yang terlontar dari mulutnya selama ini hanyalah pengulangan dari hasil pikiran orang lain saja (dalam bahasa kasarnya disebut plagiat/meniru).
Sejalan dengan pernyataan klarifikasi gelar Profesor Rocky, UI juga mengklarifikasi istilah “Dosen Pengajar UI” yang disematkan TV ONE pada  beliau di layar kaca televisi pada saat acara ILC, Humas UI mengatakan bahwa Rocky Gerung sejak lama tidak lagi mengajar di UI. Dalam hal ini, masyarakat juga pasti bertanya-tanya, “kok TV ONE tidak profesional bangat ya?” atau dengan pertanyaan lain, “apa mungkin Rocky Gerung yang dengan sengaja memberi istilah ‘Dosen Pengajar UI’ di biodatanya lalu diberikan ke tim ILC ya?”
Semakin dia banyak bicara, semakin banyak pula kebohongannya yang terungkap ke publik, tampaknya mulutnya penuh bisa-bisa kebohongan yang sangat berbahaya bagi mesyarakat awam. Atau, munkinkah kebohongan di atas sengaja dilakukan untuk menaikkan nilai tawar Rocky Gerung sebagai narasumber? Semua itu hanya bisa dijawab sendiri oleh Rocky.
Bukan hanya itu saja, yang paling berbahaya baru-baru ini yang dengan sengaja terlontar dari mulut Rocky Gerung tak lain adalah pernyataannya tentang “Kitab Suci adalah fiksi”. Beruntungnya Rocky, para kaum cingkrang dan kaum bumi datar merasa diuntungkan dengan mulut berbisanya yang selalu menyerang Jokowi, artinya antara Rocky dan kaum cingkrang beserta kawan-kawannya memiliki kesamaan, sama-sama membenci Jokowi. Entah itu sama secara murni, atau memang Rocky Gerung yang sudah sejak lama dipelihara oleh kaum cingkarang dan bumi datar tersebut melalui para junjungannya diatas? Biar waktu yang menjawabnya.
Berkaca pada kasus Ahok, seharusnya jika FPI, GPMF-MUI, FUI, dkk konsisten dalam prinsip yang mereka sebut “Membela Agama”, maka jelas, seharusnya karena pernyataan itu Rocky Gerung sudah jadi “tape” – dalam bahasa kami di Medan artinya mengacu pada “hancur lebur/berkeping-keping” – oleh karena ucapannya sendiri, karena “Kitab Suci” dalam KBBI mengacu pada Kitab Suci seluruh umat beragama (Islam “Al-Qur’an, Kristen “Alkitab”, dll), sedangkan “Fiksi” itu dalam KBBI artinya khayalan, tidak berdasarkan kenyataan atau bisa juga disimpulkan “bohong-bohongan” semata. Eh… Bung Rocky, apa maksudmu kesaksian para Nabi yang ada di Kitab Suci itu tidak berdasarkan kenyataan? Bohong-bohongan gitu?
Inilah bisa-bisa dan bau busuknya mulut Rocky Gerung! Dia tidak diserang oleh kaum cingkrang dan kaum bumi datar karena mereka-saat ini berada dalam kepentingan politik yang sama, apa itu? Semuanya hanya untuk menjatuhkan citra Jokowi dimata publik. Singkatnya, “Jika yang melontarkan penyataan adalah yang pro-Jokowi, atas nama Agama di serang! Tapi jika orangnya kontra-Jokowi, bahkan jika menghina Agama sekalipun, bela, selama mulutnya bisa dipakai untuk menjatuhkan Jokowi”, begitulah liciknya mereka. Tak ada rasa takut akan Tuhan lagi, karena semua telah dikuasai nafsu kekuasaan, ejakulasinya saat Jokowi benar-benar tersingkir dan mereka kemudian bebas mempermainkan praktek korupsi, mengangkangi hukum, diskriminasi dan menghancurkan bingkai NKRI yang sejak lama telah pendahulu kita perjuangkan, rawat dan jaga ini.
Kalau saat beretorika di ILC melontarkan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan Jokowi, Rocky terlihat garang sekali, giliran ditanya Bang Ruhut Sitompul percaya atau tidak sama Tuhan? Diam saja, menghindar, ciut dan tiba-tiba kebingungan dan tidak bisa menjawab. Aneh bukan?
Masih banyak yang ingin aku tuliskan disini, banyak hal yang harus dijelaskan dan diluruskan mengenai pernyataan-pernyataan dan ataupun tuduhan-tuduhan tak berdasar Rocky Gerung terhadap Jokowi, yang kuanggap akan sangat berbahaya bagi masyarakat awam, tapi takutnya kelen nanti bosan. Bersabarlah dulu membaca tulisanku kebawah ya… Baris-baris terakhir ini hanya lucu-lucuan saja, tapi hal ini akan membuktikan bahwa pemikiran Rocky Gerung itu kolot sekali, sempit, sangat primitive dan terbelakang!
Yang ingin aku sampaikan diakhir tulisan ini adalah berkaitan tentang pernyataan Rocky yang dilontalan sesaat setelah selesai menjadi pebicara di acara DPP PKS, kapasitasnya sebagai pengamat politik (udah dapat gelar lagi aja wak, setelah bukan lagi “Dosen Pengajar UI” dan “Profesor”, hahaha…) berkaitan dengan tanggapannya atas pidato “kalajengking” Jokowi di Istana baru-baru ini.
Kelen tau? Katanya si uwak Rocky Gerung, kalajengking nggak mau diternakin, alasannya karena kalajengking itu hdup beradaptasi langsung dengan alam, jadi nggak cocok buat diternakin.
Hallowww…??? Emang udah pernah ditanya sendiri sama kalajengkingnya wak, mau atau tidak diternakin? Dan, emang ada mahluk hudup di dunia ini yang tidak beradaptasi langsung dengan alamnya? Heran kali aku…
Kau bilang lagi nggak bisa diternakin? Heiii… Dijaman modern ini, apalagi yang nggak bisa diternakin? Apa lagi yang nggak bisa di budidayakan? Apalagi di Indoneisa, mahluk halus “pocong, genderuwo, hantu perawan, dll” aja dipelihara noh, lihat di tipi-tipi Hary Tanoe. Hahaha…
Biar tau ya wak… Dikampung kami aja, ada orang yang biasa bermain-main dengan kalajengking, nggak percaya? Akupun takut melihatnya pertama,  dan penasaran bagaimana caranya biar bisa dipegang-pegang dan dimain-mainkan sesuka hati tanpa kena cotok sama ekornya yang berbisa itu. Dari situ, dan setelah berbincang dengan ahlinya, katanya kalajengkingnya mau kok di pelihara. Hahaha… Nggak percaya? Kau cari sendiri sana pawangnya.
Membaca dong wak, ikuti perkembangan jaman dan teknologi! Jangan asal bunyi, bau nafas dan bisa mulutmu tercium sampai keseantero tanah air ini. Orang filsafat harusnya tidak begitu cara pikirnya, karena filsafat itu harusnya membuat orang lebih bijaksana dan berfikir semakin maju, bukan malah nge-hoax, kolot/primitive dan penuh rasa benci terhadap individu tertentu.
Udah jadi kayak inang-inang na jabiron (emak-emak cerewet) aku sanking geramnya melihat si “fiksi” Rocky Gerung ini.
Sampai disinilah dulu ya… Udah naik darah militerku melihat kebodohan-kebodohan yang dilontarkan uwak kita yang satu ini.
Yang mau cepat kaya, beternak kalajengking-lah, atau kau ke hutan-hutan sana menangkapi kalajengking yang tersesat. Tapi jangan lupa, jangan kau pegang-pegang dan main-mainkan ekornya sebelum kau pastikan minta tif dari saya ya… Kalau berhasil kau nanti, kau harus bagi hasil penjualanmu samaku 50-50, tapi kalau kau mati karena digigit, jangan kau salahkan Jokowi hanya karena aku pendukung Jokowi 2 Periode! Salahkan dirimu, kenapa juga kau sok jago megang-megang kalajengking tanpa peralatan yang aman.
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !

Monday, April 30, 2018

Ruhut Sitompul Ganti Kulit Lagi, Udah Kayak “Ular” Aja

Ruhut Sitompul Bersama Para Inang-Inang di Sumut

Si Poltak Raja minyak dari Medan dan idola ibu-ibu tahun 90-an ini tak pernah gagal mencari perhatian publik, dari dulu sampai sekarang, dari bintang film sampai jadi politikus kakap, tetap saja tak pernah sepi dari perbincangan masyarakat.
Setelah mengundurkan diri dari kepengurusan Demokrat dan DPR-RI, kupikir abang ini akan istirahat dari dunia politik, eh… Tak taunya makin ganas! Seperti kata orang, “makin tua, makin jadi” HeHeHe
Begitulah si Poltak, dengan gaya bicara khas anak dan blak-blakan serta totalitas  “hancur demi kawan” kata anak Medan. Konsistensinya dalam bersikap tak perlu diragukan. Era SBY beliau total, era Jokowi juga total. Semua tindakannya sejalan dengan sikap politik yang diungkapkannya ke public.
Melompat ke pihak Jokowi baginya bukan tanpa konsekuensi, beliau harus rela baju “politik biru”-nya dilucuti dan mundur dari kursi empuk pimpinan DPR-RI yang oleh sebagian banyak politikus, salah satunya papa Setya Novanto rela “stel gilak” untuk mempertahankannya.
Kita masih ingat betul, awal mula sikap berbeda bang Ruhut Sitompul dimulai dari Pilpres 2014, waktu itu Partai Demokrat menyatakan sikap netral, dengan tegas dan pasti bang Ruhut Sitompul membentuk Relawan untuk memenangkan Jokowi-JK. Hanya segelintir kader PD yang mendukung Jokowi-JK saat itu, salah satunya yang paling getol adalah Bang Ruhut Sitompul, selebihnya mendukung Prabowo-Hatta Rajasa.
Kali kedua sikap politiknya berbeda dari PD dan yang paling kontraversial adalah saat Pilkada DKI Jakarta 2017, beliau mendukung Ahok-Djarot sekalipun yang diusung PD adalah anak mahkota SBY, yaitu AHY. Saat itu juga Bang Ruhut disingkirkan dari kepengurusan PD dan mengundurkan diri dari DPR. Setelah itu, beliau semakin leluasa mendukung Ahok sebagai Juru bicara. Ahok adalah calon yang didukung PDI-P dan beberapa partai lain.
Dari kedua sikap di atas, saya menyimpulkan bahwa naluri politik beliau baik, ditambah lagi track rekordnya yang tidak pernah tersandung korupsi selama di DPR-RI hingga menjadi politikus penting di era 10 tahun SBY berkuasa. Banyak orang-orang PD yang sudah jeblos ke penjara, tapi beliau benar-benar clear, itulah mengapa saya semakin tertarik melihat jejak politiknya.
Sikap terakhir adalah, beliau secara resmi telah bergabung ke PDI-P, hal itu dinyatakan saat beliau tampil berbaju “merah” berlogo “banteng moncong putih” pada kampanye akbar Cagub-Cawagub Sumut Nomor 2 Djarot-Sihar (DJOSS) di Asahan kemarin. Ini penampilan pertama beliau dengan baju PDI-P di hadapan public, dan pada hari yang sama beliau membenarkan telah resmi menjadi kader PDI-P, kepada media beliau sampaikan dengan tegas dan tanpa keraguan, “iya benar, aku sudah masuk PDI-P. Apa salahnya aku bergabung dengan PDI-P”.
Ada banyak orang yang menilai beliau ini sebagai “kutu loncat” atau “ular politk” karena selalu pindah kepartai penguasa. Tapi bagiku beliau ini benar-benar seorang politikus sejati yang baik, karena meski selalu berada di partai berkuasa (dulu Golkar, Partai Demokrat dan sekarang PDI-P), beliau tak pernah korupsi. Itu terbukti hingga sekarang.
Melihat kenyataan bahwa kehadiran dan peran Bang Ruhut Sitompul dalam politik kita masih didambakan sebagaian banyak orang, khususnya Ibu-ibu pemirsa sinetron Gerhana di era 90-an dan terkhusus lagi masyarakat Sumatera Utara, sudah tepat langkah beliau tetap berpolitik dan masuk PDI-P, agar 2019 bisa lebih leluasa membantu pemenangan Jokowi periode kedua dan membantu pemerintahannya, baik jadi DPR-RI lagi maupun menjadi Menteri atau menjadi kepala di kelembagaan setingkat kementerian lainnya.
Jangan anggap remeh sama si Poltak Raja Minyak dari Medan, namanya masih terukir dihati para Ibu-ibu penggemarnya hingga sekarang. Lihat saja nanti kalau beliau mencalon DPR-RI lagi, pasti menang. Eh… Targetnya mau jadi Menteri Jokowi ternyata!
Bergonta-ganti kulit “politik” yang dipraktekkan Bang Ruhut Sitompul menurutku adalah hal yang perlu ditiru, apalagi dengan karakternya yang tidak korup. Ada banyak politikus yang bertahan pada partai tertentu hanya karena kedudukan, kekuasaan dan yang terakhir karena takut kasus korupsinya dibongkar oleh teman serumah “partai”, dan kenyataan berpindah partai itu artinya akan mati karir politik lebih menakutkan bagi politikus yang tidak punya kualitas. Kualitas yang seperti apa? Yah… Dalam istilah populer disebut, “emas dibuang kemana aja tetap akan menjadi emas”, tak peduli mau pake baju warna kuning, biru dan atau yang merah, yang penting masih tetap dicintai masyarakat, itu baru politikus sejati.
Ular sih ular, tapi kenapa tidak kalau untuk membisai para koruptor?
Salam sada roha dari Anak Medan.
h o r a s !